useful


Coco Vandeweghe: Manja dan Murah Senyum
September 14, 2008, 9:25 am
Filed under: news of sport style

INI dia petenis tunggal putri termuda di ajang bergengsi turnamen tenis Grand Slam AS Terbuka. Namanya memang masih sangat asing bagi penggemar tenis di Indonesia, Coco Vandeweghe.
Namun nama di atas sudah tidak aneh lagi di mata penggila tenis negeri Paman Sam. Dia lah petenis yang diharapkan bisa meneruskan kejayaan Serena Williams untuk menjadi juara AS Terbuka dalam tahun-tahun depan.
Meski baru berusia 16 tahun, namun Coco Vandeweghe sudah mampu mencuri perhatian berkat fasiltias wild card yang didapatnya dari pantiia AS Terbuka. Fasilitas ini tentu bukan sembarangan, karena hanya petenis berpotensi dan berprestasilah yang bisa mendapat jatah istimewa ini.
Debutnya memang tak berujung manis karena harus takluk di tangan sang finalis, Jelena Jankovic straight set 6-3,6-1. Namun tetap saja aksinya menyulut perhatian besar karena baru kali inilah ada petenis debutan yang langsung bermain di lapangan utama kompleks Flushing Meadows.
Di luar itu, Coco Vandeweghe meninggalkan gaya khas untuk masyarakat AS, apalagi kalau bukan sikap lucunya di lapangan dan senyuman yang terus mengembang selama pertandingan, apapun hasilnya ia tetap tersenyum.
“Entah kenapa aku memang selalu seperti itu, seolah mengejek tapi sebenarnya itulah diriku apa adanya. Mungkin karena aku bermain tanpa beban dengan usiaku yang baru 16 tahun, tapi memang nikmat jika kita bekerja keras sembari tersenyum,”ungkap Coco, di NY Times, Senin (8/9).
Petenis kelahiran 6 Desember ini juga masih memiliki sifat layaknya anak remaja lainnya, yakni harus selalu didampingi orang tua kala bertanding. Bahkan untuk urusan yang satu ini, orang tua Coco harus rela sering terbang ke sana kemari hanya untuk mengikuti pertandingan Coco. “Aku tidak tenang kalau tidak ada satu di antara mereka, rasanya sangat damai. Saat kalah aku bisa langsung nyaman dalam dekapannya, saat menang rona bangga langsung bisa terlihat. Sangat berarti daripada hanya suara di telpon,”ungkap Coco, yang mengaku tetap akan terus berlaku manja sampai usianya menginjak 21 tahun.  (persda network/bud)

Minta Kaos Jelena Jankovic
DASAR masih muda, bertemu pemain favoritnya tidak disia-siakan begitu saja. Coco Vandeweghe membuktikan itu usai kalah dari runner up tunggal putri AS Terbuka Jelena Jankovic.
Saat harus tunduk di babak pertama AS Terbuka dan bermain di stadion utama Arthur Ashe, usai pertandingan yang berakhir 6-3,6-1 tersebut tanpa sungkan Coco Vandeweghe meminta kaos petenis asal Australia tersebut. Beruntung Jelena mau membeirkan dua kaos dan satu topi.
“Aku memang memintanya karena dia sungguh petenis luar biasa, aku sangat senang dan setelah itu aku berlari ke arah mama dan papa, seraya berkat ‘aku mendapatkannya’, dan itu mengubah wajahku kembali gembira,”sebut Coco Vandeweghe.
Ia pun mengaku banyak belajar dari pertarungannya melawan petenis peringkat 2 dunia tersebut. “Aku ingin menyempurnakan teknik forehand, dan itu aku dapat dari cara memukulnya, saat ini aku masih muda dan berharap dua tahun lagi bisa berbicara banyak di AS Terbuka,”cetus remaja yang juga keponakan General Manager Denver Nuggets, sebuah klub basket peserta kompetisi NBA, Kiki Vandeweghe.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: