useful


Andres Iniesta: The Quicker
February 24, 2009, 2:34 pm
Filed under: news of sport style

TUBUHNYA sempat tak bergerak tatkala Louis Van Gaal memanggilnya. Ia masih sempat menatap Carles Puyol dan Xavi Hernandez. Setelah menerima anggukan kepala dari mereka, barulah pemuda yang saat itu baru berusia 18 tahun bangkit. Melepas jersey cadangan, mendapat arahan sedikit dari Van Gaal, beberapa detik kemudian ia pun sudah berada di lapangan bareng bintang-bintang lain, termasuk pria yang saat ini menjadi pelatih El Barca, Josep Guardiola. Ia masuk menggantikan superstar kala itu, Ronaldinho. Penampilan perdananya tak mengecewakan. Ia mampu beradaptasi dengan cepat dan mengeluarkan tenaga mudanya. Dialah gelandang serang Andres Iniesta.
Sejak saat itu, Iniesta seperti tak pernah lepas dari skuad Barcelona. Ia mampu menjaga determinasi setiap kali tampil. Pergerakannya lincah, punya imajinasi tinggi, tendangan kaki kirinya sama keras dengan kanan, pandai mencari ruang dan meski berposisi gelandang, ia terkenal sangat cepat kala merangsek ke area penalti lawan. Tak heran, ia selalu dijuluki The Quicker, sematan yang merujuk pada kemampuannya untuk selalu beradaptasi dengan cepat,  bermain level tinggi dan bisa mendadak muncul di barisan pertahanan lawan untuk mengancam gawang.
Gambaran itu sudah diperlihatkannya beberapa kali, baik di level klub maupun timnas. Penetrasi mendadaknya seringkali berbuah gol manis dengan ciri khasnya; tendangan keras. “Beruntung Barcelona memilikinya sejak muda, dia aset yang tak ternilai. Kombinasi teknik dan imajinasinya sangat cocok dengan tim yang mengagungkan penyerangan, dia pemain multiguna,” sebut Frank Rijkaard, eks pelatih El Barca.
Meneer yang menemukan kebintangan Iniesra, Louis Van Gaal pun mengaku, talenta muda Iniesta sangat bermanfaat dan tak membuat pusing siapapun pelatih hang menangani klub. “Dia orang yang cerdas, tak banyak tingkah dan berskill tinggi. Satu lagi, hasrat untuk selalu menang ada dalam setiap pergerakan. Aku membayangkan ada Xavi (Hernandez-red), Cesc Fabregas dan Iniesta, andai Barcelona punya trio itu, tak bisa dibayangkan bagaimana tim lawan menghadapinya,” jelas Van Gaal, yang sempat menyayangkan kepergian Cesc ke Arsenal.
Rijkaard dan juga Van Gaal tentu mahfum dengan kemampuan pemain yang sudah bergabung bareng akademi Barcelona di usia 12 tahun ini. Daya dobraknya yang tinggi diimbangi dengan kemampuan untuk menjemput bola. Inilah tipikal gelandang serang modern yang membuat kerja playmaker lebih mudah.
Komentar Xavi Hernandez?”Dia partner yang baik, tak salah kalau ia begitu memanjakan setiap striker dan playmaker sepertiku, jika aku kehilangan bola dia siap mengcover, sebaliknya, jika aku sudah siap dengan skema penyerangan, tiba-tiba saja dia sudah berada di kanan ataupun kiri depanku, jadi aku tinggal menyorongkan saja,” kata Xavi tentang kompatriotnya di timnas Spanyol itu.
Duet keduanya memang sudah memberi bukti. Permainan atraktif Xavi-Iniesta sukses membawa El Matador meraih kampiun Euro 2008. “Aku masih harus terus belajar, usiaku masih muda, jadi tak ada waktu untuk bersantai karena persaingan sepakbola modern makin ketat,” tegas Iniesta, yang menunjukkan profesionalitas tinggi. Itu pula yang membuat publik Camp Nou mencintai pria kelahiran Albacete ini.
Hal itu terbukti saat ia kembali dari cedera yang memaksanya absen dua bulan. Iniesta mewarnai comebacknya dengan mencetak gol saat Barcelona menang 3-1 melawan Real Mallorca, Minggu (4/1) lalu.
Sebelumnya, kala kaki pemain bernama lengkap Andres Iniesta Lujan memasuki lapangan, tepukan bergemuruh membahanan Camp Nou, markas Barcelona. Itulah bentuk apresiasi tinggi terhadap kinerja Iniesta selama ini. Kata lainnya, publik sangat merindukan penampilan Iniesta di lapangan hijau.
Hebatnya, kala itu Iniesta tidak perlu lama untuk mencetak gol dalam laga itu. Ia mampu mencetak gol pada menit ke-76 setelah menerima umpan Eidur Gudjohnsen. “Aku mampu mencetak gol dan membawa tim meraih kemenangan. Itu adalah hal yang paling utama. Aku hanya mencoba membantu tim dan aku bangga bisa kembali setelah tidak bermain selama dua bulan,” ucap Iniesta sumringah.
Pelatih Josep Guardiola sendiri mengaku, kehadiran Iniesta menjadi motivator khusus bagi kinerja lapangan tengah tim besutannya. Saat ini memang Iniesta masih sering duduk di bench, tapi bukan berarti kemampuannya sudah menurun. “Dia masih rentan cedera, jika benar-benar fit tak ada alasan untuk tidak memainkannya, sejak bersamaku dulu, dia adalah gelandang fantastis dan tajam, keeping ball-nya bagus dan mampu membuat teman-temannya termotivasi untuk terus mencari ruang,” puji Pep Guardiola.  (persda network/bud)

Nama; Andres Iniesta Lujan
Lahir: Albacete, 11 Mei 1984
Postur: 170 cm/63 kg
Karir
Tahun                Klub                    Tampil/gol
2000-2002            FC Barcelona B            49/6
2002-                 FC Barcelona                169/14
2006-                Timnas Spanyol            34/6
2004-                 Catalonia                1/0

Prestasi dan penghargaan
Barcelona:
2006-2007 Supercopa de España
2005-2006 UEFA Champions League
2005-2006 La Liga
2005-2006 Supercopa de España
2004-2005 La Liga

Spanyol
Juara Euro 2008
Juara Piala Eropa U-16 (2001)
Juara Eropa U-19 (2002)
Runner up Piala Dunia Junior (2003)

Paling Takut pada Ibu
KASIH ibu sepanjang masa. Kasih anak hanya sedepa alias bisa jadi hanya sejengkal. Kalimat bijak itu pula yang mungkin selalu terngiang di pikiran seorang Andres Iniesta. Menurutnya, sosok sang ibu yang sampai kini tak ingin dikenal masyarakat luas, adalah orang yang paling berjasa dalam kehidupan pribadi. Ia mampu memberikan ‘kehidupan’ bagi Iniesta. Tanpa sang ibu, bisa jadi ia hanya tumbuh sebagai anak yang kurang gizi, tak terawat dan mungkin saja menjadi anak yang tak normal.
Pasalnya, saat kecil, kehidupan keluarga Iniesta nyaris jauh dari harapan. Seluruh keluarga dipaksa untuk bekerja keras. Didikan itu pula yang dirasa Iniesta sampai sekarang. Tak heran, sikap ngotot yang selalu ia tampilkan kala membela Barcelona atau timnas Spanyol berlatar kisah hidupnya di saat kecil. “Aku tak mungkin melupakan itu. Pendidikan alam membuatku harus selalu bekerja keras, tanpa mengeluarkan banyak keringat, tak mungkin kita akan hidup. Nasehat ibu pun selalu kupakai sampai sekarang: bekerja keraslah, karena setiap keringat yang keluar bakal memberimu setenggak rejeki, filosofi itu sangat masuk dalam ragaku,” tutur Iniesta.
Tidak berhenti sampai di situ, sosok yang paling ditakuti dalam hidupnya tak lain memang sang ibu, seseorang yang begitu low profile dan enggan diekspos media massa. Pengorbanan sang ibu tak mungkin terlupakan. Demi kehidupan keluarga, sang ibu sampai rela bekerja menjadi pelayan kelas rendahan di Hotel Rambla, sebuah hotel di Albacete. “Ibu selalu pergi pagi dan pulang nyaris selalu lewat tengah malam. Ia pun pandai membagi waktu untuk anak-anaknya, di saat liburlah aku bisa menikmati kasih sayang ibu,” ucap Iniesta.
Pria yang rambutnya sudah mulai botak di area depan ini menyebut sang ibu bagai malaikat penyelamat hidup. Tak heran ia begitu takut kala ‘sang malaikat’ bakal pergi, ataupun minimal dia marah. “Dia seorang yang benar-benar luar biasa, aku palng takut jika dia sudah memberikan mimik wajah yang seolah-olah menekuk, aku masih sedikit berani pada ayah,” jelas Iniesta. Kini ia hanya bisa berharap sang ibu bahagia. Satu yang menjadi impian sang ibu tapi belum dipenuhi Iniesta adalah membawa timnas Spanyol menjadi juara dunia.  (persda network/bud)

Pemain Penuh Irama
PERMAINAN yang stabil dan terus memikat sejak di level junior membuat Andres Iniesta dijuluki pemain penuh talenta. Perawakannya yang kecil tak dipandang sebagia kelemahan. Justru dengan porsi tubuh seperti itu, membuat pergerakan Iniesta senantiasa susah dikawal. Licin bak belut juga membuatnya bisa bermain dalam segala posisi.
Sejak junior, ia sudah berada di beberapa posisi mulai bek sayap, gelandang kiri sampai striker. Sampai ia akhirnya memutuskan untuk menerima peran sebagai seorang gelandang serang. Tapi tetap saja kemampuan verbal yang berbeda tersebut selalu dimanfaatkan siapapun pelatih yang menangani Barcelona.
Mulai Louis Van Gaal, Frank Rijkaard sampai Josep Guardiola selalu menempat Iniesta di tempat yang berubah-ubah. Kemampuan inilah yang sangat disukai fans El Barca. Tak heran ia seolah menjadi anak emas publik Camp Nou. Julukan khusus pun disematkan pada Iniesta, yakni niño de coro. Frase tersebut memiliki arti penting, yakni sosok yang mampu bermain dengan irama apapun. Predikat istimewa ini merujuk pada performa Iniesta yang langsung bisa memberi warna dalams etiap kali penampilannya. Meski kini masih sering tampil dari bangku cadangan, apresiasi tinggi tetap ditunjukkan publik Catalonia yang memang selalu menjunjung tinggi siapapun produk asli Catalan.
“Dia memiliki irama sendiri, juga pandai memainkan apapun musik yang ingin ditampilkan pelatih. Kami selalu merindukannya untuk merumput. Di atas segala pemain asing, dia dan Xavi menjadi simbol kami di pentas nasional,” tutur Jorge Hernandez, seorang pentolan fans Barcelonistas, merujuk tingginya pesona Iniesta di kalangan warga lokal.
Satu lagi yang menjadikan publik Camp Nou makin menyayanginya adalah, Iniesta menjadi watu di antara sedikit personel El Barca yang memproklamirkan kalau dirinya adalah Anti- Galactico. Pasti Anda sudah mengetahui apa maksudnya bukan?Yup, bareng Xavi, Carles Puyol dan Victor Valdez sudah menancapkan janji untuk selalu ‘membenci’ Real Madrid. “Aku tak akan pindah ke Madrid, itu sbeuah penistaan buatku. Bagiku, bersama Catalonia aku sudah mendapatkan semuanya, dan menjadi bagian sampai masa pensiunku tentu sangat indah, aku mungkin pindah klub di masa akhir karirku, tapi bukan Madrid tujuanku,” tegas Iniesta.  (persda network/bud)

Thank’s La Masia
SELAMA berada di Barcelona ada satu nama tempat yang tak mungkin terlupakan sepanjang hidup Andres Iniesta. Bagaimana tidak, tempat itu seperti menjadi penyelamat bagi kebingungan yang melanda dirinya kala pertama kali menjejakkan kaki ke dunia sepakbola.
Nama tempat itu tak lain La Masia. Bagi publik dunia, menyebut nama itu jelas langsung mengarah pada sebuah kawasan yang bakal berisi anak-anak muda penuh talenta, tentu pada pagi dan sore hari.
Yup, La Masia adalah tempat latihan tim junior Barcelona. “Aku tak mungkin menghilangkan La Masia, dia seperti Messiah yang memberiku jalan, menumbuhkan rasa kepercayaan orang tuaku kala kami tengah kebingungan. La Masia banyak membeir pelajaran berharga,” tutur Iniesta.
Bukan tanpa alasan kalau cowok berpostur 170 cm ini begitu berterima kasih pada La Masia. Karirnya sendiri nyaris berada di Real Madrid. Mungkin dasar sudah berjodoh dengan Catalonia, saat berada di kota Madrid kedua orangtuanya khawatir saat melihat apartemen yang digunakan Los Galacticos untuk menampung para pemain didikannya. Saat itu, apartemen yang rencananya bakal ditinggali Iniesta berada di lingkup yang cukup kumuh dan tingkat kriminalitas tinggi. Walhasil, kedua orang tuanya langsung blik kanan dan mengajak Iniesta kecil ke La Masia.
Tak berlangsung lama, Iniesta langsung menikmati keindahan La Masia, sebuah kamp latihan yang sangat indah dan menyegarkan bagi siapapun yang berada di sana.
“Dia seperti membuatku bak di alam tropis yang segar penuh hijauan, itulah yang membuat para junior Barcelona selalu tampil mengesankan, apalagi pendidikan di sana sangat sistematis dan tidak membuat si anak putus asa, aku bisa katakan kalau lulusan kami pastilah bisa diterima di seluruh tim La Liga ini,” ucap Iniesta bangga.  (persda network/bud)

Terkesan Van Gaal
LOUIS Van Gaal menjadi satu nama yang sangat dijunjung tinggi kehormatannya oleh Andres Iniesta. Meneer Belanda ini sukses memberi tanggung jawab dan pengalaman perdana Andres Iniesta berbaju El Barca. Bukan di level La Liga, tapi justru langsung di tingkat internasional, Liga Champions!.
“Saat itu aku nyaris tak percaya, aku sampai berpandangan lama dengan Van Gaal dan Carles Puyol, apakah ini nyata. Setelah ditepuk, aku yakin kalau ini adalah pengalaman yang tak pernah kusia-siakan, debutku ada di Eropa,” ungkap Iniesta, yang kala itu berusia 18 tahun saat timnya bersua Club Brugge KV.
Di sisi lain, sikap Iniesta yang terbentuk di lapangan saat ini sebagian besar masih mengekor apa yang diajarkan Van Gaal. Kedisiplinan, terus berlatih lebih, pantang menyerah, tak henti menyerang sampai pergaulan di luar lapangan menjadi menu Van Gaal yang masih tersisa.
“Dia sosok pelatih yang tak banyak bicara, sangat keras namun penuh kasih sayang dan bimbingan. Bagi pemain muda, dia benar-benar pelatih mumpuni. Sangat baik bagi pemain junior manapun ditempa olehnya,” jelas Iniesta.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: