useful


Eduardo da Silva: Sutera Kroasia
February 24, 2009, 4:00 pm
Filed under: news of football

MENDARAT pertama kali di Zagreb musim panas tahun 1999, pemuda yang terbilang masih ‘ingusan’ ini nyaris minta kembali pulang ke Brasil. Kondisi politik tak menentu yang tengah melanda Kroasia, membuat sempat merasa ‘ngeper’. Beruntung ada dua nama yang akhirnya mampu membuatnya berubah pikiran dan tetap tinggal di Zagreb. Keduanya adalah Osvaldo Ardiles dan Marijan Vlak, legenda sepakbola yang sudah pasti dikenal publik lokal dan saat itu bergantian melatih klub Dinamo Zagreb. Petuah Ardiles yang sampai saat ini masih dikenang sang pesepakbola adalah,”Nikmatilah sepakbola di manapun berada, karena sepakbola sesungguhnya adalah sebuah seni yang butuh sentuhan pribadi, bukan lingkungan, jadi berkaryalah bak seniman,”. Kala itu, seorang remaja berusia 16 tahun hanya bisa terpaku sembari melongo mendengat petuah legenda sepakbola Argentina tersebut.
Nama pemuda itu tak lain Eduardo Alves da Silva, pria asli Brasil yang kini menjadi warga negara Kroasia. Berkat Marijan Vlak-lah bakatnya terpoles luar biasa, yang membuat pelatih Dinamo Zagreb berikutnya tinggal menikmati ‘seniman’ sepakbola tersebut.
Permainan Eduardo memang punya ciri khas tersendiri. Paling tidak, ia sukses memadukan gaya latino nan indah dengan sepakbola Eropa Timur yang penuh determinasi, cepat dan selalu beradaptasi terhadap setiap lawan.
Tidak hanya itu, skill individu yang mumpuni menambah daya tarik magnet luar biasa dari sosok Eduardo. Gocekan khas latin, keeping ball yang membuat bola seperti tak ingin jauh dari kakinya, akurasi umpan dan tembakan yang mendekati sempurna, visi permainan yahud dan fleksibilitas posisi menjadi sebagian keunggulan Eduardo yang mampu tereksploitasi sempurna. Dinamo Zagreb pun seperti mengalunkan lagu keberuntungan mendapat pemain sekaliber pria kelahiran Rio de Janeiro. Masa kerja empat tahun di klub kebanggaan Zagreb itu pun menorehkan prestasi luar biasa. Bayangkan saja, hanya dalam 111 partai, pemuda yang akan berusia 26 tahun pada Rabu (25/2) mendatang ini mampu menceploskan 73 gol ke gawang lawan alias 0,65 gol per partai.
Angka inilah yang membuat Eduardo ditabal sebagai bintang baru Kroasia. Ia dianggap sangat pantas menggantikan posisi Robert Prosinecki dan Davor Suker. Performa di lapangan yang terbilang luar biasa, membuat dirinya mendapat sebutan Svileni od Hrvatska alias Sutera dari Kroasia. Frasa ini merujuk pada aksi-aksi Dudu di atas rumput hijau yang bisa tampil gemulai, fleksibel dan mampu mengelabui para penjaganya dengan liukan halus bak sutera. Arsenal pun kepincut luar biasa, dan sukses meraih tanda tangan Dudu, sapaan akrab Eduardo, pada musim panas 2007.
“Dia pemain yang sangat luar biasa, punya skill tinggi dan pergerakannya selalu membahayakan area pertahanan lawan. Sangat beruntung kami mendapatkan dirinya di tengah serangan klub- klub raksasa lainnya, dia aset sangat tinggi untuk kami,” ucap Arsene Wenger, orang yang begitu getol ingin mendapatkan pemain berpostur 175 cm, yang tergolong mungil untuk ukuran jajaran striker Eropa ini. Sang Profesor sampai merayu dewan direksi untuk merogoh kocek 12  juta pounds atau sekitar Rp 204 miliar, harga terbilang ‘wah’ untuk pemain jadi yang saat itu berusia 24 tahun.
Pelatih timnas Kroasia, Slaven Bilic termasuk satu orang yang mendukung pergerakan anak buahnya ke kompetisi ketat Eropa. Liukan, imajinasi dan skill yang mumpuni membuat Eduardo bakal menjadi objek luar biasa bek-bek lawan. “Aku percaya dia bisa melewati semua,” ucap Bilic kala itu.
Sayang, cedera fatal menghampiri pada 28 Februari setahun lalu. Pergerakan lincahnya membuat bek Birmingham City, Martin Taylor seperti gemas karena beberapa kali terkecoh. Taylor pun menebas kaki Dudu seperti orang memotong kayu gelondongan. Walhasil, cedera patah kaki nyaris menamatkan riwayat karir Dudu di pentas sepakbola.
Beruntung, masa sepuluh bulan yang kritis mampu dilewati. Hebatnya, usai kembali dari cedera, ia langsung unjuk gigi. Seolah ingin membuktikan ketajamannya tak berkurang, ia sukses menjebol jala Cardiff City di ajang Piala FA, bahkan dua gol sekaligus!. “Ini hari terindah dalam hidupku, kembali bertemu teman-teman seperjuangan, membuat gol, dan menatap masa depan lebih cerah adalah kenyataan yang membuat semangatku membara,” sebut Dudu.
Sayang, tak menikmati terlalu lama hari ‘kebebasan’, Dudu malah terkena cedera ringan. Tapi itu tak membuat rekan-rekannya patah arang. “Dia bakal kembali lagi, dan duet kami di depan memiliki potensi tinggi untuk membombardir pertahanan lawan, liukannya bakal memudahkan semua orang mencetak gol seperti dulu,” komentar Emanuel Adebayor.
Ade jelas sangat gembira. Pasalnya, pergerakan lincah Dudu bakal membuat pertahanan lawan terpecah belah tak karuan. Ditambah Cesc Fabregas atau Samir Nasri yang sama-sama doyan menggocek bola, kehadiran Dudu secara sempurna jelas menjadi petaka bagi bek-bek lawan. “Hal paling penting untuknya adalah menghilangkan trauma, jika itu sukses dilewati, dia bakal makin tajam musm depan,” cetus mantan kapten Arsenal, William Gallas.
Harapan tinggi akan penampilan brilian Dudu disikapi sang pemain dengan bijak. Ia merasa, dalam enam bulan ke depan dianggap sebagai transisi. Tapi tetap, ia ingin terus mencetak gol dalam sisa waktu kompetisi. “Dia hebat, aku pikir obsesinya bakal terwujud asalkan bek-bek di Premiership tak menerjang sembarangan,” dukung Niko Kranjcar, kompatriot senior Dudu di Premiership.  (persda network/bud)

Nama; Eduardo Alves da Silva
Lahir: Rio de Janeiro, 25 Februari 1983
Postur: 175 cm/68 kg
Karir:
Tahun                Klub                Main/gol
2001-2007            Dinamo Zagreb        111/73
2002-2003            Inter Zapresic            15/10
2007-                 Arsenal            17/4
2004-2005            Timnas Kroasia U-21        12/8
2004-                 Timnas Kroasia        23/13

Prestasi dan penghargaan:
-Prva HNL 2006 dan 2007 (Dinamo Zagreb)
-Piala Kroasia 2004 dan 2007 (Dinamo Zagreb)
-Piala Super Kroasia 2003, 2004 dan 2006 (Dinamo Zagreb)
-Pemain Terbaik Kroasia 2004 dan 2006
-Pemain Terbaik Liga Kroasia 2004
-Top Skor Liga Kroasia musim 2007

Foto Patah Kaki Paling Diburu
TRAGEDI berkategori horor yang menimpa Dudu, mengundang simpati luar biasa dari dunia sepakbola. Bahkan, di luar itu, banyak atlet papan atas dunia yang bersimpati terhadap kejadian patah tulang yang dialami striker timnas Kroasia itu.
Di sisi lain, berita mengejutkan itu pun menjadi konsumsi luar biasa bagi masyarakat dunia. Bahkan, foto-foto yang menunjukkan proses adegan ‘horor’ yang dilakukan Martin Taylor tersebut mendapat atensi luar biasa. Seminggu setelah kejadian, foto-foto disebarkan secara luas melalui dunia maya, tercatat nyaris seluruh situs yang menayangkan gambar itu mendapat kunjungan lebih dari 5 juta pengunjung!. Sebuah lembaga riset bahkan mengeluarkan angka total 200 juta pengguna internet di seluruh dunia ‘menilik’ foto-foto saat tulang Dudu patah, tepat di atas mata kaki.
“Kalau Anda lihat, saat itu juga pengen rasanya menebas muka si Martin itu, dia memang menyesal, tapi kami justru tak habis pikir kenapa ia bisa berbuat seperti itu, bukankah itu sangat berbahaya, seharusnya ia memiliki rasa solidaritas tinggi dan berpikir seribu kali sebelum mentakling Dudu,” ujar John Saenders, seorang suporter Arsenal.
Memang, jika melihat beberapa foto yang beredar luas di dunia maya, penggemar sepakbola tentu bakal menghujat habis Martin Taylor. Prosesi patah tulang pemain terbaik Kroasia tahun 2004 dan 2005 ini memang sangat mengerikan. Tepat di atas mata kaki alias tulang fibula kiri, tapak sepatu Martin Taylor mendarat dengan keras. Bahkan, beberapa pemain yang saat itu dekat dengan kejadian sempat mendengar bunyi ‘krakk’ sebagai akibat kerasnya benturan antara alas sepatu dan tulang fibula Dudu.
Setelah itu sudah bisa ditebak apa yang terjadi. Dudu hanya mampu meringis tanpa bisa berdiri, dan wajah-wajah panik langsung bermunculan. Beruntung ada Gilberto Silva, satu-satunya pemain yang kala itu berbahasa Portugis. “Aku tahu ada hal luar biasa setelah itu, karena biasanya ia langsung bisa berdiri, tapi ini tidak, dan aku lihat kakinya terasa lemas seolah tak ada tulang, karena itulah aku langsung memutuskan berteriak memanggil tim dokter tanpa persetujuan wasit,” cerita Gilberto.
Kini foto-foto itu bakal selalu dikenang Dudu dan jutaan penggemar sepakbola se-dunia. “Aku tak pernah lupa dengan kejadian itu, seumur hidupku,” tutur Dudu.  (persda network/bud)


Thank’s Andreja

PERJALANAN Eduardo dalam masa penyembuhan terbilang cepat, lebih cepat dari yang diperkirakan semula. Pasalnya pada Juli 2008 lalu, ia malah sudah mulai berlatih berjalan. Proses penyembuhan yang sangat cepat ini jelas membahagiakan semua pihak, sekaligus kejadian yang cukup mencengangkan. Apa rahasia di balik itu semua?
Selain sisi pemakaian medis yang berteknologi tinggi ditambah pengobatan tradisional ala Brasil, bagi Dudu peran keluarga memberi porsi paling besar. Pengaturan gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari, semuanya nyaris diatur sang istri Andreja dan putri semata wayangnya, Lorena. Tak heran Dudu mengaku sangat berterima kasih pada sosok istri dan keluarga secara keseluruhan.
“Aku sangat berterima kasih pada istri dan anakku, mereka sungguh luar biasa dan kini aku tengah memiliki motivasi tinggi, ini bagus untuk menghilangkan stres akibat cedera tak terduga ini,” jelasnya.
Di Brasil sendiri, Dudu selalu melakukan terapi berlari dan mengolah bola bersama sang istri!. Beberapa kali mereka menggunakan pantai sebagai dasar pergerakan tulang kaki sang striker yang sudah mengemas 13 gol bersama timnas Kroasia dalam 22 caps.
Kini Andreja pun tak kuasa menutupi rasa bahagia. Pancaran itu terlihat kala dirinya terus mendampingi sang suami. “Aku punya obat tradisional yang harus selalu dioleskan pada bagian yang cedera, dan Dudu merasa nyaman dengan itu,” ucap Andreja, yang tak pernah absen merawat sang suami, 24 jam penuh dari sejak kejadian pertama sampai masa terapi. (persda network/bud)

Pria Sensitif
MESKI tampak kalem di arena pertandingan, sosok Eduardo da Silva memiliki tingkat sensitifitas tinggi. Beruntung, hal itu tak pernah menyulut di lapangan, dan hanya saat-saat tertentu saja keluar.
“Ia memang aneh, Anda tak akan percaya kalau ia punya sifat seperti wanita yang sangat sensitif terhadap semua hal. Beruntung, selama ini sifat itu tak pernah ia keluarkan dalam kehidupan keluarga, tapi aku tahu dia punya sifat itu,” ucap Andreja, sang istri.
Sifat sensitif negatif yang pernah keluar dari dalam diri Dudu saat ia berselisih dengan sang paman dari pihak istri. Kala itu, Dudu dituntut sebesar 1,2 juta euro oleh paman istrinya karena belum membayar komisi atas transfernya ke Arsenal. Sang paman yang berdarah Kroasia, Miljenko Radivojevic, mengungkapkan Eduardo gagal menghormati kontrak kerja yang mereka sepakati di tahun 2003 lalu. Dalam kontrak itu dijelaskan kewajiban Dudu agar membayar komisi kepada Radivojevic jika pindah ke klub asing.
Jumlah uang yang belum dibayar Dudu, sebesar sebesar 10 persen dari 12 juta euro biaya transfernya dari Dinamo Zagreb ke Arsenal. Radivojevic menjadi perwakilan dan penasehat Dudu untuk urusan kontrak dan juga sponsor. Saat itulah Dudu langsung bereaksi dengan menyebut paman dan bibinya sebagai penipu. Menurut sang pemain, kontrak mereka berdua
sudah dihentikan sehingga dirinya tak punya kewajiban apapun.
“Aku tak suka dengan sistem seperti mereka, kalau mereka bilang secara sopan tentu bisa kupertimbangkan karena mereka juga keluargaku juga, tapi ini tidak. Kondisi inilah yang membuatku terasa disepelekan,” ucap Dudu.
Andreja pun menyebut, sisi sensitif ini justru paling sering mengeluarkan energi positif. “Dia paling sering tahu apa yang terjadi dengan anak kita, atau aku kurang perhatian terhadap tetangga, atau bahkan masakanku kurang seperti biasa, dia memang perasa, tapi jarang pada hal- hal negatif,” sebut Andreja. (persda network/bud)


Bawa Jasa Psikolog

SETELAH sembuh dari cedera parah, Dudu mengaku kini lebih ekstra hati-hati. Masa tersulit sudah dijalani pemilik darah Portugis ini. Pelanggaran keras bek Birmingham Martin Taylor yang membuat kaki Eduardo patah dan hampir membenamkan semangatnya kembali bisa merumput.
Dudu pun tak malu untuk menyatakan terima kasih pada Gary Lewin, psikolog The Gunners. Lewin dinilai mampu membangkitkan semangatnya untuk pulih meski memerlukan waktu lama.
“Cedera menjadi kuburan dan aku hampir kehilangan kaki. Jadi, aku akan selalu berterima kasih kepada Lewin untuk dukungan yang mampu membangkitkan keyakinan bisa sembuh. Ini sangat memberi kepercayaan. Aku tidak ingin mengingat kembali kejadian itu,” kata Dudu, yang mengaku masih terus terngiang saat melihat kakinya berputar!.
Kini, meski sudah sembuh 90 persen, ia tetap menggunakan jasa psikolog arahan Lewin. Tidak hanya Lewin, beberapa psikolog perempuan pun dilibatkan untuk menangani sang striker ini. “Itu pilihan Lewin karena ia menganggap aku bisa lebih rileks jika ada suara cewek ketimbang suporter pria, beruntung istriku tak pernah mempermasalahkan itu, karena dia tahu akau tak mungkin berbuat macam-macam,” tegas Dudu. (persda network/bud)


Nonton Video dan 25 Ribu Email

LUAR biasa rasa cinta dan simpati yang ditunjukkan penggila bola di seluruh dunia. Selama masa sakit, Dudu menerima 25 ribu email yang mendoakan dirinya agar segera pulih. Sayang, ia mengaku belum menerima sekalipun permohonan maaf dari orang yang membuatnya terkapar selama setahun, Martin Taylor. Dudu pun menonton lusinan video guna mengubur masa jenuhnya. Tetapi dia tidak menonton satu video berdurasi 7 menit yang membuatnya trauma.
“Aku menerima banyak surat dari orang-orang yang mendoakanku segera pulih, tak kurang 25 ribu email dari Kroasia, Brasil dan Inggris. Mereka berharap aku bisa segera pulih.” ungkap Dudu.  Ketika mencetak gol pertamanya ke jala Cardiff, Dudu mencium cincin pernikahan sebagai ucapan terima kasih atas dukungan keluarga, juga para penggemar.
Di sisi lain, Dudu mengaku heran mengapa Taylor tidak meminta maaf. Sementara ribuan orang yang tidak dikenal mengirim email yang menyemangati dirinya. Ia mengaku sulit melupakan kejadian setahun silam ketika Taylor melakukan tackling keras terhadap dirinya. ”Aku tidak mengira dia akan melakukan tackle. Karena itu, aku tidak sempat menghindar,” ungkap Dudu.
Selama setahun masa pemulihan, Da Silva mengaku mengisi waktu dengan menonton lusinan video. ”Setelah keluar dari rumah sakit, aku menghabiskan waktu di tempat tidur sambil makan popcorn dengan kaki digantung di udara, menonton lusinan video,” jelas Dudu.
Namun, lanjut Da Silva, ada satu film yang tidak ingin dilihatnya. Yakni film berdurasi 7 menit yang menggambarkan insiden ketika Taylor melakukan tackling keras terhadap dirinya. Striker berusia 25 tahun itu juga tidak membaca koran, menonton televisi dan berselancar internet karena bakal trauma jika ada berita tentang insiden tersebut.  (persda network/bud)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: