useful


Penghitungan Cepat KPU Kacau
April 13, 2009, 11:22 am
Filed under: news around Indonesia

Penghitungan cepat hasil pemungutan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) kacau. Selain lambat, hasil tabulasi tersebut juga susah dilihat melalui internet. Bahkan, empat hari pasca pemungutan suara, yang bisa ditampilkan tekhnologi tersebut masih sekitar 10 persen.
Hal itu diakui tim IT Badan Pengkajian dan Penerapan Tekhnologi (BPPT), Oskar Riandi di kantor KPU Jakarta. Menurutnya, lambatnya publikasi data hasil pemungutan suara tersebut disebabkan tidak seragamnya kertas formulir C1 IT yang dimasukkan dalam mesin scan yang ada di KPU kabupaten dan kota tersebut.
Lebih lanjut dia menjelaskan, formulir C1 IT yang digunakan sebagai rekap hasil penghitungan tersebut harus menggunakan kertas ukuran 70 gram. Sedangkan banyak daerah yang menggunakan kertas ukuran 60 gram saja dan sebagian malah formulir hasil fotokopi. Akibatnya, mesin scan tidak bisa membaca tulisan tersebut.
“Kelambatan itu karena persoalan formulir C1 IT yang tidak seragam. Sehingga mesin scan tidak bisa membaca data yang dikirim tersebut dengan sempurnan,” terangnya.
Akibatnya, begitu dimasukkan ke mesin scan, data yang diterima di layar operator yang ada di KPU pusat hanya warna hitam saja. Sehingga petugas kesulitan melakukan koreksi dan petugas PPS harus melakukan scanning ulang.
Selain itu, juga banyak petugas PPS yang memasukkan angka hasil penghitungan tersebut salah. Maksudnya, satu kolom yang ada di formulir C1 IT yang harus diisi satu angka saja, tapi langsung diisi tiga angka sekaligus. Akibatnya, begitu discan, angka tidak bisa dibaca dibagian operator.
Kemudian, kolom yang kosong tersebut ternyata diberi garis-garis seperti merekap di kertas biasa. Padahal dengan garis-garis itu, peralatan (mesin scan) membacanya dengan angka satu. Sehingga jumlah angka yang ditampilkannya pun tidak sama.
“Sehingga petugas operator yang seharusnya bertugas menampilkan angka-angka kiriman dari daerah tersebut di internet, harus melakukan koreksi satu persatu. Sebab cara pengisian sejak dari daerah sudah salah. Itulah yang membuat lambat data untuk diakses. Karena petugas harus berulang kali meminta agar diperbaiki lagi,” cetusnya.
Disinggung adanya serangan dari hecker atau tidak sesuai kapasitas jaringan, menurutnya tidak ada permasalahan. Jaringan yang disediakan sudah cukup. Namun, kelambatan tersebut lebih disebabkan karena petugas di daerah ada yang belum faham mengisi formulir C1 IT yang dimasukkan dalam scan tersebut.
Menurut Oskar Riandi, waktu pelatihan yang dilakukan pihaknya terhadap para petugas di KPU kabupaten dan kota sangat mepet. Bahkan, saat pelatihan sekitar 100 KPU yang belum memiliki peralatan (scann) dan vendor. Sehingga petugas yang mengikuti pelatihan tersebut harus beradaptasi dengan peralatan dan jaringan yang baru dibelinya itu.
“Harus diakui, kesiapan petugas di daerah juga masih minim. Waktu pelatihan saja, banyak yang belum punya alat. Sehingga mereka kesulitan saat pelatihan dan perlu adaptasi lagi,” paparnya.
Mengenai peralatan, menurut Oskar tidak ada permasalahan. Karena peralatan yang disediakan 4 vendor antaralain, CV RA Kreasi Tekhnologi Indonesia, PT Adora, PT Smart Tekhnologi Indonesia dan CV Codena yang menyediakan peralatan Intelligen Character Recornition (ICR) sudah memenuhi syarat. Hanya saja petugas lapangan yang mengisi formulir tersebut tidak siap secara maksimal.
Hal senada dikatakan salah satu penyedia vendor, Rio Andita dari CV RA Kreasi Tekhnologi Indonesia. Menurutnya, pada penghitungan saat ini lebih disebabkan formulir yang disiapkan masing-masing KPU tidak seragam dan tidak sesuai syarat. Sehingga, petugas operator harus mengoreksi satu persatu.
Menurut Oskar, saat ini data yang sudah masuk ke tabulasi KPU tersebut sebanyak 50 ribu TPS dari jumlah TPS secara keseluruhan sebanyak 519 ribu TPS lebih.
Jika, masing-masing petugas lapangan bisa mengisi data tersebut dengan benar dan formulir tersebut sesuai dengan syarat, maka petugas mampu mengoreksi sekitar 120 TPS dengan masa kerja sekitar 8 jam. Namun kenyataannya saat ini tidak begitu. Operator yang seharusnya hanya mengecek data yang terkirim, harus mengoreksi angka satu demi satu untuk menghindari kesalahan.
“Kalau petugas lapangan siap seperti saat pelatihan, sekitar 10 hari sudah selesai semua. Tapi ini kenyataannya tidak demikian, banyak yang salah sehingga operator harus mengoreksi. Harus mengerjakan pekerjaan yang bukan tugasnya,” cetusnya. Ditanya apakah penghitungan tabulasi tersebut bisa selesai sesuai jadwal yakni 20 April, dia tidak bisa menjanjikan. Karena, petugas masih mengoreksi satu persatu setiap data yang dikirim. Sehingga data tersebut lambat untuk dipublikasikan melalui internet.
“Kalau masih seperti ini, ya kami tidak berani menjanjikan apakah selesai atau tidak. Tapi kalau sudah belajar, mungkin bisa. Karena hitungan kita, meski kerja santai, hanya 8 jam saja per hari, alat tersebut mampu menyelesaikan 120 TPS. Apalagi ini kerjanya 24 jam,” tukas Oskar.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: