useful


Say NO to DRUGS!!!
November 11, 2008, 7:27 am
Filed under: news of family&lifestyle

Mending Nabung, daripada Nge-Drugs
Menunggu Maut yang Tak Terasa
-sebuah testimoni bahaya laten narkoba


SORE itu wajah Nonda sangat pucat pasi. Keringat bercucuran di mana-mana. Sembari sesekali memegangi ujung nadi siku, ia pun setengah berteriak merasakan hawa tak menentu yang merasuk di tubuhnya. Kejadian itu sangat mendadak dan terjadi di kamar kos Nanda. Tak butuh waktu lama, ia pun menyeret tubuhnya yang setengah kejang ke meja belajar. Ditariknya laci yang tepat berada di barisan paling atas, di samping keyboard komputernya yang berserak penuh dengan abu rokok.
Tak berapa lama, ia pun ’sukses’ menenangkan dirinya sendiri. Sembari menggelosor, satu suntikan tepat ke pembuluh darahnya dianggap mampu menyelesaikan masalah. Sudah lima tahun ’obat’ itu dianggap paling mujarab bagi sosok Nanda, yang kini sudah kurus kering. Bayangkan dengan tinggi 175 cm, ia hanya berbobot tak lebih dari 50 kg!. Bandingkan dengan saat ia masih segar bugar yang memiliki bobot 65 kg.
Sore itu, ia merasakan hawa panas luar biasa menyelubungi seluruh tubuh ringkihnya. Satu, dua bahkan tiga jarum menancap tepat di lipatan sikunya. Di tempat itu, sudah tak terhitung berapa lubang dibuat guna menembus pori dan memasukkan cairan ”obat” ke dalam pembuluh darah, termasuk ke otak. Namun sepertinya sore itu juga menjadi hari yang naas bagi Nonda. Ia sepertinya salah menghitung ”dosis” obat mujarabnya tersebut. Alhasil, ketenangan yang ia dapat hanya sesaat dan berubah menjadi sebuah keadaan yang sangat memilukan. Ia sempat muntah beberapa kali sebelum kejang hebat dan terkulai kaku, tak berdaya. Sosok Nonda pun hanya tinggal sebujur jasad kaku yang meninggalkan cerita kelam, bukan hanya bagi namanya, tapi juga untuk keluarga tercintanya. Ironis bukan….

ILUSTRASI pendek itu bukan hanya sekedar kisah imajinatif saja. Namun dipastikan sudah pernah terjadi puluhan bahkan ratusan kali di bumi pertiwi ini. Bagaimana sosok anak muda harapan bangsa yang merelakan tubuhnya ’dijajah’ barang haram nan mematikan:narkoba!. Saat ini narkoba memang menjadi momok paling menakutkan yang menggerogoti.

Padahal sudah menjadi rahasia umum jika Narkoba sangat menimbulkan efek negatif yang luar biasa. Jaringan syaraf otak mendapat degradasi, darah yang tercemar, tingkat kekebalan tubuh yang makin rendah serta kemungkinan menimbulkan kematian langsung (direct died-red), menjadi resiko yang seharusnya dipahami kalangan muda penerus bangsa. Bagaimana tidak, nyaris semua zat yang terkanding dalam apapun jenis narkoba pastilah sangat membahayakan tubuh. Akibatnya performa generasi muda beberapa tahun ke depan jelas semakin tumpul. Apakah generasi muda sekarang menginginkan bangsanya menerima penjajahan intelektual dalam kurun 20-30 tahun mendatang?tentu tidak bukan. Satu cara paling efektif dari para calon penjajah intelektual dunia adalah meracuni kalangan muda bangsa yang tengah diincar, dengan barang haram yang terasa nikmat namun sejatinya justru mengundang ke alam kubur secara tidak langsung. Jika mereka berhasil menduduki jalinan otak, langkah selanjutnya pastilah menguasai ekonomi dan semua asset bangsa ini. Apakah hal itu boleh terjadi?tentu tidak bukan. Apakah anak-anak muda Indonesia ingin suatu hari orang tua mereka harus sibuk mencari rumah tinggal di saat lahan mereka digusur tak menentu, sedangkan sang anak hanya tenggelam dalam hisapan bong atau suntikan amfhetamine?tentu tidak mau bukan. Karena itu, waspadalah terhadap peredaran dan pergerakan narkoba. Say No to Drugs menjadi label mulut yang sangat ampuh. Berbuatlah kegiatan yang menghasilkan sisi positif, karena masih bejibun aktifitas yang bakal mendatangkan sisi kenikmatan, bahkan melebihi nikmatnya sebungkus narkoba.
Kewaspadaan tingkat tinggi memang harus tetap terjaga. Pasalnya hasil survei beberapa waktu lalu menyebutkan, pelajar dan mahasiswa di semua propinsi baik di ibu kota maupun di kabupaten rentan terhadap Narkoba. Penyalahgunaan jauh lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Kemampuan ekonomi, pengawasan yang kurang dari orang tua, dan ketidak-taatan ibadah meningkatkan kerentanan tersebut.
Ganja, Ekstasi, dan Shabu menjadi jenis narkoba yang paling banyak dipakai. Sekitar 40 persen Penyalahguna mulai memakai narkoba pada umur 11 tahun atau lebih muda. ’Teman’ menjadi pintu masuk utama narkoba. Sementara sekolah atau kampus dan rumah teman sering menjadi tempat menawarkan Narkoba.
Hasil Survey  Nasional Penyalahguanaan dan Peredaran Gelap Narkoba pada Kelompok Pelajar dan Mahasiswa Indonesia menyebutkan di antara 100 pelajar dan mahasiswa rata-rata 8 pernah mengkonsumsi. Penyalahgunaan sudah terjadi di SLTP, yakni di antara 100 pelajar SLTP, rata-rata 4 dalam setahun terakhir menggunakan narkoba. Angka pernah pakai lebih tinggi dua kali lipat pada mahasiswa (12%) dibanding pelajar SLTP (6%). Penyalahgunaan lebih tinggi 3 sampai 6 kali lipat pada laki-laki dibanding perempuan, dan lebih tinggi di sekolah atau kampus swasta dibanding negeri atau agama.
Mereka yang merokok, minum alkohol dan melakukan praktek seks pra-nikah lebih rentan terhadap penyalahgunaan Narkoba. Angka penyalahgunaan pernah pakai narkoba 5 kali lipat lebih tinggi pada mereka yang pernah merokok dibanding tidak; 6 kali lipat lebih tinggi pada mereka yang pernah minum alkohol dibanding yang tidak; dan 5 kali lipat lebih tinggi pada mereka yang melakukan seks para-nikah dibanding yang tidak melakukan.
Sekitar 40 persen penyalahgunaan di SLTA dan lebih separuh di Akademi atau Perguruan Tinggi mengaku pernah atau setahun ini memakai Ganja.
Sekitar 10-15 persen penyalahgunaan narkoba di semua jenjang sekolah mengaku memakai Ekstasi dan atau Shabu. Pemakai Ekstasi dan Shabu meningkat dengan makin tingginya jenjang sekolah. Sekitar 7%  penyalahgunaan di semua jenjang sekolah memakai heroin dan atau morfin; dan  4-5 pesen mengaku memakai kokain, LSD, Ketamin, dan atau Yaba.
Yang lebih ironis, 4 di antara 10 pelajar atau mahasiswa penyalahgunaan mulai memakai narkoba saat umur 11 tahun atau lebih muda. Ganja merupakan jenis Narkoba yang paling banyak dipakai pertama kali.
Sayangnya, media promosi dan sosialisasi yang dilakukan pelbagai lembaga belum menunjukkan angka 100 persen masuknya pengetahuan bahaya narkoba ke alam pikiran mereka.
Di antara 100 pelajar atau mahasiswa rata-rata 80 pernah terpapar promosi bahaya dan pencegahan narkoba. Dari yang terpapar promosi, hanya 75 persen mengaku mengerti pesan promosi. Di satu sisi hal ini tentu sangat ironis mengingat alur wilayah Indonesia sangat luar dan bukan tidak mungkin menjadi jalur peredaran narkoba terbesar di dunia.
Sebuah sumber mengungkapkan, khusus amfethamine, Indonesia memang bukan menjadi jalur. Tapi sialnya malah menjadi ’terminal’ akhir perederan yang dimulai dari Polandia, Belanda, Myanmar maupun Cina. Jalur Polandia-Skandinavia, Polandia-Jerman, Belanda-Inggris, Myanmar-Thailand dan Cina-Myanmar-Thailand menjadi mata rantai yang bermuara di Indonesia!. Jadi tak bisa dibayangkan berapa triliun produk narkoba berkeliaran di Indonesia tanpa mendapat pengawasan berarti.
Begitupun dengan pasokan heroin yang biasanya berasal dari Afghanistan dan Myanmar. Hebatnya ada 13 alur yang bersumber dari dua negara tersebut untuk mengedarkan hasil buminya yang berupa heroin.
Indonesia pun masuk menjadi jalur perantara distribusi barang haram ini. Dua moda yang digunakan adalah alur Myanmar-Singapura/Malaysia/Indonesia -Eropa Barat dan Myanmar-Singapura/Malaysia/Indonesia-Australia.
Sementara jalur lainnya adalah Afghanistan-Pakisan -Afrika Timur-Eropa Barat, Afghanistan-Pakistan-Timur Tengah (Saudi Arabia)-Eropa Barat, Afghanistan-Iran-Turki-Balkan-Italia-Eropa Barat, Afghanistan-Iran-Turki-Balkan-Jerman (Eropa Barat).
Sementara yang berbasis di Myanmar mengikuti alur Myanmar-Thailand-Autralia, Myanmar-Thailand-Eropa Barat, Myanmar-Cina-(Hongkong)-Australia, Myanmar-Cina-(Hongkong)- USA, Myanmar-Vietnam-Australia dan jalur Myanmar-Laos/Kamboja-Eropa Barat.
Afghanistan disinyalir sebagai negara pemasok heroin terbesar di Indonesia. Kualitas heroin dari negara yang pernah dikuasai rezim Taliban itu mengalahkan heroin beberapa negara di Asia. Seperti di Thailand dan Vietnam.  Sebuah survei Lembaga Penanggulangan HIV/AIDS, meyebutkan setiap hari sedikitnya 36 ribu masyarakat Indoneisa mengonsumsi heroin. Dengan asumsi per orang memakai satu gram, berarti 36 ribu gram atau 36 kg heroin di konsumsi pecandu di Indonesia per hari.
Bahkan data BNN pernah melaporkan jika 1,5 persen penduduk Indonesia adalah pengguna narkoba dan sekitar Rp 18,4 miliar/hari terbuang percuma akibat nark  (nurfahmi bud)oba. Angka ini berasal dari cakupan pembelian narkoba, penanganan over dosis (OD), rehabilitasi, hilangnya waktu produktif, biaya kematian dan biaya terkait penyakit tertentu.
Jika mengacu pada angka kualitas dan kuantitas, tentu alangkah gembiranya jika hal-hal positif menjadi dasar dari kehidupan generasi muda dan seluruh masyarakat Indonesia. Narkoba hanyalah kenikmatan sesaat, untuk selanjutnya justru akan membawa ke liang lahat. Ironisnya bukan kehormatan yang didapat, tapi justru umpat dan sumpah serapah yang akan menghampiri korban kejahatan narkoba. Karena itulah patut terus didengungkan Say No to Drugs!.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: