useful


Alberto Gilardino: Predator Gila
December 24, 2008, 7:11 am
Filed under: news of football

KEDATANGANNYA disambut lebih dari 10 ribu pasang mata di Artemio Franchi, Florence. Sambutan spesial berupa spanduk dan teriakan penyemangat membahana kala ia masuk ke rumput hijau stadion alberto-gilardinokebanggaan Fiorentina itu dengan mengenakan jersey ungu bernomor punggung 11. Harapan tinggi muncul seiring kedatangan mantan bomber paling disegani di seantero Italia ini.
Hasilnya?sungguh manjur. Statistik membuktikan, ia sukses membobol jala lawan sebanyak 12 kali dalam 14 kali penampilannya bareng La Viola. Prestasinya makin mengkilap kala menyumbang 5 gol di pentas Liga Champions, meski tak bisa membawa klub Firenze ini ke fase knock out. Catatan tambahan, di level kompetisi domestik 3 kali ia menjebol jala lawan dengan kepala, 6 gol via kaki kanan dan sisanya datang dari tendangan kaki kiri. Sementara di Liga Champions, satu gol via kepala dan empat lainnya menunjukkan kehebatan kaki kanannya. Catat lagi, koleksi golnya di level Serie A menyumbang 50 persen dari total gol yang dikoleksi Fiorentina!. Berpasangan dengan Adrian Mutu, total duet ini sudah mengoleksi 18 gol alias sumbangsih 75 persen dari semua gol yang dicipta pasukan Cesare Prandelli ini.
Dialah Alberto Gilardino, pujaan baru La Viola. Pastinya, pihak AC Milan, terutama Adriano Galliani dibuat iri dengan apa yang kini ditunjukkan pemain yang mereka beli 24 juta euro dari Parma di tahun 2005 lalu. Tak berlebihan memang, pasalnya selama membela panji AC Milan, pemain kelahiran distrik Biella ini nyaris tak bisa menunjukkan kualitasnya sebagai bomber maut. Alih-alih menjadi striker tajam, ia nyaris selalu menjadi pecundang di Rossonerri. “Aku frustasi,”sebut Gilardino kala itu.
Keputusannya untuk berbaju Fiorentina pun dirasa sangat tepat. Ia mampu memberi warna pada Fiorentina, klub yang mampu ia masukkan kembali ke dalam daftar The Seven Magnificent Serie A bersama Juventus, AC Milan, Inter Milan, AS Roma, Lazio dan Napoli. Di luar itu, kapasitasnya sebagai bomber maut pun sudah terlihat di depan mata. Musim ini menjadi kebangkitan sang predator ulung ini.
Tak heran kalau tifosi La Viola pun menyebutnya sebagai Predator Gila alias il Pazzo Predatore. Mereka mengambil nama Gila dalam dua artian sebenarnya, yakni ‘Predator Gila’ untuk menyesuaikan dengan nama panggilan sang striker, Gila. Julukan ini memang pantas karena mampu mengembalikan Gila sebagai tukang gedor nomor wahid di Italia, paling tidak sampai giornata 16 bareng Marco Di Viao dan Diego Milito.
Sebutan Predator Gila lain mengacu pada kegemaran si empunya gelar untuk meneror barisan pertahanan lawan. Jika lengah sedikit, alamat gawang kebobolan bakal dialami bek-bek lawan. Ia pun tergolong predator ulung yang tanpa ampun bakal melesakkan bola ke gawang lawan meski dalam peluang atau ruang tembak sekecil apapun. Satu lagi, layaknya khas predator, Gila pun memiliki beragam cara dan melakukan apapun hanya untuk menjebol jala lawan.
Performa tersebut didukung postur tubuhnya yang sangat ideal untuk ukuran Eropa. Berbadan tegap namun lincah, opportunis, kekuatan kaki kanan dan kiri sama besar, jago duel udara dan memanfaatkan ruang ‘terbang’, serta pandai mencari ruang di area penalti lawan. Meski kurang dalam hal kecepatan, semuanya tertutupi dengan keberaniannya berjibaku. Tak heran, kadangkala saking ngototnya ia sampai lepas kendali. Walhasil, kalau tidak terkena kartu kuning, cedera bisa menghampiri saat ia ditebas pemain lawan.
Performanya di Serie A musim ini memang menjadi catatan tersendiri. Paling tidak, beberapa pihak yakin kalau Gila bakal makin bersinar di putaran kedua nanti. Kemampuannya pun mendapat pujian langsung dari allenatore Gli Azurri, Marcello Lippi. Pelatih yang biasanya pelit untuk memuji pemain di luar AC Milan, Inter Milan, AS Roma dan Juventus ini mengungkapkan kalau striker tipikal Gila layak mendapat tempat tersendiri.
“Musim ini dia pantas masuk dalam daftar striker terkuat di Eropa, body charge- nya mampu dikombinasikan dengan gaya stylish, ia pun sangat cocok untuk berada seorang diri di depan dalam pola tridente maupun target man kala pelatih menginginkan duet,”ucap Lippi, yang kembali membuka kran baju timnas Italia untuk pemain berusia 26 tahun tersebut.
Bagi duetnya di lini depan La Viola, Adrian Mutu, kehadiran Gila selalu memberi inspirasi dan kemudahan dalam pergerakan. “Ia pandai membuka ruang, menempatkan diri dan memaksimalkan setiap peluang yang ia dapat, meski sebenarnya sempit tapi tetap saja ia bisa memanfaatkan maksimal, dia benar-benar striker paling hebat saat ini,”sebut Mutu, yang juga mantan Parma ini.
Herannya, Gila sendiri mengaku tak tahu apa penyebab dirinya bisa berpenampilan seperti saat menjadi goleator terbaik Serie A kala masih berbaju Parma. baginya, kesabaran bisa jadi menjadi kunci. Paling tidak, keinginan besarnya untuk menjadi striker utama selama ini ternyata disia-siakan AC Milan. “Kondisi di sini lebih erat, antarpemain bisa saling berdebat secara demokratis, tak ada pembatas antarskuad, semuanya satu, baik pemain junior-senior maupun pemain bergaji mahal-kecil, tidak seperti klubku dulu,”jelas Gila.
Striker berpostur 184 cm ini juga merasakan kebebasan berkreasi di lapangan dari Cesare Prandelli juga menjadi satu penentu kembali tajamnya ia di lapangan. Ia berprinsip, seseorang yang tak bisa menempatkan diri dalam sebuah tim untuk berkreasi, tinggal tunggu waktu untuk mati. “Itu pasti, kala Anda hanya disuruh berada di satu titik area saja, saat bola tak kunjung datang, rasa frustasi menjadi awal kemandegan atau malah kehancuran karir dan pola permainan Anda sebenarnya, karena itulah aku datang ke Fiorentina,”ungkap Gila.
Kini Gila pun tengah merasakan ‘bulan madu’ keduanya di pentas Serie A. Beruntung ia menyadari kalau dirinya tak ingin salah langkah lagi dalam meniti karir, terutama pemilihan klub. “Aku bahagia di sini, tak ada dalam pikiranku untuk pindah ke klub lain di musim panas nanti,”ucap Gila, yang bakal berada di Artemio Franchi dalam rentang lima tahun ke depan.
Orang yang paling ngotot untuk mendatangkan Gila, Presiden Fiorentina, Andrea Della Valle mengaku kalau dirinya sudah memiliki insting kalau striker pemilik caps 30 bersama timnas Italia itu bakal kembali moncer. “Dia hanya perlu penangangan yang tepat, aku tak ragu kala mengambilnya, dan kini aku bakal berpikir seribu kali untuk melepasnya ke klub lain, dia aset utama bagi kami,”ucap Della Valle, yang mencantumkan kontrak buy clausul mencapai angka 70 juta euro bagi klub manapun yang ingin mengambil Gila dari Florence.
“Aku sangat tersanjung, tapi memang tak ada dalam pikiranku klub lain kecuali Fiorentina,”tegas pria kelahiran 5 Juli yang berambisi mencetak 25 gol di musim ini. (persda network/bud)

Nama: Alberto Gilardino
Lahir:, Biella, 5 Juli 1982
Postur: 184 cm/74 kg
Karir:
Tahun            Klub                Tampil/gol
1999-2000            Piacenza            17/3
2000-2002            Hellas Verona        39/5
2002-2005            Parma            96/50
2005-2008            AC Milan            94/36
2008-             Fiorentina             14/12
2000-2004            Timnas U-21        30/19
2004-             Timnas Italia        30/10

Prestasi dan Penghargaan:
-Juara Liga Champions musim 200/2007 (AC Milan)
-Juara UEFA Super Cup tahun 2007 (AC Milan)
-Juara Piala Dunia Antarklub 2007 (AC Milan)
-Juara Piala Dunia 2006 (Italia)
-Juara Piala Eropa U-21 tahun 2004 (Italia)
-Pesepakbola Terbaik Serie A tahun 2005
-Pemain Terbaik Italia tahun 2005
-Pemain Muda Terbaik Serie A tahun 2004

Jasa Prandelli
DI pentas sepakbola Italia, nama Alberto Gilardino kini tengah bersinar terang. Sampai partai ke-16, ia masih berstatus striker prolifik dengan 12 gol. Sangat jauh berbeda kala musim lalu Pemain Terbaik Italia tahun 2005 ini hanya mengemas 7 gol di Serie A dan 2 di level Eropa.
ADA satu nama yang seolah selalu menjadi penyelamat karir bagi Gila. Siapa lagi kalau bukan Cesare Prandelli. Arsitek berusia 51 tahun ini dianggap orang paling berjasa pada perjalanan karir Gila. Di awal karirnya di level sepakbola profesional, Prandelli-lah yang meminta secara eksplisit agar Gila pindah ke Parma. Bahkan dengan setengah memaksa, Prandelli langsung mengirim Gila ke base camp Parma.
Paksaan tersebut membuah hasil. Di musim perdananya bareng Parma, ia mencetak lima gol dan melonjak drastis di musim berikutnya dengan lesakan 23 gol ke jala lawan. Di Parma juga Gila masuk dalam daftar striker subur dengan 50 gol hanya dalam 96 penampilan.
Nama Prandelli kembali membawa berkah bagi Gila musim lalu. Bersama Presiden La Viola, Andrea Della Valle, pelatih Fiorentina itu pula yang meminta manajemen klub untuk ‘mencabutnya’ dari San Siro. Terbukti, keputusan ‘dewa’ Prandelli memberi berkah luar biasa.
Di tangan mantan arsitek Verona, AS Roma, Venezia, Parma, Atalanta dan Lecce, Pemain Muda Terbaik Serie A tahun 2004 ini kembali menemukan second wind. “Prandelli memang pelatih brilian, ide-idenya cukup luar biasa, dia memberiku kebebasan kala bermain tunggal, dan memadukan pergerakan hebat kala aku bersama Mutu atau Zampini bermain bersama, aku berhutang jasa padanya,”jelas Gila.  (persda network/bud)

Sesal ke Milan
BERHARGA mahal kala itu, 24 juta euro atau lebih dari Rp372 miliar, Alberto Gilardino seolah tak bergigi. Selama rentang dua tahun kemudian, nyaris tak ada kontribusi positif yang ia sumbang pada publik San Siro. Bahkan, ia banyak menghabiskan waktunya di bench. Tak heran kalau ia dianggap pembelian paling konyol oleh suporter klub AC Milan.
Tak hanya AC Milan yang mengaku cukup menyesal mengambil pemain yang begitu tajam kala berbabju Parma ini, si empunya objek juga mengaku hal yang sama. Gila mengaku, di Milan terlalu banyak ‘permainan’ yang membuat para pemain baru susah untuk berkembang. “Di sana aku seperti mati kutu, nyaris tak ada apa-apa yang bisa kudapat, cedera dan minutes play yang sedikit menjadi kendala, penyebab aku cukup menyesal pindah ke sana,”ungkap Gila.
Di sisi lain, Gila mengaku kalau dia semestinya berbaju rival sekota Milan, Internazionale. Sayang, harga yang ditawarkan Inter lebih sedikit, padahal kala itu Parma mulai megap-megap akibat sponsor tim, Parmalat, gulung tikar.
“Inilah satu di antara penyesalanku seumur hidup, waktu 2 tahunku seperti hilang begitu saja. Tapi aku tetap belajar dari semua yang telah kuperoleh dan kujalani sekarang, aku percaya pasti semuanya memiliki hikmah, dan kini aku benar-benar merasakan itu,”ucap Gilaa bijak.  (persda network/bud)

Obsesi Seni
SEPAKBOLA makin indah jika dioperasikan dengan seni. Itu pula yang ada dalam benak Gila setiap kali merumput. Di awal pertandingan, sebelum masuk ke lapangan, pemain didikan asli Piacenza ini dipastikan mengajak seluruh rekan- rekannya untuk bermain dengan hati. Bermain berdasar hatilah yang dipercaya bisa menghasilkan seni tinggi dalam sepakbola. Tak heran, kadang dengan gaya stylish- nya, Gila pun memiliki cara tersendiri dalam merayakan setiap gol yang ia ciptakan.
Kalau dicermati, setiap kali usai menjebol jala lawan, Gila selalu bergaya seolah- olah tengah bermain violin, sebuah alat tradisional menggunakan media gesek. Ia mengaku itu sebagai gambaran betapa di satu sisi, sepakbola tak bisa lepas dari rasa seni. Di lain pihak, Gila selalu terobsesi dengan gaya main musik gesek tersebut.
“Bermain violin bagiku adalah ciri khas seseorang yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Buatku, violin adalah simbol kemapanan dan permainan tingkat tinggi, yang tidak sembarang orang bisa mengoperasikan, itu pula yang terjadi padaku di lapangan hijau,”ucap Gila.
Kabarnya, mantan punggawa timnas Italia U-21 di Piala Eropa 2004 ini sudah sejak remaja menyukai segala alat musik yang dimainkan dengan alat gesek. “Aku selalu suka hal-hal yang menantang, bagian tersulit bermain violin ataupun biola adalah sinkronisasi antara pikiran, tangan dan indera pendengaran, itu juga wajib kupakai dalam bermain sepakbola,”kata Gila.  (persda network/bud)


Tipikal Sobat Kental

SISI kepribadian seorang Alberto Gilardino sudah dikenal santun sejak berbaju Parma. Hal itu terus merembet kala ia memperkuat AC Milan dan Fiorentina. Ini dibuktikan dengan beberapa selebrasi yang ia perlihatkan kala mencetak gol. Beberapa waktu lalu misalnya, ia mempersembahkan gol untuk putri mantan rekannya di Parma dan AC Milan, Daniele Bonera yang bernama Talitha. Ia sengaja membuka kaos hanya untuk memperlihatkan kalau gol itu hanya untuk Talitha seorang, yang saat itu tengah sakit.
Karuan, Bonera pun mengucapkan banyak terima kasih karena efeknya cukup luar biasa untuk Talitha. “Dia memang teman yang sungguh pengertian, sikapnya tak pernah berubah sampai sekarang, bahkan dulu ia pernah mentraktir kami saat ia mencetak gol pertamanya di Serie A,”ungkap Bonera. Bek sentral AC Milan tersebut mengakui kalau Gila memiliki rasa pertemanan luar biasa. Kadangkala, sisi kepentingan pribadinya pun dikorbankan sementara.
Di Fiorentina, Gila baru saja meraih gelar sebagai ‘The Star of Solidarity’. Bareng Santana dan Kuzmanovic, Gila berperan dalam beberapa program sosial untuk kalangan tak mampu di kota Firenze.
Di La Viola sendiri, -Pemain Terbaik Italia tahun 2005 ini tidak sulit untuk mendapatkan teman dan bersatu bareng tim. “Dia tak pernah memilih teman, baik dari Italia ataupun luar Italia, ia selalu berusaha untuk menyatu,”sebut be Juan Manuel Vargas. Tak heran, dalam setiap partai yang dilakoni La Viola, selain kapten tim Dario Dainelli, individu yang dihormati di lapangan tak lain Gila.  (persda network/bud)


Rela Berkorban Demi Kekasih

ADA satu lagi rahasia mengapa Gilardino memilih untuk berkostum Fiorentina. Apalagi kalau bukan karena sang kekasih, Alice Bregoli. Sang kekasih yang sudah memberinya seorang putri bernama Ginevra, lebih dulu mengungkapkan keberatannya kala ia berkarir di kota Milan. Pasalnya, Alice harus bolak-balik Piacenza-Milan, sebuah jarak yang cukup jauh.
Alice pun memberi rujukan pada sang kekasih untuk lebih memilih Fiorentina ketimbang bertahan di AC Milan. Bagi Alice Bregoli, tindakan yang dilakukan sang suami jelas memberinya angin segar. “Aku ingin dia tetap berkibar, meski itu bukan tujuan kami ke sini, tapi yang lebih penting kami bisa terus berdua membangun rumah tangga bersama dan mengasuh anak,”ucap Alice.
Alhasil, di Firenze itulah Alice memutuskan untuk pindah ke kawasan kandang Fiorentina hanya untuk menemani sang suami, sembari meneruskan kuliah.  Pasangan ini bersatu pada Maret 2006 dan dikaruniai satu putri, Ginevra, sebuah nama yang diambil dari kata Geneva, kota impian Gila dan Alice.
Alice pun mengaku kini bisa lebih berkonsentrasi memberi layanan pada Gila. Jika dulu Gila bangun dan berangkat ke tempat latihan tanpada ada cewek, kini setiap hari dipastikan mantan striker Parma itu bakal mendapat layanan istimewa dari Alice. “Aku berharap ia bisa makin bersemangat dan menunjukkan kalau dia adalah yang terbaik,”tegas Alice. Sebuah ‘vitamin’ yang terbukti mampu membuat Gila makin menggila musim ini.  (persda network/bud)


1 Comment so far
Leave a comment

gila maju terus tambah pundi-pundi gol mu

Comment by tisno




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: