useful


Claudio Pizarro: Pizza Streikender
December 24, 2008, 6:31 am
Filed under: news of football

SAAT Claudio Pizarro kembali ke Werder Bremen dan diperkenalkan ke publik Weserstadion pada 15 Agustus 2008, ada satu spanduk yang membuat semangat sang pemain terlecut. Kalimat ‘Ritter wird claudio-pizarro1zurückgekommen’ terpampang jelas di depan mata Pizarro, yang berasal dari komunitas fans The Werder. Kalimat yang berarti Ksatria itu Datang Kembali, menunjukkan kehadiran Pizarro dianggap makin memperkokoh skuad Werder Bremen.
Dukungan besar pun langsung dirasakan Pizarro, kala kostum bernomor punggung 24 langsung terjual lebih dari 20 ribu sehari sesudah namanya resmi menajdi skuad baru besutan Thomas Schaaf. Seolah tak ingin menyia-nyiakan dukungan dan kesempatan, striker asal Peru ini langsung tancap gas. Performa menawan ditunjukkan kala Claudio Pizarro menjadi pahlawan kemenangan Werder Bremen atas Eintrach Frankfurt pada Senin (1/12) dinihari WIB. Tidak tanggung-tanggung, striker berusia 30 tahun itu melakukan machen Sie drei Absichten alias mencetak tiga gol.
Tidak selesai disitu, Pizarro pun membantu Die Grün-Weißen (hijau-putih) meraih impian mereka di Liga Champions musim 2008 ini. Diego dkk mampu lolos ke fase knock out dengan status meyakinkan, juara grup!. Langkah sensasional ini diperoleh setelah mengangkangi klub favorit Internazionale Milan dengan skor 2-1 di partai terakhir, Rabu (10/12) dinihari WIB. Aktornya?siapa lagi kalau bukan pria kelahiran 3 Oktober tersebut. Satu gol pembuka di menit ke-63 menjadi penyembur semangat sekaligus asa seluruh tim. Tak heran, selepas itu anak asuh Jose Mourinho dibuat merana dan hanya mampu membalas satu gol penghibur via Zlatan Ibrahimovic.
“Dia hadir pada saat yang tepat, kecepatannya mungkin menurun sedikit, tapi pengalaman dan keeping ball-nya masih sangat bagus. Satu golnya malam ini, membuat kami setuju, kembalinya Pizarro membuat suasana kembali membaik, paling tidak di level Liga Champions, dan berusaha untuk terus berbenah di Bundesliga,”ucap Der Trainer Werder Bremen, Thomas Schaaf, usai pertandingan.
Bersinar di Liga Champions, Claudio Pizarro pun membuktikan kapasitasnya di level Bundesliga musim ini. Paling tidak, raihan 10 gol sampai pekan ke-16 menjadi bukti nyata ia kembali tajam seperti tatkala pertama kali menginjakkan kaki di Wesserstadion tahun 1999 lalu. Sosok kelahiran kota Callao ini memang tak asing lagi bagi publik Bremen, Ia pernah menjadi legenda di sana kala mencatat 29 gol dari 56 partai bareng Bremen alias 0,51 gol per partai!.
Kemampuannya menjebol jala lawan memang sudah terlihat sejak ia memulai karir di klub lokal Deportivo Perquero dan Alianza Lima. Di dua klub tersebut, total ia sukses merengkuh 33 gol resmi dari 86 partai, statistik yang membuat Weder Bremen kepincut. Sukses di Bremen, membuatnya menjadi magnet luar biasa tim- tim Bundesliga, dan Bayern Muenchen menjadi tim yang dipilih pria penyuka rambut gondrong ini.
Selepas bermain apik di FC Hollywood dengan 71 gol dari 174 partai, ia lantas pindah ke Chelsea. Sayang, di The Blues ia selalu menderita cedera yang membuatnya kalah bersaing dengan bomber lainnya. Walhasil ia kembali klub Eropa pertamanya, Werder Bremen.
“Bagiku, inilah keputusan terbaik, aku tak ingin bergaji besar tapi hanya duduk di bangku cadangan. Naluriku selalu berontak dan emmintaku untuk segera menjejakkan kaki ke rumput hijau, dan aku bahagia di sini,”ucap pria berpostur 186 cm ini.
Kapasita Pizarro sebagai striker tangguh memang sudah dimiliki. Powerful, mengandalkan kekuatan tubuh, memiliki kelebihan pada kedua kaki, sangat bagus dalam tendangan jarak jauh, handal memanfaatkan tendangan bebas, senang mencetak gol dengan bola-bola bergerak dan tingkat akurasi umpan yang dijamin memanjakan teman. Gambaran itu membuat Pizarro seolah kembali terlahir di bumi Aria.
“Bermain bersamanya selalu menggairahkan, dia besar tapi lincah. Aku tinggal menyorongkan bola daerah, atau cukup melempar bola ke depan gawang, sudah pasti dia akan mengejarnya sekuat tenaga. Daya juangnya luar biasa, dan takheran kalau banyak gol musim ini akan lahir dari kaki dan kepalanya,”puji playmaker Bremen, Diego.
Defender Dusko Tosic pun sampai menyebut, dirinya beruntung berada satu tim dengan pria bernama asli Claudio Pizarro Bossio tersebut. “Dia sangat liat, mau bergumul, menendang dan memanfaatkan bodinya yang besar dan kokoh, dijamin bek lawan bakal terpental kalau tak siap-siap untuk bertabrakan, dia sosok yang lengkap sebagai striker khas Eropa,”ucap bek asal Serbia tersebut.
Kini Pizarro tengah menikmati bulan madu keduanya di ranah Jerman. Tapi itu belum memuaskan hatinya, karena dia ingin membawa Bremen ke level tertinggi Bundesliga dan meraih hasil maksimal di Liga Champions. “Juara Eropa mungkin masih belum, maksimal kami berada di semifinal, baru 2 tahun lagi dengan skuad seperti ini Bremen bisa melaju ke final Eropa, tapi kalau di Bundesliga, aku yakin kami bisa meraih hasil terbaik di akhir musim,”tegas Pizarro.  (persda network/bud)

Nama: Claudio Pizarro Bossio
Lahir: Callao, 3 Oktober 1978
Postur: 186 cm/76 kg
Tahun            Klub                Tampil/gol
1996-1997            Deportivo Pesquero    42/11
1997-1999            Alianza Lima        44/22
1999-2001            Werder Bremen        56/29
2001-2007            Bayern Munich        174/71
2007-            Chelsea            21/2
2008-             Werder Bremen        13/10
1999-             Timnas Peru         56/13

Prestasi dan penghargaan:

-Olahragawan Terbaik Peru (1999)
-Pemain Paling Memberi Inspirasi Bundesliga 1999-2000
-Runner up Top Skor Pra Olimpiade Zona Amerika Selatan dengan 5 gol (2000)
-Striker Bundesliga All Star Musim 2001
-Juara Bundesliga musiim 2002/2003, 2004/2005, 2005/2006
-Juara Piala Jerman 2003, 2005, 2006
-Juara FIFA Intercontinental Cup tahun 2001

Kelola Machu Picchu
MENJADI sosok putra daerah yang membanggakan menjadi satu di antara tujuan hidup seorang Claudio Pizarro. Setelah `hanya’ menyumbang jasa via keahliannya berlaga di sepakbola, kini ia sudah merintis hal lain yang berkaitan tidak hanya dengan Negara, tapi juga kekayaan dunia internasional. Seperti masyarakat Peru lainnya, Pizarro sangat paham dengan apa itu Machu Picchu. Nama tersebut memang menjadi symbol masa jaya sebuah kerajaan yang pernah berpredikat terbesar di ranah Amerika Selatan. Catatan besar Machu Picchu yang sangat besar, membuat tempat Azteca itu menjadi milik dunia. Tempat tersebut sudah resmi menjadi bagian dari sejarah dunia. Tak heran kalau beragam langkah ditempuh guna menyelamatkan apa yang terkandung di Machu Picchu. Sayang, kini lokasi tersebut ramai diburu para kolektor, pasalnya semua benda berbau Machu Picchu memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
Itulah yang kini juga menjadi pusat perhatian seorang Pizarro. “Sejak aku kecil, aku selalu mendengar kata Machu Picchu saat bersekolah, mulanya memang aku tak paham, tapi menginjak remaja aku baru benar-benar mengerti kalau tempat itu tidak hanya simbol keistimewaan bagi negaraku, tapi juga dimiliki dunia, seperti halnya sepakbola yang juga dinikmati banyak kalangan di bumi ini,”tutur Pizarro.
Perhatiaannya pada kawasan `sakral’ tersebut makin besar tatkala ia mulai menginjak ranah Eropa. Memiliki penghasilan yang lebih banyak daripada di liga lokal, ia pun mulai merancang untuk membangun jaringan donasi guna berpartisipasi menyelamatkan semua isi Machu Picchu, termasuk bentuk asli semua peninggalan kerajaan.
Bersama beberapa pemain Peru yang berlaga di Eropa seperti Nolberto Solano, Pizarro mulai aktif berkampanye guna menggalang dana bagi pelestarian kawasan yang juga berkategori angker bagi masyarakat Peru. Tidak hanya pesepakbola asal Peru dan Amerika Selatan saja yang dimintai sumbangan, Pizarro pun tak segan untuk mengajak pemain dari Negara lain untuk ikut berpartisipasi.
Kala di Werder Bremen, kemudian pindah ke Bayern Muenchen, ia terus aktif menggalang dana. Donasi dana langsung diberikan ke pemerintah pusat Peru, dan sebagian lagi langsung diberikan lembaga khusus yang didirikan Pizarro, langsung ke sasaran masyarakat di sekitar Machu Picchu.
“Kini aku dan semua teman-teman pesepakbola merasa sangat berbahagia karena bisa berpartisipasi langsung terhadap berlian dunia tersebut. Secara pribadi aku tak pernah ingin Machu Picchu hilang dari peredaran sebagai bagian sejarah dunia,”ungkap Pizarro.
Pria kelahiran kota Callao ini berharap para pemburu ataupun kolektor benda bersejarah tidak lagi menjarah apa yang ada di kawasan Machu Picchu. “Apa yang ada di sana adalah kekayaan yang tak ada nilainya, dia bagian dari budaya bumi ini, tentu saja aku dan masyarakat Peru berusaha untuk menjaga keutuhannya, meski itu hal yang selalu sulit karena pencuri pasti lebih pandai dari penjaga,”tegas Pizarro.  (persda network/bud)

Lima Julukan Maut
SEPERTI halnya pemain kelas dunia lain, sematan `gelar’ selalu mengiringi setiap aksi Claudio Pizarro. Tentu, hal tersebut dikaitkan dengan prestasi dan gambaran permainan di lapangan. Kualitas tinggi yang diperlihatkan Pizarro membuatnya mempunyai banyak gelar. Andalan timnas Peru ini memiliki tak kurang lima gelar sekaligus!. Kelimanya mengekspresikan bagaimana Pizarro mengobrak-abrik pertahanan lawan baik kala berbaju timnas maupun klub yang dibelanya; El Bombardero de loa Andes, El Comandante, El Dios Inca, Pizza dan Incakaiser. Semua julukan mengarah pada betapa ganasnya sosok berpostur 186 cm tersebut. El Bombardero de loa Andes yang berarti Tukang Jagal dari Pegunungan Andes, menjadi deskripsi singkat peranan apa yang bakal ditampilkan Pizarro tiap kali merumput. Selain itu ada juga El Dios Inca dan Incakaiser, yang memiliki kemiripan arti, yakni sama-sama mengagungkan sosok Pizarro sebagai Dewa tertinggi dari Inca!. Sebutan ini mangacu pada sumbangsih yang telah diberikan Pizarro kala mengangkat nama besar dan prestasi timnas Peru.
“Dia memang pantas menyandang sebutan itu, dia sosok yang mampu membuat kami bersemangat, meski harus menghadapi tim kuat sekalipun. Bersamanya, sesuatu yang mustahil menjadi milik kami bisa mendadak berubah, tiba-tiba saja sudah ada di depan kami,”puji Solano.
Pizarro sendiri menyebut, apa yang melekat pada dirinya terlalu berlebihan. Pasalnya, sejak kecil ia sudah berambisi untuk memberikan sesuatu yang berharga pada negaranya, sama seperti yang telah dilakukan sang ayah. “Ayahku seorang tentara, ia telah mengabdi puluhan tahun, dan itu selalu memberiku inspirasi, suatu saat pasti akau akan berbuat hal yang sama. Kini semuanya sudah kulakukan, tentang julukan itu, aku tak masalah meski menurutku terlalu berlebihan,’sebut Pizarro.
Ada yang menarik dengan sebutan Pizza. Sebutan yang satu ini pertama kali dilontarkan barisan fans cewek timnas Peru. Alasannya sederhana, selaain wajahnya yang tampan, corak permainan Pizarro pun dianggap sangat lezat, seenak Pizza!.  (persda network/bud)


Hutang Budi Saavedra dan Miranovic

TIDAK hanya sang ayah dan dua saudaranya saja yang menjadi sumbu penyemangat bagi karir Claudio Pizarro. Dua nama penting lain yang sampai saat ini selalu terngiang di otak anggota All Star Bundesliga musim 2001 ini adalah Henan Saavedra dan Dragan Miranovic.
Apa jadinya kalau Pizarro tak pernah terpantau pertama kali oleh Saavedra. Berkat mata jeli Saavedra, Pizarro mampu mengikuti turnamen junior bergengsi, Odesur. Saat itu, Pizarro masih bermain untuk Cantolao dan baru berusia 16 tahun. Saat itu ia masih berada di posisi pemain tengah, belum `berpangkat’ sang penggedor.
Sukses di turnamen tersebut, karir Pizarro belum berarti merangsek ke level papan atas. Ia sempat terlupakan sebelum seorang Dragan Miranovic `menemukannya’ kembali. Miranovic sendiri adalah pelatih timnas Peru U-17, yang kala itu tengah kesulitan mendapatkan seorang pemain bertipikal pekerja keras di barisan depan.
Meski sempat ditentang kalangan pecinta sepakbola Peru, Miranovic nekat memanggil Pizarro. “Dia sangat cocok berada di depan, bukan gelandang. Tipikal membunuhnya sangat berguna bagi tim, kenakalannya juga sangat bermanfaat untuk mengganggu bek lawan,”ucap Miranovic, yang harus membuat surat khusus untuk klub Deportivo Pesquero, yang kala itu menjadi induk semang Pizarro.  Sejak saat itulah posisi striker selalu menjadi langganan tiap kali Pizarro merumput. Tak salah memang, karena timnas Peru akhirnya harus bergantung pada ketajaman sang Dewa dan Kaisra ini.
“Mereka berdua sosok yang sangat tak tergantikan sepanjang karirku, entah apa yang terjadi kalau keduanya tak pernah muncul di depanku. Tanpa mereka, pondasi permainanku tak akan terbangun sempurna, satu lagi mereka berdua pelatih yang sangat tegas dan kejam,”ujar Pizarro.  (persda network/bud)

Hasil Didikan Ala Militer
KETAJAMANNYA di lini depan tak begitu saja diperoleh bak hujan turun dari langit. Semuanya dicapai dengan kerja keras dan kedisplinan tinggi untuk terus menjagaa kondisi tubuh, stamina dan strategi tim.
Faktor kedisiplinan memang menjadi panutan utama kesuksesan Pizarro di level internasional. Meski sempat dianggap gagal kala berbaju Chelsea, tetap saja pesona Pizarro tak hilang. Saat kembali ke Bundesliga, ia pun mampu menjaga kredibilitas dan reputasinya sebagai striker papan atas yang patut diperhitungkan.
Soal kedisplinan saat berlaga di atas lapangan, Pizarro mengungkapkan kalau itu semua di dapat dari sang ayah, Claudio Pizarro Davila. Davila adalah pensiunan Angkatan Laut Peru. Tak heran, berada di lingkup militer membuat Pizarro sangat terdidik dalam hal disiplin. Bangun pagi tepat jam 4, membersihkan rumah, membantu dua saudaranya, sarapan, bersekolah, makan siang, tidur siang, mandi sore sampai belajar dan makan malam sudah ditentukan oleh waktu. Di sela-selanya, Pizarro baru merasakan permainan sepakbola.yang baru dirasakan kala menendang bola mulai usia 5 tahun. “Ayah menanamkan disiplin luar biasa padaku sejak dini, inilah yang kupakai sampai saat ini, aku sempat down di Chelsea, tapi kini aku sudah kembali lagi dan siap untuk bersaing dengan siapapun,”tegas Pizarro.  (persda network/bud)


Orang Rumahan

AKSINYA yang garang kala mengancam gawang lawan berbeda 180 derajad dengan apa yang ditampilkan sosok Claudio Pizarro di luar lapangan. Sosoknya yang keras langsung hilang begitu pertandingan selesai. Sebaliknya, dia langsung menjadi pria manis yang rela menghabiskan waktu di rumah. Baginya, keluarga menjadi satu-satunya pelampiasan atas apa yang diraihnya di lapangan, baik buruk maupun bagus.
“Usai pertandingan, aku selalu berada di rumaah dengan istriku, Karla dan anak lelakiku. Aku selalu bermain bersama dengan mereka dan mencoba untukmemberi suasana riang pada mereka sebisa yang aku mampu, sebab aku telah menghabiskan banyak waktu di luar sana dan kalau saatnya bersama keluarga, aku selalu memaksimalkan saat itu,”ucap Pizarro.
Beberapa kolega dan tetangga Pizarro pun mengakui kalau sosok yang  lebih betah tinggal di Jerman daripada Inggris ini memang ‘orang rumahan’. Nikita Ramos, Guillermo Mesinas, Gianfranco Revelli, Luis Enrique Sueyras dan Christian Callejas adalah deretan teman yang mengakui kesederhanaan Pizarro.
“Ia tak pernah berbuat macam-macam, baginya teman dan keluarga adalah apa yang selama ini ia cari. Sepakbola memang jiwanya, di sisi lain ia tetap menempatkan orang-orang terdekatnya sebagai hal paling berharga,”sebut Nikita.  (persda network/bud)

Susah Cari Arroz Con Pollo
ADA alasan khusus Claudio Pizarro tidak betah di London dan memilih kembali ke Jerman. Bukan karena secara teknik dia kalah dengan kualitas striker The Blues lainnya, tapi karena makanan!. Di ibukota Inggris itu, ia kesulitan untuk mencari makanan favoritnya arroz con pollo alias nasi dengan ayam khas Peru.
“Aku sulit sekali mencari, kalaupun ada rasa dan bumbunya sangat beda. Di lidah tidak seperti yang aku temukan di kampung halaman. Di Jerman, aku memiliki langganan khusus ynag menyediakan masakan itu, itulah yang membuatku senang bermain di Jerman,”ucap Pizarro.
Mungkin karena sudah menemukan apa yang ia cari, performa Claudio Pizarro di ranah bangsa Aria tersebut memang langsung mengkilap. Kembali dari Chelsea, ia sukses menampilkan ketajamannya kembali. “Aku kembali bukan untuk makanan, tapi untuk terus mencetak gol,”tegas pria yang menyukai musik salsa dari grup La Charanza Habanera, dan jenis hip hop.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: