useful


Coba Mega Berani Merah!!!
May 13, 2009, 8:22 am
Filed under: news around Indonesia

Selama ini muncul sebuah stigma yang membuat telinga kanan dan kiri Megawati Soekarnoputri dipastikan selalu memerah. Tak lain adalah sikapnya yang seperti hanya bisa ngotot tapi tak berani mengambil resiko besar. Di satu sisi, tingkat elektabilitas yang ia paksakan terbukti tak mempan. Pun kala Megawati meraih tampuk presiden beberapa tahun lalu, itu hanya dianggap sebuah keberuntungan saja, karena saat itu posisi poros tengah tak terlalu kuat untuk ‘menjerumuskan’ Mega lebih dalam.
Kini, momentum Mega kembali menguat. Apalagi setelah SBY kemungkinan besar bakal menggandeng Boediono, tentu perang figurlah yang akan menjadi faktor utama. Kini tinggal megawati sendiri yang punya kunci, beranikah iabenar-benar merah di depan khalayak ramai, bukan bermain kucing dan cenderung diam seperti dulu-dulu lagi?itu yang masih menjadi PR besar bagi PDIP. Karena usai pemilihan legislatif kemarin, PDIP seperti partai ‘kacangan’ yang tak berani berdiri sendiri dan menentukan sikap sendiri. Istilahnya, PDIP sangat takut kehilangan momentum merebut kekuasaan. Lebih kejam lagi, ada yang menyebut PDIP hanya mengejar kekuasaan untuk menumpuk dana akibat kekalahan di tahun 2004 dan untuk menghidupi periuk organisasi yang cukup besar ini.
SBY-Boediono dan JK-Wiranto jelas menjadi musuh yang sudah seimbang. Artinya figur SBY bisa saja ditandingi Jusuf Kalla. Paling tidak segmen Barat dan Timur, Jawa dan Luar Jawa, menjadi semakin kental. Bisa dibayangkan perang antara Barat (SBY) dan Timur (J.K). Perang kedua cawapres mereka, Boediono dan Wiranto pun tak kalah seru. Dua kutub berbeda 180 derajad menjadi anyaman yang paling menarik. Warna warni keekonomian yang perang dengan militer, tentu saling melengkapi capres mereka, sangat menarik perhatian. Wiranto jelas sudah punya nama, Boediono lemah untuk hal ini. Tapi semua orang pasti mahfum, mesin politik Demokrat bakal bergerak cepat untuk mendongkrak nama Boediono. Jelas, untuk yang satu ini Demokrat bisa maju selangkah.
Suasana memang sangat menarik, karena dua kandidat yang sudah terang-terangan menunjukkan batang hidungnya adalah kombinasi antara militer dan ahli strategi ekonomi, sebuah kombinasi kepemimpinan yang dianggap ideal untuk memimpin Indonesia kekinian.
Persaingan kedua pasangan kandidat di atas jelas sangat menarik. Paling tidak, dilihat dari sisi apapun, mereka punya kans besar untuk saling tonjok dan menyusul. Sekarang, konsentrasi yang harus dilakukan adalah pemilihan gaya konservatif, kompromistis, liberal, neo -liberal atau justru psychologi-demografis. Jelas hanya tim perang mereka sendiri yang tahu. Yang pasti, saat ini Jusuf Kalla dipastikan senang bukan kepalang dan lega karena SBY hanya merangkul Boediono. Tentu saja ini kabar menggembirakan dibanding SBY memilih tokoh politik lainnya. Kini kekuatan JK-Win dianggap bisa menjadi batu sandungan luar biasa bagi eksistensi incumbent.
Nah, kembali ke Mega, kini tuntutan bagi putri sang Proklamator ini adalah meniru sang ayahanda, berani bergerak, maju, menampiaskan segala resiko, dan berusaha untuk membuktikan kalau dirinya juga terus eksis. Selama ini, terkesan para elit di PDIP sangat takut terhadap Mega. Padahal sebenarnya para pemuda PDIP bisa memimpin partai moncong putih ini. Sayang, mereka hanya mau tiarap tak ada yang berani menyalahkan sang ketua partai. Sikap cengeng ini ternyata dianggap menular saat PDIP bermain politik praktis. Secara nyata mereka selalu kalah berkompetisi dengan partai lain, imbasnya posisi PDIP selalu berada di nilai tawar yang kurang bergengsi. Ditambah simbolistis kalau SDM yang ada di lingkup PDIP selalu rendah dan kalah pengalaman serta tak pandai bernegosiasi akibat keterbatasan kemampuan otak, apalagi di tingkat daerah.
Kini, semuanya tergantung pada Mega. Karena hitung-hitungannya jelas, SBY hanya memasang Boediono, apa nilai jualnya?. Atau JK yang bersalaman dengan Wiranto, jenderal yang jelas-jelas penuh masalah.
Kini Mega harus menentukan sikap kalau tak ingin makin terbenam. Pasalnya, saat pemilu lima tahun ke depan, namanya sudah tak lagi beredar langsung di lapangan, itu sudah pasti. Beranikah Mega memilih merah!. Salut kalau berani, kalau tidak berarti dia benar-benar harus tiarap dan mendingan berlibur di puncak atau Blitar sana. Tabik


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: