useful


Umi Semakin Rajin Masak Nasi Sumsum
November 4, 2008, 2:52 am
Filed under: news around Indonesia

Embay Badriyah atau kerap disapa Umi, ibunda Abdul Aziz alias Imam Samudera hanya mengumbar senyum begitu kru Persda Network masuk ke dalam rumahnya, Senin (3/11). Umi, kemudian mempersilakan duduk dan meminta putra bungsunya Dedi Chaidir menemani. Umi masuk ke kamar melanjutkan salatnya.
Dedi kemudian berbisik, kalau Umi sudah tak banyak berbicara. “Sekarang-sekarang ini, Umi lebih banyak diam. Umi sudah enggan berbicara lagi. Apalagi kepada tamu-tamu,” kata Dedi.
Umi ternyata sudah tahu wartawan akan datang. Lalu dia menetapkan tempat bertemu adalah di rumhanya di Desa Lopang Gede, kemarin setelah salat Ashar. Dari semua wartawan yang sejak beberapa hari lalu berada di Serang, termasuk wartawan setempat, hanya kru Persda Netowrk yang diperkenankan masuk ke kediaman mereka.
Saat Umi menggelar jumpa pers, Minggu (2/11) kemarin, wartawan hanya diperbolehkan berada di teras rumah, tidak boleh masuk. Pada Minggu kemarin, sebelum kembali bertemu dengan wartawan, Umi sempat menggelar rapat keluarga untuk memutuskan, apakah bisa ikut ke LP Nusakambangan. Saat rapat internal keluarga itu pun, pewarta foto Persda Network diberi kesempatan mengabadikan gambarnya.
Kermarin sore, sebelum masuk ke kamar tidurnya, Umi sempat menengok ke arah potret yang terpampang besar di ruang tamu. Foto itu dicetak dalam digital printing pada bahan frontlite, ukuran kira-kira 50 X 100 cm. Terkait potret itu, Dedi menjelaskan, diambil pada saat keluarga berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Dalam foto itu, Imam Samudera terlihat mencium tangan Umi, ibundanya.
Hanya foto yang terpampang di ruang tamu yang berukuran tak terlalu besar. Tak ada lagi yang bisa terlihat, terkait dengan Imam Samudera. Album foto keluarga, termasuk foto kecil Imam Samudera juga tak ada sama sekali.
Kru Persda Network tidak duduk di bangku melainkan akan tetapi pada tikar yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tak lama kemudian, disuguhui nasi sumsum buatan Umi, yakni nasi biasa yang dibungkus daun pisang seperti halnya makanan otak-otak. Di dalamnya terbungkus sumsum dari tulang belulang api, lalu bungkusan dibakar dan tersajilah penganan seperti lumpia basah yang disantap dengan bumbu kacang. Rasanya lezat, mendekati nasi goreng.
Dedi kemudian bercerita, kalau sumsum itu adalah makanan kesukaan Abdul Azis atau Imam Samudera. Dedi menuturkan lagi, belakangan Umi kerap menghidangkan segala macam makanan yang selama ini menjadi kesukaan Imam Samudera. “Nasi sumsum ini makanan kesukaan kang Azis,” kata Dedi.
Nasi sumsum buatan Umi, ternyata sudah sejak dulu dikenal oleh warga sekitar. Nasi sumsum dibuat dengan cara dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar sebelum disantap. Nasi khas Serang ini diramu dengan bumbu masak yang khas dan saat disantap, terasa sekali minyaknya. Dinamakan nasi sumsum karena didalamnya, dibumbui sumsum tulang sapi.
Tak lama, dua menantu Umi datang dan ikut bersantap bersama. Mereka kemudian meminta pada kami untuk tidak berbicara rencana eksekusi Abdul Azis. Terlebih, Umi sudah merasa lelah mendengar kabar itu, termasuk kabar yang disampaikan melalui siaran televisi.
“Umi sudah menolak semua wartawan yang meminta untuk wawancara khusus. Kepada siapapun. Beruntung Anda dipersilahkan masuk dan dihidangkan nasi sumsum. Kalau tamu yang baru atau tak dikenal, hanya disambut di depan saja.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: