useful


Josep Guardiola: Petani Super
February 23, 2009, 10:28 am
Filed under: news of sport style

BUKAN juara bertahan Real Madrid, bukan pula sang kuda hitam Valencia atau tim yang selalu tampil trengginas Sevilla, yang memiliki keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Faktanya, El Real hanya mampu melesakkan 38 gol dalam 18 partai, juga Sevilla yang hanya mampu menceploskan 27 gol. Hanya Atletico Madrid yang mampu mendekati. Nama klub itu, Barcelona!. Bayangkan saja, hanya dalam 18 partai, Lionel Messi dkk sukses menjebol jala lawan sebanyak 54 kali alias rata-rata 3 gol per partai!.
Catatan ini menjadi yang terbaik di level kompetisi ketat seperti Serie A ataupun Premier League. Di dua kompetisi itu, Internazionale Milan hanya mampu mengoleksi 32 gol, begitupun Juventus hanya bisa 31 gol. Di Premiership, tim super musim lalu, Manchester United juga baru bisa mencatat 33 gol dalam 19 partai. Bahkan, tim paling produktif di Inggris, Liverpool, juga hanya bisa mengantongi 35 gol.
Apa rahasia dibalik itu semuaa?. Peran penting di lapangan memang patut disematkan pada Lionel Messi, Samuel Eto’o, Thierry Henry dan Xavi Hernandez. Tapi di sisi lain, peran di balik layar jelas lebih menentukan. Yup, sutradara itu tak lain adalah Josep Guardiola.
Nama yang satu ini memang tengah berkibar di seantero Eropa bahkan dunia. Bayangkan saja, hanya berstatus pelatih tim junior, ia sukses mengendalikan para jugador berlevel megabintang yang bertebaran di klub legendaris Barcelona. Struktur dan kultur El Barca memang sudah menjadi bagian dari masa kejayaan Pep Guardiola. Tapi yang paling penting tentu filosofis dan kegairahan untuk mengalahkan sisi individualis para pemain bintang itu sendiri.
Nah, ada satu ciri khas yang selalu menjadi gambaran menawan permainan Barcelona di lapangan. Tak lain adalah kerja keras, penuh determinasi, disiplin tingkat tinggi, agresif, pandai membaca permainan lawan dan terus berkreasi untuk menekan pertahanan lawan. Alhasil, setiap musuh dipastikan tak boleh bergerak sedikitpun. Itulah prinsip dasar sistem kepelatihan yang diterapkan Pep Guardiola di klub kebanggaan Catalonia itu.
Jika terus di derivat, ada satu hal yang baru diketahui para pendukung La Braugana. Ternyata, latar keluarga petani menjadikan Guardiola menerapkan hal- hal mendasar dari seorang petani. Pekerja keras, pandai menilai waktu untuk menanam atau memanen, tak pernah menyerah dan selalu berkreasi. Nah, semangat ala petani itulah yang kini diaplikasikan Guardiola ke tubuh Messi dkk. Hasilnya?sungguh luar biasa. El Barca mampu tampil dengan baik, bahkan menjadi replika Barca era Hristo Stoichkov dkk, tim yang juga diperkuat Guardiola saat itu.

Tak pelak julukan Super Perfecto La Masia alias Petani Super pun menjadi sisi lain panggilan Guardiola. Seperti halnya petani di Catalonia, ia pun tak pernah mendewakan sesuatu. Ucapannya yang selalu terngiang di seluru antero Camp Nou saat ini adalah ‘Si algo puede cambiarse, es. Esto está a la altura de us’ alias ‘Jika sesuatu bisa berubah, itulah diri kita. Itu harus terus terjadi pada kita’. Artinya, Pep sangat suka kedinamisan, sesuatu yang ia bawa kala masih aktif di lapangan.
“Aku tak ingin timku bermain lembek, aku memang hanya sesekali meledak, tapi bukan itu sebenarnya sikapku. Aku hanya ingin tim ini selalu berkembang di setiap partai, bermain fleksibel terhadap lawan dan tak pernah memberi ruang bagi lawan untuk berkreasi. Mereka boleh memainkan bola lama, tapi bukan karena kami lemas, justru sebaliknya, membuat mereka bingung darimana mereka akan menyerang, karena apa?kami sudah membombardir pertahanan mereka dulu,”ucap pria berusia 38 tahun ini.
Skema yang terus menyerang memang sudah menjadi bagian hidup Pep. Sejak berada di akademi Barcelona dalam rentang 1984-1990, ia memang sudah berada di lingkungan yang menerapkan penyerangan sebagai nafas permainan sebuah tim. Peran Johan Cruyff sangat dominan dalam pembentukan karakter. Tak heran, kalau menyerang adalah hal paling ditekankan pada setiap laga yang dilalui Barcelona.
Sistem inilah yang menjadi favorit tak hanya untuk penonton tapi juga para pemain. Permainan atraktif yang skill full mampu dikombinasikan dengan strategi tim. “Pep seorang pelatih yang dinamis, permainan yang kami lakukan adalah kreasinya sebelum pertandingan. Kami hanya tinggal menerapkan di lapangan, sembari berkreasi sedikit, ia seorang pelatih muda yang brilian,”sebut Thierry Henry.
Pujian pun terlontar dari bintang lainnya, Lionel Messi. Striker asal Argentina ini mengaku, di tangan Pep Guardiola permainannya makin berkembang, terutama dalam hal visi dan keeping ball. “Dia selalu memberi tambahan pada setiap latihan, memberiku kesempatan kreasi di lapangan dan menasehatiku jika aku melakukan kesalahan yang tak perlu di lapangan,”sebut Messi.
Ia juga mengungkapkan, sisi kedisplinan ala Pep membuat iklim di Barcelona makin kondusif. Kini tak ada lagi jurang pemisah antara pemain senior dan pemain baru. Semuanya berbaur. “Aku pernah merasakan itu saat pertama kali berada di ruang ganti tim, dulu aku digandeng Ronaldinho dan Deco, dipisahkan dari pemain Eropa lainnya. Kini semuanya berubah, kami disatukan bahkan berada satu meja kala makan bersama, itulah kombinasi disiplin dan penyatuan tim ala Pep yang sangat menggairahkan kami,”imbuh Messi.
Sisi pendekatan kekeluargaan ini pula yang menjadi nilai lebih seorang Pep di mata pasukannya. Striker yang nyaris terbuang di awal kompetisi, Samuel Eto’o mengungkapkan, seorang Pep memang pernah berinisiatif untuk menyingkirkannya, tapi pemikiran itu berubah setelah Eto’o mengajak dialog bak seorang teman. “Aku berjanji untuk memperbaiki diri, dia mengajukan syarat dan aku menerima. Tapi bukan karena syarat itu aku bisa seperti sekarang, itu tak lain berkat kelebihan Pep dalam menggandeng hatiku, dia pria yang tegas tapi penuh pemikiran untuk memecahkan masalah pemainnya,”jelas striker timnas Kamerun ini.
Kini Josep Guardiola tengah menuju papan legenda di ruang spesial Camp Nou. Gelar juara di tahun pertama dengan sejumlah rekor menjadi tujuannya musim ini. “Tapi aku sudah katakan pada seluruh pemain untuk tetap menjejajkkan kakinya di bumi, ingat, masih ada tim lain yang mungkin bisa melebihi kita,”tegas Pep.  (persda network/bud)

Nama:Josep Guardiola Sala
Lahir: Santpedor, 16 Januari 1971
Karir Pemain:
Tahun                Klub                Tampil/gol
1990-2001                FC Barcelona        263/6
2001-2002                Brescia             11/1
2002-2003                AS Roma            4/0
2003                    Brescia            13/1
2003-2005                aL aHLI            18/1
2006                     Dorados de Sinaloa    10/1
1992-2001                Timnas Spanyol        47/5
1995-2005                 Catalonia             7/0

Karir Pelatih:
2007-2008                FC Barcelona B
2008-                 FC Barcelona

Sobat Kental Baggio
MAU tahu siapa orang dibalik sikap begitu dewasa Josep Guardiola saat ini?bukan sang istri, Presiden Barcelona Juan Laporta ataupun Frank Rijkaard, tapi nama asal Italia, Roberto Baggio. Yup, berkat mantan striker timnas Italia itulah Pep bisa seperti sekarang, menjadi pria yang tak lagi temperamental dan lebih bijaksana dalam menelaah sebuah masalah.
Bahkan, Si Kuncir sudah menganggap Pep sebagai saudara. Dalam websitenya, Baggio menyebut kalau sosok Pep adalah teman yang sangat enak, mau diajak maju dan berpandangan jauh ke depan. “Tak heran kalau nantinya ia selalu berpikiran 5-10 tahun ke depan dalam membangun tim, dia pasti merangkai tim dengan pemain bertalenta muda, hanya beberapa pemain ‘berumur’ yang akan dipakai sebagai penyeimbang tim,”ungkap Baggio.
Ucapan Baggio di atas memang nyata adanya. Musim ini, mayoritas pasukan barcelona berisi talenta-talenta muda yang siap mencapai puncak pada rentang 3-4 tahun ke depan. Lionel Messi, Bojan Krkic, Sergio Busquet, Xavi Hernandez, Dani Alves sampai Gerard Pique adalah deretan pemain yang semakin matang.
“Dia teman yang baik, apalagi saat kita berbicara tentang kopi dan tempat wisata, keluarga kami juga saling berhubungan, sangat manis jika suatu saat kami bisa bersatu dalam tim,”harap Pep Guardiola.
Perkenalan Pep dengan Baggio sudah berlangsung lama, tepatnya kala perhelatan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Sejak itu, mereka selalu berkomunikasi dna bertemu jika mereka tengah menjalani partai persahabatan klub maupun timnas. “Aku suka Italia, dia ternyata juga suka kawasan Spanyol, terutama Ibiza, jadi kami sangat nyambung,”imbuh Pep.
Ada rencana untuk menangani klub Italia?”Sepertinya tidak ada rencana, itu hasil omonganku dengan Baggio,”tegas Pep.  (persda network/bud)

Obsesi Ala Sir Alex
HARI ini menjadi saat membahagiakan bagi sosok Josep Guardiola. Yup, tepat 38 tahun lalu, ia lahir di kawasan Santpedor, Catalonia. Obsesi sejak kecil memang menjadi pesepakbola. Kini semuanya sudah ia miliki, prestasi di klub dan timnas, nama besar, keluarga harmonis dan karir kepelatihan yang cukup menonjol.
Tapi itu belum cukup bagi sosok Pep. Pasalnya, ia masih terobsesi menggenggam prestasi seperti apa yang dimiliki Sir Alex Ferguson. Baginya, apa yang direngkuh pelatih Manchester United itu sebuah fenomena yang mendorongnya untuk terus membaik.
“Ia seorang legendaris, aku ingin banyak gelar sepertinya. Aku tidak ingin mencontohnya dalam hal kepelatihan, tapi ada dua hal yang dalam pikiran kita sama, regenerasi dan prestasi, itulah dua ciri yang sama. Selebihnya, kita sangat berbeda,”ujar Pep.
Baginya, ulang tahun pertamanya kala menangani klub besar tak akan berarti tanpa kemenangan. Tak heran kalau ambisi mengalahkan lawan terus berkobar. “Ini awal-awal karir kepelatihanku, aku tak ingin hasil buruk, karenanya aku ingin semua armadaku bekerja keras, tak hanya untuk menggapai hadiah ulang tahunku, tapi untuk kejayaan mereka juga, yakinlah itu,”ucap Pep. Tapi hadiah spesial bagi Pep tak lain adalah kemenangan telak atas Deportivo La Coruna. Mau tahu apa yang bakal diperoleh Lionel Messi dkk jika menang besar?.”Mereka boleh libur sehari dan akan kukirim pizza ukuran besar ke markas tim,”tegas Pep.  (persda network/bud)

Pemikir Brilian
ADA satu kebiasaan Pep di pinggir lapangan kala mendampingi anak buahnya berlaga. Selain berdiskusi dengan para asisten pelatih, ia selalu mengernyitkan wajah dengan tangan terpaku pada dagu. Usut punya usut, ternyata itu kebiasaan lama yang selalu hadir sejak menangani tim junior Barcelona di Segunda Division.
Menurut Bojan Krkic, anak buah Pep di tim Barcelona B, sang pelatih memiliki ciri khas berpikir keras. “Dia memang tampak kalem, tapi di kepalanya selalu ada ide-ide cerdas yang akan disampaikan saat jeda. Kalau dia berteriak di babak kedua, berarti ada yang tak beres dengan permainan kami. Nah, itu juga dilakukan di tim utama,dia memang tipikal pria pemikir yang cukup brilian,”jelas Bojan.
Pikiran cerdas Pep memang sudah ada sejak berbaju tim junior Barcelona, yang berlanjut ke tim utama dan timnas Spanyol. Aliran bola dan mengkreasikan serangan menjadi kelebihan tersendiri bagi pria yang di awal mengenal sepakbola berada di klub lokal, Gimnàstic de Manresa.
Kini kecerdasan itu menjadikan El Barca tim supertangguh. Semua itu berkat aksi pemikirannya di awal musim yang berani menendang Ronaldinho dan Deco, dua kreator tim yang selama ini menjadi tulang punggung Barcelona. Gantiya?secara cerdas ia menghadirkan para pemain yang disesuaikan dengan kebutuhan tim dan bayangan permainannya. Itu ada pada Dani Alves, Seydou Keita, Martin Caceres dan memanggil pulang Gerard Piqué bersama Alexander Hleb. Satu nama lagi, Henrique Adriano Buss memang berkualitas, tapi stok non-Uni Eropa sudah melimpah jadi bintang Palmeiras itu dipinjamkan ke Bayer Leverkusen.
Muara dari semuanya sudah bisa dilihat saat ini. Dikombinasikan dengan kekuatan musim lalu, Pep sukses meracik Barcelona. Bahkan, jika dibelah dua, semua skuad El Barca memiliki kekuatan setara. Inilah yang sulit dilakukan para pesaingnya. “Ia memang brilian, aku sangat mengakui semangat juang anak muda itu, ia bakal menjadi pelatih sukses di masa datang, banyak gelar bakal datang darinya,”ujar Frank Rijkaard, ‘mentor’ Pep Guardiola.  (persda network/bud)


Keras di Lini Tengah

DI era Bobby Robson sampai Frank Rijkaard, lini tengah Barcelona menjadi pusat serangan, yang sayangnya tidak terlalu berkembang. Meski mampu menghadirkan banyak gelar, lini sentral ini bukanlah dapur utama. Hal itu berubah di era Josep Guardiola. Kini, sisi penyerang bukan menjadi perhatian utama. Lionel Messi dan Thierry Henry atau Bojan Krkic yang notabene adalah barisan penggedor, memiliki kemampuan ganda untuk bermain di tengah dan depan.
Mau tahu nasib para ‘laskar’ lini tengah itu kala latihan?. Ternyata Xavi Hernandez, Seydou Keita, Yaya Toure dkk mendapat porsi fisik dua kali lebih banyak dibanding skuad lain!. Meski menderita, tetap saja Xavi mengaku mendapat banyak manfaat. “Itu gaya Pep untuk menjadikan pemain lini tengah lebih aktif, logikanya sederhana, pemain tengah harus berlari dua kali lebih panjang dibanding para striker dan bek,”jelas Xavi.
Pep sendiri mengaku metode ini awalnya cukup berat diterima anak buahnya. Di sisi lain, mungkin inilah yang menjadi penyebab hengkangnya Deco dan Ronaldinho. “Fisik adalah yang paling utama untuk bermain di level Eropa, aku memiliki gaya tersendiri, kalau perlu dalam satu pertandingan pemain tengahku bisa berlari sepanjang 20 kilometer!”tegas Pep. Jadi jangan heran kalau lini tengah El Barca begitu dinamis.  (persda network/bud)


Dijadikan Nama Hotel

BELUM memberi gelar juara pada Barcelona, tapi nama Josep Guardiola sudah harum di seantero Spanyol. Ada-ada saja tingkat orang untuk menghormati apa yang telah dilakukan Pep sepanjang setengah musim ini. Seperti apa yang dilakukan seorang pengusaha resort  Juan Sebastian, nama Pep sudah diabadikan menjadi kawasan resort dan hotel miliknya.
Tidak hanya di Catalonia saja, resort milik Juan juga berada di Barbados, Swiss dan pesisir Siprus. Hebatnya, nilai ‘hak cipta’ nama Pep Guardiola terbilang sangat murah, yakni hanya memasang ‘pajak’ 5 persen dari pendapatan resort tersebut per tahun.
“Aku tak masalah, karena itu bentuk kehormatan luar biasa untukku. Yang penting tempat itu bukan untuk hal-hal buruk seperti pesta ganja, apalagi resort itu tetap bernuansa Catalonia,”ujar Pep.  (persda network/bud)

Tolak Jadi Pengacara, Pilih Sepakbola
SELAIN cerdas, kecintaan pada dunia sepakbola juga ditunjukkan Josep Guardiola sejak kecil. Saat masih menikmati dunia pendidikan, otak cemerlang Pep memang sudah terbukti. Ia selalu meraih hasil terbaik sampai duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat atas.
Ia pun dipaksa memilih studi hukum kala masuk ke jenjang perguruan tinggi. Orang tuanya ingin suatu saat dirinya mampu menjadi seorang pengacara hebat, sebuah profesi yang sangat dihormati di Catalonia. Sayang, otak pikiran Pep sudah dipenuhi dengan sepakbola.
Alhasil, ia pun memilih ‘menyerah’ dan meninggalkan bangku kuliah untuk berkarir di sepakbola. Pengorbanannya tidak sia-sia, meski sang orang tua masih kecewa dirinya tak jadi seorang pengacara. “Aku harus menempuh itu, karena aku tak bisa setengah-setengah dalam emnempuh hidup. Pilihan sepakbola adalah yang terbaik untukku,”tegas Pep.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: