useful


Robinho: Sang Kontroversi
September 14, 2008, 9:33 am
Filed under: news of football

NASIB seseorang memang bisa berubah hanya dalam beberapa saat. Robson de Souza baru saja mengalami hall yang berada di luar perkiraan semua orang, terutama penikmat sepakbola. Tidak Real Madrid, tidak juga Manchester City. Bahkan si empunya objek, Robinho, justru tidak tahu-menahu tentang deal ‘raksasa’ yang terjadi di batas akhir transfer window I akhir Agustus 2008 lalu. Hanya dalam kurun waktu kurang 24 jam, Robinho pun ‘sukses’ berganti kostum dan nasib. Lingkup kontroversi pun menyertai pemain muda andalan Brasil ini.
Kini sebagian pers di Eropa menyebut Robinho sebagai Sang Kontroversi. Bagaimana tidak, sejak kepindahannya dari klub Santos Brasil, ia  selalu didera kontroversi yang juga mengganggu karirnya. Tidak hanya dalam urusan dalam lapangan, ia pun kadang berulah di luar lapangan.
Awal kontroversi sudah terjadi kala ia dibajak Real Madrid dari Santos. Kala itu Los Galacticos memang tengah menjalankan proyek untuk mengumpulkan para bintang sepakbola dunia guna menjalankan ambisi menjadi yang terbaik di Spanyol dan Eropa. Saat itu sebenarnya pihak Santos sudah bersikeras untuk menjaga aset pentingnya. Namun ternyata Real Madrid bersedia untuk membayar klausul kontrak buy out Robinho. Pemuda kelahiran Sao Vicente ini pun sukses melengggang ke ibukota Spanyol tersebut dengan harga 24 juta euro.
Tidak berlangsung lama, kedatangannya ke Les Merengues pun menemui kontroversi. Ekspektasi publik yang begitu tinggi memang sempat membuncah tatkala ia memiliki penampilan apik di awal musim. Sayang, ia tak memiliki konsistensi akibat mendadak menjadi orang kaya. Tingkah nyleneh dan emosional pun kerap menjadi bahan perguncingan sepanjang karirnya di Real Madrid. Puncaknya tatkala ia ditempatkan di sisi sayap, pos yang sebenarnya bukan keinginan Robinho yang memiliki kemampuan sebagai second striker. Alhasil, ia pun sering terlempar dari tim utama dan bahkan beberapa kali melayangkan protes.
Beruntung kala Real Madrid ditangani Bernd Schuster semuanya sedikit berubah. Pesepakbola berusia 24 tahun ini sukses menjadi satu kunci utama raihan prestasi Madrid dalam menggapai gelar La Liga. Sayang, langkah itu seperti sudah terlambat. Kontroversi pun kembali mencuat kala Robinho berhasil dibajak Manchester City dengan nilai transfer fantastis untuk pemain yang tengah meredup, 40,5 juta euro!.
Kembali kontroversi membingkai dalam proses transfer, pasalnya The Citizens dianggap melangkahi pihak manajemen dalam mendekati Robinho di luar jalur resmi. Tidak hanya itu, Chelsea yang menjadi pemburu utama Robinho pun merasa ditelikung dengan tidak fair. Alhasil ini sempat menjadikan pelatih The Blues, Luiz Felipe Scolari sangat berang.
“Ia pemain bagus dan sangat berkualitas, tetap perlu penangangan intens. Skill-nya khas Brasil, luar biasa, kemampuan lari, keeping ball dan pantang menyerah sangat menonjol, sayang emosinya sangat labil. Itu yang harus dimengerti siapapun pelatih yang menanganinya, jika berhasil mengatasi itu semua, Robinho bisa menjadi senjata andalan yang sangat luar biasa,”tutur Schuster, yang memang pernah merasakan betapa manjurnya permainan Robinho.
Jika Madrid dan fansnya sedih, tidak dengan Manchester City, yang menyambut kehadiran Robinho dengan sukacita. Mark Hughes pun tak ragu untuk memasukkannya ke dalam skema besar pembentukan tim Manchester City untuk 2 tahun ke depan.
“Dia sudah menjadi bagian penting kerangka tim, kami tinggal menunggu pemain yang bisa mendukung kinerjanya. Dia sudah komplet, dan permainan fisik nan cepat ala Inggris bakal menjadi tantangan adaptasi baginya, tapi kami percaya semuanya bakal berjalan lancar,”sebut Hughes.
Kedatangan Robinho memang cukup ajaib bagi Manchester City. Kini klub sekota Manchester United itu pun mendadak menjulang namanya dan menjadi kompetitor serius bagi Red Devils, Arsenal, Liverpool dan Chelsea, untuk berebut gelar Premiership.
“Kehadiran Robinho jelas menjadi satu momok baru karena corak permainannya belum banyak diketahui bek-bek di Inggris. Kami pun bakal merasakan hal yang sama kala bertemu dengannya nanti. Dia sangat mumpuni dan kini semakin dewasa, sebuah perpaduan antara kedewasaan dan skill hebat biasanya menghadirkan mimpi buruk bagi setiap lawannya, termasuk kami satu di antaranya,”sebut Luiz Felipe Scolari, yang timnya akan bertemu dengan klub baru Robinho minggu ini.
Robinho sendiri mengaku tidak ambil pusing dengan sttus kontroversi yang selalu mengiringi langkah karir sepakbolanya. Baginya, seiring berjalannya waktu, dunia akan semakin tahu siapa sebenarnya sosok Robinho. “Aku sadar mungkin aku terlalu sering berulah selama 3 tahun karirku di Eropa, tapi itu bakal tertutup dengan semakin bijaknya aku dalam bermain, dan ini akan kutunjukkan di Manchester City, sebuah klub dengan ambisi besar,”tegas Robinho.  (persda network/bud)


Nama: Robson “Robinho” de Souza

Lahir: Sao Vicente, 25 Januari 1984
Tinggi: 175 cm
Tahun            Klub                Tampil/gol
2002-2005            Santos            104/44
2005-2008            Real Madrid            101/25
2008-             Manchester City        –
2003-             Brazil             57/18

Gerlar:
-La Liga 2006/2007, 2007/2008 (Real Madrid)
-Runner-up: La Liga 2005/2006 (Real Madrid)
-Piala Super Spanyol 2008 (Real Madrid)
-Runner up Piala Super Spanyol 2007 (Real Madrid)
-Campeonato Brasileiro 2002, 2004 (Santos)
-Bola de Ouro 2004
-Piala Konfederansi FIFA 2005 (Brasil)
-Copa America 2007 (Brasil)

Nyaris Seperti Pele
ROBINHO seperti terlahir untuk menjadi seorang pemain bintang. Hal tersebut seperti sudah menjadi garis tangan tatkala baru berumur 18 tahun ia sudah masuk dalam tim intin klub hebat Brasil, Santos. Tak perlu beradaptasi lama, Robinho remaja pun mendadak menjadi tokoh penting di bali kesuksesan Santos kala itu.
Tak heran jika nama pemuda berkulit gelap tersebut langsung ikut terangkat dan menghiasi media massa Brasil sebagai pemain muda harapan timnas Brasil. Bahkan pelatih timnas kala itu, Luiz Felipe Scolari sudah menyebut jika Robinho sudah mulai bisa disejajarkan dengan legenda hidup sepakbola Brasil, Pele.
Nasihat bijak pun keluar dari mulut para pemerhati sepakbola Brasil. Adalah Zico yang pertama kali mengungkapkan kalau Robinho remaja harus segera keluar dari tanah kelahirannya. Jika tidak, nasib seperti Pele bakal menghantuinya. Ya, Pele memang menjadi nama besar di jagad sepakbola, namun itu hanya di tingkat klub lokal dan Piala Dunia, bukan aktualisasi diri untuk bermain di level kompetisi seketat liga-liga Eropa.
“Dia harus pergi karena dia memiliki potensi, dan ke Eropa untuk sepakbola modern masa sekarang adalah langkah paling tepat, karena di sana bisa dibuktikan sampai seberapa jauh kekuatan fisik dan mental seorang pemain, kalau zaman dulu mungkin bisa hanya di tingkat lokal, tapi kini semuanya sudah berubah dan ajang aktualisasi diri ke khalayak dunia adalah nomor satu, jalannya hanya satu:main di kompetisi negara Eropa,”ujar Zico kala itu.
Ucapan Zico seperti magnet buat Robinho, yang akhirnya merayu pengurus klub Santos untuk melepasnya ke Real Madrid, klub yang paling bernafsu memburunya selain Arsenal, Barcelona, Atletico Madrid dan AC Milan. Kini, langkah tersebut menjadi satu kunci dalam karir Robinho, meski dalam perjalanannya selalu dibumbui hal-hal berbau kontroversi.  (persda network/bud)


Tak Bisa Jauh dari Sang Ibu

DIBALIK kelincahannya di lapangan hijau, sosok Robinho ternyata tidak segarang yang diperkirakan orang. Ia termasuk anak baik, terutama di lingkup keluarga. Meski sudah memiliki penghasilan sendiri, ia terkenal masih memiliki sifat manja terhadap sang ibu, Marina de Silva Souza. Tak heran jika setelah kasus penyanderaan sang ibu tatkala ia pindah ke Madrid, ia pun tak tega meninggalkan sang ibu sendirian.
Walhasil, Robinho pun selalu menginginkan sang ibu untuk berada di dekatnya, termasuk kala ia pindah ke Manchester City, anak-ibu ini sibuk mencari apartemen dan rumah sebagai tempat berkumpul bersama.
“Aku ingin ibuku hidup nyaman, dan penderitaan masa lalu sepertinya sudah cukup, jadi kini segala yang kumiliki dan kuraih hanya untuk ibu dan saudara- saudaraku,”ungkap Robinho.  (persda network/bud)

Sobat Diego-Marcelo

KALAU sudah jodoh tak akan kemana. Pepatah itu disadari betul oleh Robinho. Bagaimana tidak, setelah berpisah cukup lama, ia bisa bertemu kembali dengan dua sobat kentalnya semasa masih berkarir di klub futsal di kawasan Beira Mar, Diego dan Marcelo.
Diego yang pertama adalah playmaker andalaan Werder Bremen, sedangkan Marcelo adalah bek andalan timnas U-23 Brasil yang bertemu kembali dengan Robinho di Real Madrid. Mereka bertiga sudah saling kenal kala menjadi teman satu klub di Associaçao Atlética dos Portuários, asuhan pelatih Betinho.
Kala itu Robinho bisa menjadi sangat subur, mencetak 73 gol di satu musim, dengan bantuan Diego dan Marcelo. Mereka terkenal dengan trio maut yang memiliki kemampuan komplet.
“Mereka berdua adalah sobat-sobatku, lama tak bertemu sejak aku pindah ke Eropa, kini semuanya sudah berubah dan aku bersyukur bisa bertemu mereka kembali, kini aku berencana untuk mengumpulkan semuanya,”ucap Robinho, yang di Manchester City langsung nyetel dengan Jo dan Elano.
“Robinho adalah sosok periang yang menyenangkan, beda denganku yang serius, tapi kami selalu ingat masa lalu tatkala kami berjuang bersama. Kini terasa nikmat saat semuanya tengah berada di puncak,”ujar Marcelo, yang memang tak menyangka bisa bertemu kembali dengan Robinho, satu tim lagi musim lalu.  (persda network/mbud)

!4 Momen Tak Terlupakan
DALAM perjalanan karir Robinho ada momen-momen yang membuat pemain berpostus 175 cm ini tidak akan melupakan peristiwa penting tersebut. Di situs pribadinya, tercatat ada 14 momen yang bakal selalu dikenang sepanjang hidupnya.
Berikut momen-momen itu:
Tahun    Hal
1999         Tekad menjadi pemain sepakbola
2002         Debut pertamanya di lapangan hijau
2002         Gol pertama tim senior
2002         Musim pertama
2003         Pertama kali dipanggil dan masuk tim inti penuh
2003         Debut timnas Brasil di Piala Emas melawan Meksiko
2004         Juara Brasil
2005         Juara Piala Konfederasi
2005         Pindah ke Real Madrid
2005         Debut bersama Real Madrid
2005         Gol pertama di Real Madrid, ve Athletic Bilbao 23 September 2005.
2006         Piala Dunia 2006
2007         Skuad reguler di timnas Brasil
2007         Mencetak 6 gol di Piala Amerika   (persda network/bud)

Terima Kasih Celso!
DI lingkup sepakbola, ada banyak nama yang telah berjasa membesarkan nama Robinho, mulai dari sang ibu sampai legenda Brasil, Pele. Namun khusus untuk teknis sepakbola, Robinho hanya punya satu nama yang membuatnya merasa sangat berhutang budi. Siapa lagi kalau bukan Celso Roth. Nama ini mungkin pernah akrab di telinga penggemar sepakbola Indonesia. Pasalnya, Celso Roth pernah menukangi timnas Indonesia periode 1900-1991.
Robinho patut berterima kasih pada sosok pria yang kini berusia 50 tahun dan tengah menukangi Gremio Brasil. Pasalnya, berkat Celso-lah ia mampu merasakan atmoster kompetisi yang sesungguhnya. Yup, di tahun 2002 itu Santos memang berada di bawah kepelatihan Celso Roth. Melihat bakat luar biasa Robinho, ia pun tak segan memasukkan nama pemuda keling itu ke daftar skuad dan menjalani debut kala Santos menang 2-0 atas Guarani di Kejuaraan Rio-Sao Paulo.
“Dia sosok luar biasa, dialah yang memberi kesempatan padaku untuk melakukan debut, sebuah momen yang sangat menggetarkan hati. Itu adalah impian setiap pemuda untuk berbaju Santos. Aku tak akan pernah melupakan Celso,”tegas Robinho.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: