useful


Kesulitan Lanud Husein Sastranegara Masuk Grade IV
April 7, 2009, 9:13 am
Filed under: news around Indonesia

Sejak dulu Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung, memang
dikenal sebagai bandara yang memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi. Di tataran pilot maskapai Penerbangan Garuda Indonesia masa lalu, Lanud ini juga menjadi tempat yang paling sulit untuk menerbangkan atau mendaratkan pesawat.
Hal ini diakui oleh mantan kapten pilot Garuda, Capt M Syafei MM. Dijelaskannya, pilot-pilot Garuda menggolongkan tingkat kesulitan bandara dalam empat kelas. Husein
Sastranegara menjadi salah satu yang paling sulit. “Kalau kita mengelompokkannya, Bandara Husein Sastranegara masuk dalam bandara dengan grid IV, atau yang paling sulit,” kata Syafei saat dihubungi di Jakarta, Senin (6/4) malam.
Selain Husein Sastranegara ada bandara lain yang sama sulitnya yaitu bandara lama
Padang, Bandara Samratulangi (Manado) dan Bandara Patimura (Ambon). Sedangkan untuk bandara dengan faktor kesulitan yang paling rendah masuk dalam grid I seperti Bandara Depati Amir (Pangkalpinang) dan Teluk Betung (Lampung).
Dari bandara-bandara di grid IV, Husein Sastranegara juga terbilang paling sulit. Letak geografis menjadi faktor utama kesulitan tersebut, selain terletak di daerah pegunungan, karena Bandung adalah kota di ketinggian, maka cuaca pun sangat berpengaruh. Angin
kencang berputar pun kerap terjadi. Kabut pun bisa mendadak datang yang bisa menghalangi penglihatan hingga kurang dari 100 meter.
Syafei yang belasan tahun mengawaki pesawat-pesawat Garuda sejak tahun 1974 itu menjelaskan, karena dikelilingi oleh pegunungan bandara ini hanya memiliki satu celah untuk masuk yaitu celah Padalarang. Dari celah itu pesawat bisa mendarat atau menerbangkan pesawat di runway yang tergolong pendek.
“Nah situasinya jadi akan sulit apabila cuaca tiba-tiba memburuk. Di sini pilot harus mampu membuat keputusan secara cepat dan tepat. Dan dibutuhkan pengalaman yang cukup, untuk bisa membaca tanda-tanda alam. Bayangkan saja bila situasinya berkabut, sulit untuk melihat pegunungan yang berderet memutari Kota Bandung,” ujarnya.
Maka tidak heran apabila di bandara ini sering terjadi kecelakaan pesawat, itu terjadi sejak dulu. Pernah juga tahun 70-an pesawat Dakota milik Garuda jatuh di sana karena cuaca buruk.
Karena sangat sulitnya, Garuda saat itu juga membuat kebijakan agar kapten pilot baru tidak boleh menerbangi ke bandara ini. Pilot in command haruslah pilot yang telah dua tahun menjadi kapten.
“Kalau untuk pilot, harus dua tahun menjadi kapten dulu, sedangkan kopilotnya minimal harus pengalaman empat tahun. Karena kalau kurang pengalaman, salah-salah bisa kecelakaan,” kata Syafei.
Dijelaskannya, pada saat cuaca hujan dan berkabut akan menjadi masalah besar dalam
penerbangan di Husein Sastranegara. Karenanya pilot harus benar-benar menggunakan prosedur penerbangan dengan penuh disiplin. Pilot tidak boleh memaksakan untuk terbang atau mendarat pada situasi seperti ini. Mendingan pendaratan ditunda karena bisa membuat celaka. (PersdaNetwork/ Hendra Gunawan)


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: