useful


Nicolas Anelka: Voyageur Formidable
December 9, 2008, 12:02 pm
Filed under: news of sport style

PENGALAMAN adalah guru terbaik sepanjang masa dalam sebuah siklus kehidupan. Filosofis itulah yang sepertinya mengilhami pria bernama Nicolas Anelka musim ini. Bagaimana tidak, ia seperti kembali terlahir setelah selalu terpuruk sebagai pesepakbola bergelar tnicolas-anelka1he bad boy atawa trouble maker.
Tengok saja pena Premiership berikut ini. Catatan lesakan 12 gol dalam 15 partai alias 0,25 biji per pertandingan, ditambah shots on goal mencapai 0,6 setiap kali merumput menjadikan sosok Anelka kembali menonjol. Lebih lengkap lagi, ia meneruskan keahliannya dalam membobol jala lawan dengan cara yang istimewa, kedua kaki dan kepalanya sukses memberi sumbangsih yang melengkapi kemampuan Anelka sebagai seorang striker tangguh. Akumulasinya, tiga kali menggunakan kaki kiri, 7 kali via kaki kanan dan masing-masing sekali dengan kepala dan anggota tubuh lain, sukses mengejawantahkan pria yang mengawali karir sepakbolanya di Paris St Germain ini sebagai striker berbahaya di pentas Premiership musim ini.
Tak heran, kini ia menjelma menjadi seorang goal getter handal di liga yang disebut-sebut paling ketat dan gemerlap di seantero bumi ini. Tidak hanya posisinya yang kini bertengger di puncak daftar penjebol jala lawan paling yahud, sikap dan cara bermainnya yang makin dewasa juga mendapat simpati luar biasa. Ia seolah sudah mentransformasikan dirinya menjadi pria ‘lain’, dan itu dianggap menjadi satu faktor kunci kebangkitan kembali namanya di panggung sepakbola internasional. “Dia begitu alim dan tenang, setiap pergerakannya sudah dalam perhitungan, itulah yang kini membuatnya bermain sangat enjoy dan menikmati apapun yang dilakukan di dalam lapangan, sebuah modal yang menjadikannya makin tajam,”sebut pelatih Chelsea, Luis Felipe Scolari.
Kerja keras untuk merubah image mulai berbuah hasil. Paling tidak apresiasi terhadap Anelka di dalam negeri sudah berkumandang keras. Gaya permainannya yang sangat skill full, tenang dalam menyelesaikan peluang, pandai mencari ruang serta kaki kiri-kanan sama keras, dilengkapi rasa ingin terus berkembang membuat pujian pun bermunculan.
Apresiasi luar biasa sudah muncul dari France Football dan L’Equipe, dua media olahraga paling berpengaruh di negeri Anggur tersebut,  tatkala tiga minggu lalu ia sukses mengemas dua gol ke gawang West Bromwich Albion. Kalimat besar ‘Le garçon méchant revient’ yang memiliki arti sang anak nakal telah kembali menjadi bukti betapa striker yang dibeli Chelsea dari Bolton seharga 15 juta pounds ini  sudah benar-benar mampu keluar dari bayang-bayang negatif masa lalunya.
L’Equipe bahkan menambahkan frase Le Voyageur Formidable alias Pengembara Luar Biasa sebagai bentuk kesimpulan sepak terjang pria berusia 29 tahun ini. “Seperti pertama kemunculannya di panggung sepakbola, kini ia telah kembali, tentu dengan lebih santun, dan seolah terlahir untuk menyelamatkan kondisi timnas Prancis yang amburadul,”tulis L’Equipe.
Setelah sebelumnya hanya bermain 10 kali bersama Paris St Germain, pada Februari 1997, saat masih berumur 17 tahun, Anelka sudah bermain di klub Liga Inggris, Arsenal di bawah kepemimpinan pelatih Arsène Wenger. Ia membuat gol pertamanya di Arsenal ke jala musuh bebuyutan The Gunners, Manchester United yang berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan Arsenal. Kesempatan terpilih untuk masuk tim inti mulai terbatas di musim 1996-1997. Tetapi pada musim 1997-1998, ia dimasukkan ke tim inti setelah cedera permanen yang menimpa penyerang utama Ian Wright. Pria berkepala plontos ini menjadi pemain kunci bagi titel kemenangan ganda Arsenal dengan menjadi juara Liga Inggris dan juara Piala FA. Anelka mencetak gol kedua yang menentukan kemenangan 2-0 Arsenal atas Newcastle United pada final Piala FA di musim tersebut. Saat itu ia sudah terkenal memiliki perangai sebagai si pembuat masalah nomor satu. Tak heran kalau karirnya di sebuah klub tak berlangsung lama. “Masa lalu benar-benar menyakitkan, seolah apa yang telah Anda berikan tak memiliki arti sama sekali, mungkin itu yang membuatku kini lebih tenang dan dingin,”sebut Anelka.
Big Phil, pelatih Anelka di The Blues mengungkapkan, striker kelahiran Versailles tersebut sesungguhnya sosok yang sangat tajam. Kini ia pun tengah menjaga kinerja anak buahnya itu agar tetap tajam, meski pada awalnya ia sempat meragukan dan lebih memilih Didier Drogba ketimbang pemilik postur 183 cm itu. Karakternya yang penuh perjuangan musim ini, menjadi titik balik pandangannya terhadap mantan pemain Real Madrid ini.
“Kadang kala ia membuat kesalahan di depan gawang, kadang juga tidak, tapi dia sudah memperlihatkan kalau dialah penyerang terbaik kami musim ini. Dia bekerja untuk tim, jika ada kesempatan untuknya mencetak gol, ia pasti akan menuntaskannya, jika tak bisa, pastinya ia akan memberi ruang pada pemain lain. Dia pekerja keras dan selalu gembira, sesuatu yang juga membuatku gembira,”ucap Scolari, di Telegraph, beberapa waktu lalu.
Deskripsi sosok pria kelahiran 14 Maret ini memang sangat lengkap. Postur tinggi besar tapi sangat liat dan lincah di kotak penalti, tipikal opportunis yang dipadu pekerja keras, driblling mumpuni, presisi umpan dan tembakan yang tak diragukan lagi, pengalaman segudang sampai pandai membaca pertahanan lawan. Itu semua belum cukup jika dilihat dari kemampuan terkini tentang kerjasama tim dan kemampuannya memecah deadlock.
Ciri khas Anelka dalam melesakkan bola ke jala lawan ternyata menjadi kesenangan pelatihnya dulu di Bolton, Sam Allardyce. “Gol ala Anelka mudah ditebak, dia akan mengajak lari para penjaganya dari luar area penalti, atau mencoba ‘bercanda’ dengan mereka, setelah itu Anda pasti tahu sendiri, secepat kilat ia akan berlari atau menyambar apapun yang diumpankan temannya, kalau tidak ia pasti melepas bola daerah sebelum melesakkan ke gawang, dia seorang master untuk urusan one on one,”ungkap Allardyce, yang kala itu sedih harus melihat Anelka hengkang dari Reebok Stadium.
Kini cap sebagai tukang gonta-ganti klub justru membuat Anelka memiliki segudang pengalaman di level Eropa. Senjata inilah yang akan diterapkan Scolari untuk mengarungi musim kompetisi Eropa tahun ini. “Dia memiliki segudang ilmu, itulah yang harus dipelajari semua pemain, dia tahu sepakbola Prancis, Spanyol, sedikit Italia dan kebanyakan Eropa Timur, aku sudah pernah berdiskusi tentang itu, dan ia memang sangat berpengalaman,”puji Scolari.
Juniornya di timnas, Karim Benzema bahkan menyebut Anelka sebagai sosok guru yang sangat lengkap. “Dalam dirinya banyak sekali hal yang tak pernah kuketahui sebelumnya, terutama tentang karakter sepakbola sebuah tim, bahkan beberapa di antaranya sangat dikuasai sampai hal detail, aku beruntung bisa bermain bersamanya di timnas, sebuah pelajaran yang sangat berharga yang tak bisa kudapatkan hanya di Prancis saja,”ucap striker Olympique Lyonnais ini.
Kini seiring prestasinya yang terus meroket sebagai tukang bobol nomor wahid di Inggris, Anelka hanya ingin mengubah predikat yang selama ini melekat pada dirinya menjadi sesuatu yang positif. “Semua berjalan dengan kerja keras, kini aku harus tetap waspada karena makin tinggi kita terbang, kita bisa lupa segalanya,”imbuh Anelka, berfilosofis.  (persda network/bud)

Nama        : Nicolas Anelka
Lahir            : Versailles, 14 Maret 1979
Postur        : 183 cm/73 kg
Karir            :
Tahun            Klub                Tampil/gol
1995-1997            Paris Saint-Germain    10/1
1997-1999            Arsenal            65/23
1999-2000            Real Madrid        19/2
2000-2002            Paris Saint-Germain    39/10
2002                Liverpool            20/4
2002-2005            Manchester City        89/38
2005-2006            Fenerbahçe            39/14
2006-2008            Bolton Wanderers        53/21
2008-             Chelsea            29/16
1998-             Timnas Prancis        53/12

Prestasi dan Penghargaan:
Juara Premier League 1997-1998 (Arsenal)
Runner up Premier League 1998-1999 (Arsenal)
Juara FA Cup 1998 (Arsenal)
Juara FA Charity Shield 1998 (Arsenal)
Juara UEFA Champions League 2000 (Real Madrid)
Juara UEFA Intertoto Cup 2001 (Paris Saint-Germain)
Runner Up Premier League  2001-2002 (Liverpool)
Juara Liga Super Turki 2004-2005 (Fenerbahçe)
Runner Liga Super Turki 2005-2006 (Fenerbahçe)
Runner up Piala Turki 2006 (Fenerbahçe)
Runner up Peace Cup 2007 (Bolton Wanderers)
Runner up Premier League 2007-2008 (Chelsea)
Runner up Piala Liga 2008 (Chelsea)
Runner up UEFA Champions League 2008 (Chelsea)
Juara Piala Eropa 2000 (Timnas Prancis)
Juara Piala Konfederasi 2001 (Timnas Prancis)

Agama Menjadi ‘Senjata’
ANELKA telah menemukan kembali ketajamannya bersama Chelsea. Ia sukses bercokol sebagai pencetak gol terbanyak sementara dan mampu membawa The Blues ke papan atas klasemen sementara. gol. Banyak kunci atas penampilannya, terutama dalam kurun empat tahun terakhir. Tidak hanya keluarga dan teman, sisi religi menjadi alasa kuat kebangkitan seorang Anelka.
Ya, pemain tim nasional Prancis ini memutuskan untuk memeluk Islam pada 2004 saat masih bergabung dengan Manchester City. Ia ingat kala menghabiskan masa kecilnya di sebuah pinggiran kota Trappes. Mayoritas sahabat Anelka adalah seorang muslim, dari dari situlah Anelka mulai tertarik dengan Islam.
Ia mengaku kalau masuk menjadi muslim seolah memberinya energi ganda di lapangan. Meski godaan kerap menghampiri, terutama di bulan Ramadhan, justru permainan konstan berlevel tinggi-lah yang muncul. “Mengapa aku memilih Islam?Karena ini adalah cara hidup yang cocok denganku, aku merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidupku saat ini. Di lapangan aku bisa memiliki tenaga luar biasa, seolah tak pernah habis, itu kudapat saat kupeluk agama Islam, sesuatu yang juga merubah semua jalan pikiranku,”jelas Anelka. Bekal agama Islam membuat pria yang sangat jarang tersenyum di tengah lapangan ini mengaku memiliki ketenangan dalam membuat keputusan dan memanfaatkan peluang.
Saat ditanya tentang dunia pergaulan muslim di Inggris, Anelka mengaku tidak terlalu kesulitan saat menjadi muallaf. Banyak rekan di Premiership dan komunitas pesepakbola muslim yang memberinya banyak masukan. “Kenyataan itu makin menumbuhkan rasa iman, itu tertular pada sikapku di lapangan, dulu mungkin aku sangat berangasan, tapi aku terus mencoba menjadi sesuatu yang dicintai orang lain,”tegas Anelka.  (persda network/bud)


Hobi Gonta Ganti Klub

IA sempat disamakan dengan bintang yang kini sudah meredup, Christian Vieri. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama berbadan besar, tajam, liat, keras dan cenderung berangasan di dalam lapangan. Selain itu banyak sisi kontroversi yang membuat mereka berdua dijuluki the bad boys. Memrotes sikap pelatih kala menerapkan strategi, menghardik kawan sendiri sampai mogok seolah menjadi garis kehidupan keduanya.
Namun di luar itu, ada satu kesamaan spesial yang membuat mereka berdua dianggap tak memiliki rasa loyalitas dan hanya mengejar uang semata. Apalagi kalau bukan ‘kecintaan’ untuk selalu berpindah klub. Seperti halnya Vieri, nama Nicolas Anelka pun sudah beredar di banyak klub. Sejak tahun 1997, ia sudah bereda di 9 klub!.
Di awali di Paris St Germain, selama dua musim ia berbaju Arsenal sebelum pindah ke Spanyol masuk ke Real Madrid. Setelah itu ia kembali lagi ke PSG, berpetualang di Liverpool, Manchester City, Fenerbahce, kembali ke Inggris kala bergabung dengan Bolton Wanderers dan kini Chelsea.
Hebatnya, meski gemar gonta ganti kostum, fungsinya sebagai tukang bobol tidak kendur. Total 145 gol sudah dilesakkannya sepanjang karir dengan selalu mengisi daftar score sheet di setiap klub yang ‘dihinggapi’.
“Aku juga tak mengerti mengapa aku harus pindah-pindah, mungkin karena tidak cocok saja. Pasalnya, saat aku bermain, aku tidak ingin setengah-setengah dan harus menyatu dengan pemain lain, jika hal itu tak terjadi, tentu Anda akan tahu sendiri rasanya di dalam lapangan,”ucap Anelka.  (persda network/bud)

Suka Musik Hip Hop
GAYA hidup Nicolas Anelka sama dengan pesepakbola lain, meski kini mengaku sangat mengurangi aktifitas malam hari. Hanya sesekali saja ia keluar rumah hanya untuk sekedar nongkrong di cafe atau pub. “Aku hanya keluar jika di rumah penat atau setelah perjalanan melelahkan bersama klub, tapi tidak selalu berujung negatif karena pengetahuan agama memang seperti bisa membendungku,”ujar Anelka, yang mengaku tetap saja bisa kebablasan jika masalah besar datang.
Berbicara tentang selera lifestyle, Anelka pun menyebut aliran musik hip hop sebagai hal yang paling digemari. Saat jeda atau istirahat di rumah, pria muslim ini selalu menikmati musik yang bisa membuat si pendengarnya tak merasa kalau sudah bergoyang. “Ada sensasi lain dengan hip hop, aku sudah mengenalnya saat masih kecil, rasanya bisa rileks dan tenang,”jelas Anelka.
Beberapa musisi yang menjadi favoritnya antara lain Lil’ Wayne dan Akon. Selain itu, ia juga menyukai karya Kanye West, Leona Lewis dan Gwen Stefani. Bahkan saking getolnya pada Lil’ Wayne dan Akon, Anelka sempat berang tatkala tak bisa masuk ke sebuah konser yang diadakan penyanyi hip hop itu di London. Bersama El Hadji Diouf, ia nyaris baku pukul dengan petugas keamanan konser.
Beruntung panitia yang mengenalnya sigap dan membiarkan bintang sepakbola itu masuk. “Aku penggemar beratnya, jadi setiap ada kesempatan aku selalu berusaha untuk menyaksikan itu, kalau tak ada waktu, paling aku mendengarkan lagu- lagunya saat di rumah ataupun dalam bus perjalanan ke stadion,”kata Anelka.  (persda network/bud)

Antara Kanu, Andre Merelle dan Samuel Eto’o
BANYAK individu yang selalu terngiang dalam telinga Nicolas Anelka. Mereka semua adalah deretan orang-prang yang telah berjasa memberi nilai lebih pada karir sepakbola dan pengembangan diri Anelka.
Di antara semua, nama Nwankwo Kanu, Andre Merelle dan Samuel Eto’o dianggap memiliki peran penting dalam setiap fase perjalanan karir sepakbola Anelka. Nama pertama, Anelka menyebut kalau Kanu adalah sosok partnernya yang paling ideal dan sempurna.
Ia menganggap, apapun yang diberikan dan dilakukan Kanu selalu membuatnya mudah dalam menjebol jala lawan. “Ketika dia memberi Anda umpan, maka dia akan memberikan umpan yang sempurna. Bagiku, bermain dengannya di Arsenal membuat segalanya menjadi mudah, karena dia hebat dan kuat. Dia selalu memberiku umpan matang sehingga semua pekerjaan jadi lebih mudah. Aku  merasa terhormat bisa bermain bersamanya,”jelas Anelka.
Urusan Andre Merelle pun lain lagi. Sosok pria ini bagi Anelka sangat berjasa kala menemukan dan membimbing dirinya dalam semua hal teknis dan non teknis sebagia pesepakbola di Clairefontaine, pusat pendidikan dan latihan timnas Prancis. Merelle pula yang mampu meyakinkan pihak Paris St Germain untuk menggamitnya ke level profesional.
“Dia menemukan bakatku saat aku masih bermain untuk Trappes dan mengajarkan semuanya. Dia sangat sabar, membuatku menjadi pemain profesional. Arsene Wenger, Kevin Keegan, dan Sam Allardyce, semuanya adalah pelatih hebat, tapi aku tak kan pernah berjumpa dengan mereka andai aku tak ditemukan Merelle,”sebut Anelka.
Anelka pun merasa beruntung tatkala bisa berjumpa dengan Samuel Eto’i di ruang ganti Real Madrid pada hari pertama dirinya hadir di locker room Santiago Bernabeu. Eto’o lah yang membocorkan kalau banyak pemain El Real yang meributkan keputusan manajemen untuk mendatangkannya ke Les Merengues.
“Dia pria yang sangat baik, saat itu dia dan Geremi juga menjadi minoritas di Madrid. Kami pun sering berbicara, bahkan sampai sekarang. Saat itu, kami bertiga bertekad menjadi pemain bintang jika tak ada di Madrid, kini semuanya sudah terbukti, Eto’o membuat Madrid gigit jari,”imbuh striker yang hanya bermain 19 kali untuk Madrid selama semusim dan torehan 2 gol saja.  (persda network/bud)


1 Comment so far
Leave a comment

Great Anelka!

Comment by Probo Jatmiko




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: