useful


Diego Ribas: Il Cambia
July 10, 2009, 3:51 pm
Filed under: news of football

KEHADIRANNYA di lingkup dunia sepakbola seperti sudah ditakdirkan punya karakter dan corak tersendiri. Semua itu membuat dimanapun ia bermain, selalu memberi warna permainan khusus. Saat memulai karir profesional misalnya, ia mampu memberi 38 gol bagi Santos, juga 23 gelontoran ke gawang lawan untuk dipersembahkan pada timnas Brasil U-17 dan 5 gol di level U-23. Bahkan bakatnya dinilai lebih besar ketimbang kompatriotnya di timnas junior Brasil, Robinho. Sedikit membedakan, Robinho terlalu lunak, sedang yang satu ini punya karakter keras baik di luar maupun dalam lapangan hijau.
Mau tahu siapa dia?. Dialah yang kini mampu menggairahkan jajaran tifosi Juventus. Juventini percaya, kehadiran Diego Ribas, nama sang pemain, mampu memberi perubahan signifikan untuk mengembalikan kegairahan bermain yang berujung pada prestasi mengkilap di akhir musim nanti. “Dia adalah kunci kami menuju gelar domestik dan prestasi Eropa!” tulis para Juventini di situs klub, sesaat setelah Diego diperkenalkan pada publik dua hari lalu.
Kehadiran Diego di Juventus memang memberi harapan baru bagi para penggemar La Vecchia Signora di seluruh dunia, yang berharap timnya bisa bangun dari peraduan untuk berkompetisi ketat musim depan. Media berbasis di Turin, Tuttosport bahkan sudah memberi julukan khusus bagi pesepakbola berusia 24 tahun tersebut, yakni Il Cambia alias Sang Pengubah.
Gelar tak resmi tersebut sepertinya memang sangat cocok bagi sepak terjang Diego. Buktinya, di manapun dia bermain, pria berpostur 175 cm ini mampu memberi perubahan sistem permainan klub. Santos, Porto sampa Werder Bremen sudah pernah mendapat sentuhan luar biasa sang pemain. Visi, gocekan, kemampuan mengatur posisi teman, cepat beradaptasi, mudah membaca permainan lawan, skill individu mumpuni, tendangan akurat, atraktifitas umpan sampai pada kemampuan mengeksekusi tendangan bebas. Tak pelak, ia dianggap sebagai sosok yang mirip dengan Dewa Juventus, Alessandro Del Piero.
“Saya datang memang untuk memberi perubahan permainan, saya selalu ingin bermain ofensif dan memberi kesulitan pada lawan. Tapi khusus pendapat yang menyebut saya seperti Alex, jelas itu salah besar. Saya masih terlalu minor dibandingkan dengan maskot tim seperti dia, saya hanya berusaha mengimbangi permainannya,” tutur Diego.
Il Cambia memang bakal memberikan segalanya pada klub raksasa tersebut. Paling tidak, ia sudah pasti akan bermain beda dan memberi warna tersendiri di lini tengah Juventus. Pelatih anyar Ciro Ferrara bahkan sudah membayangkan energi muda di lini sentral timnya. Apalagi kehadiran Diego langsung memberi efek pada perubahan pola dasar. Dari sisi ini saja, Diego sudah mampu menempatkan dirinya sebagai sang pengubah. Musim lalu Le Zebre bermain dengan 4-4-2, seiring kehadiran Diego, centrocampista bakal diaktifkan kembali. Kombinasi Diego yang disokong Felipe Melo, Mohamed Sissoko dan Cristiano Zanetti atau Claudio Marchisio bakal memberi ledakan darah muda. Tak heran kalau musim depan, lini depan Juventus bakal semakin tajam, baik Alex Del Piero-Amauri, Alex Del Piero-Vicenzo Iaquinta atau Amauri-Iaquinta.
“Diego akan memerankan susunan permainan, dia sangat penting bagi tim muda yang tengah kami bangun. Usianya yang baru 24 tahun semakin lengkap dengan pengalaman segudang yang telah ia jalani. Ia aset sangat berharga untuk kami, dan langsung menjadi kunci permainan,” tegas General Manager Juventus, Jean-Claude Blanc.
Mendapat sanjungan setinggi langit, Diego pun berusaha merendah. “Saya sangat antusias dan bangga bisa bergabung dengan Juventus, tim yang sangat prestisius dan menjadi incaran para pemain terbaik di dunia. Di sini saya akan belajar banyak hal, sekaligus memanfaatkan pengalamanku di Portugal dan Jerman. Bersama Juventus, saya yakin bisa memproduksi banyak gol dan meraih gelar juara,” tegas Diego.
Sementara Direktur Olahraga Alessio Secco mengaku, sosok Diego adalah pesepakbola yang sangat unik di Eropa. Kemampuan langkanya, atraktif bercampur emosional, menjadi modal besar mengarungi persaingan di Serie A dan Liga Champions. “Performanya musim kemarin sangat bagus baik di Jerman maupun Eropa. Tak diragukan lagi dialah senjata mematikan kami musim depan di Liga Champions,” tegas Secco.
Sang maskot Juventus, Alex Del Piero mengaku, bergabungnya Diego bakal membuat seluruh tim di Serie A kalang kabut. “Dia masih muda tapi sudah berpengalaman 7 tahun, tekniknya juga sangat tinggi, saya jamin Inter, AC Milan ataupun AS Roma bakal bergantian mencoba menjatuhkannya, kini tugas kami lah untuk menuntaskan peluang yang ia buat,” sanjung Alex, tentang Il Cambia. (persda network/bud)

