useful


Sexual Leisure Market
December 21, 2007, 1:29 pm
Filed under: news of business

Menjadi researcher professional memang cita-cita saya sejak masih kuliah. Pada saat sudah bekerja sebagai researcher di beberapa tempat, kawan-kawan saya selalu menjadikan saya sebagai narasumber untuk informasi mengenai pasar atau konsumen. Itu bukan hal yang terlalu istimewa karena memang itulah yang saya kerjakan sehari-hari.
Yang agak luar biasa adalah beberapa teman yang menjadikan saya sebagai pusat informasi mengenai beberapa tempat (maaf) prostitusi di sekitar kota Jakarta. Apa pasal? Bukan karena saya adalah pelanggan tetap tempat-tempat tersebut, tetapi karena saya dan kolega yang lain telah beberapa kali melakukan survei di lokasi-lokasi yang tergolong lokasi Red Light Area (RLA), atau lokasi di mana banyak dijajakan prostitusi.
Saya rasa kita sepakat untuk tidak membahas untuk apa mereka menginginkan data tersebut. Red light area memang erat hubungannya dengan praktek hubungan seks. Di dalam atau sekitar RLA, kita akan dengan mudah menemukan produk-produk penunjang aktivitas seks dan bersenang-senang sesaat. Salah satu produk yang sangat mudah ditemui di lokasi RLA adalah kondom.
Akhir-akhir ini kondom memang sedang naik daun. Bukan karena kondom sering diundang manggung di mana-mana seperti band rock, tetapi kampanye anti HIV/ AIDS yang salah satu isinya adalah pesan penggunaan kondom memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam mempopulerkan kondom. Pada masa awalnya, kampanye penggunaan kondom di Indonesia difokuskan sebagai alat kontrasepsi penunjang program keluarga berencana (KB).
Masih ingat dengan iklan KB versi “Ya,Ya,Ya” di tahun 90′an? Itu adalah salah satu materi komunikasi yang memposisikan kondom sebagai alat kontrasepsi KB. Segmen penggunanya pun terfokus kepada pasangan suami istri yang ingin merencanakan kehamilan. Nah, Sejak orang sedunia heboh karena AIDS, kondom diikutsertakan sebagai salah satu materi kampanye untuk melidungi diri, tidak saja dari kehamilan yang tidak diinginkan tetapi juga dari virus HIV.
Dari sini target konsumen meluas, tidak hanya kepada pasangan suami istri. Tetapi juga kepada orang yang belum menikah, tetapi aktif secara sexual, dan juga kepada konsumen PSK atau pelaku hubungan seks bebas. Dari consumer insight yang kami lakukan, menarik untuk disimak terdapat resistensi peggunaan kondom yang cukup kuat di pasangan menikah. Karena kondom dianggap menghalangi kenikmatan hubungan suami istri yang telah dijamin halal. Tipe pasangan seperti ini lebih memilih alat kontrasepsi lain bila ingin merencanakan kehamilan.
Sebaliknya, kesadaran akan penggunaan kondom dikalangan konsumen dan pelaku bisnis prostitusi saat ini cenderung meningkat. Disekitar lokasi RLA saat ini sangat mudah untuk mendapatkan kondom di warung-warung kecil, dengan harga bervariasi antara Rp1.000 sampai dengan Rp3.000. Tampaknya strategi komunikasi kondom mengenai bahaya HIV dan penyakit kelamin ditunjang dengan distribusi yang masuk hingga ke tingkat warung mendapatkan respons positif dari pasar.
Di luar definisi moral, meluasnya segmen penggunaan kondom dapat menjadi indikator perubahan perilaku aktivitas seks di tengah masyarakat. Pemasaran kondom telah berubah dari yang sifatnya sangat generik menjadi sangat segmented. Positioning kondom juga berubah, dari merencanakan (dan mencegah kehamilan) sampai untuk melindungi kesehatan. Mungkin di masa yang akan datang kondom akan diposisikan sebagai produk penambah kenikmatan berhubungan intim, sebagai attachment untuk menghubungkan kognisi konsumen yang sadar akan pentingnya merencanakan kehamilan dengan tidak mengurangi kenikmatan saat melakukan hubungan sexual. Karena saat ini, hal itulah pemicu resistensi utama terhadap kondom.


No Comments Yet so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>