Nama: Diego Ribas da Cunha
Lahir: Ribeirao Preto, 28 februari 1985
Orang tua: Cecilia and Djair
Saudara: Daiane and Djenane
Postur: 175 cm/76 kg

Prestasi dan penghargaan:
America Cup 2007 (Timnas)
German League Cup Champion 2006 (SV Werder Bremen)
Portuguese Champion 2006 (FC Porto)
Toyota Cup (FC Porto)
Super Trophy Candido Oliveira 2004 (FC Porto)
South American Champion 2004 (playing first round) (Timnas Brasil)
South America Cup 2004 (Timnas Brasil)
Brazilian Championship 2002 (Santos FC)
XXX Toulon Tournament Champion (Brasil U-20)
Canary Islands Tournament 2001 (Brasil U-17)
IX South American Championship 2001 (Brasil U-17)
Player of the month (August), elected by Kicker magazine 2007
Player of the month (October), elected by Kicker magazine 2007
Player of the month (December), elected by Kicker magazine 2007
Most voted player by the Bundesliga’s site 2007
Best player for the first part of the 2006/07 season in the Bundesliga
Medal for the the most beautiful goal in October
Medal for the the most beautiful goal in April
Efes-Pilsen-Cup Champion
Second best player in the Bundesliga, elected by Bild magazine 2007
Best player in the Bundesliga, elected by Kicker magazine 2007

Penyuka Dolce&Gabbana
SEPERTI layaknya anak muda seusianya, Diego Ribas da Cunha juga menjadi konsumer sejati dunia mode. Sayang, dia mengaku tak terlalu ingin masuk ke pangsa pasar fashion style. Meski beberapa kali ditawari menjadi model profesional, ia memilih untuk ‘bermain’ di level biasa dengan tuntutan kerja yang tidak terlalu keras.
Namun untuk gaya hidup di level fashion, ia punya selera tersendiri, dan itu cukup tinggi. Tengok saja kala pria kelahiran Ribeirao Preto, Sao Paolo ini hanya memilih koleksi rumah mode Dolce&Gabbana sebagai pirantinya saban hari. Mulai dari busana resmi, kaos, kemeja, jas sampai parfum semuanya bermerk rumah produksi asal Italia tersebut.
“Pesepakbola jangan selalu menjadi objek semata, harus ada keseimbangan, dan saya lebih baik memuaskan diri dengan fashion, sesekali ke klab malam tentu boleh, tapi saya memang suka produk-produk Dolce&Gabbana, elegan dan menunjukkan ke-cowok-an sejati,” tegas Diego.
Dalam beberapa pose yang dirilis media Jerman, tampilan Diego dengan produk Dolce&Gabbana selalu digabungkan dengan wajah miliknya yang biasanya sudah dipenuhi berewok dan jambang.
Kini setelah ia pindah ke Italia, tentu Dolce&Gabbana semakin melekat. Bahkan bukan tidak mungkin kalau ia pun bakal dilirik produsen yang bermarkas di Milan tersebut sebagai bintang iklan atau duta besar produk.
Tentang kemungkinan ini, sebulan lalu di Bild.de. ia mengungkapkan semua itu bukan concern- nya. “Saya hanya ingin bermain sepakbola di sana, kalau memang mereka mau, mungkin saya akan pikirkan dulu karena di tahun pertama saya ingin sukses dan bermain baik, barulah setelah itu, di tahun kedua bisa jadi saya akan terima tawaran mereka, itu kalau mereka mau mendekat,” ucap pemain Latin satu-satunya milik Juventus ini. (persda network/bud)

Gol Amigo untuk Anak-anak Brasil
SUDAH jadi rahasia umum kalau banyak pesepakbola Latin yang berkarir di Eropa selalu punya kegiatan sosial. Termasuk di dalamnya Diego. Namun dibanding beberapa koleganya, Diego termasuk yang cukup berbeda di level pelaksanaan. Jika sebagian legiun Brasil yang berada di Eropa hanya menyetorkan uang ke lembaga nirlaba yang beredar di kampung halaman, ia mengaku kurang menyukai alur seperti itu.
Tak heran kalau ia pun lebih memilih menyerahkan langsung kepada yang berhak, meski harus terbang jauh melintas antarbenua. “Itu memberi efek kepuasan dan kita tahu sendiri ke mana dana yang kita sisihkan dari gaji kita. Jadi saya lebih baik kehilanga beberapa ribu euro lagi untuk tiket pesawat ke Brasil, cukup dua hari setelah itu kembali lagi ke Eropa, itu pilihan yang mungkin orang bilang kurang kerjaan karena sudah ada teknologi, tapi bagi saya jelas beda. Saya ingin merasakan apa yang mereka alami di sana, paling tidak jadi cermin dalam kehidupan saya, ternyata saya sangat beruntung dengan semua yang telah saya capai semuda ini,” tutur Diego.
Alasan itu pula yang membuat dirinya berkonsentrasi pada pengalokasian dana bagi pengembangan anak-anak di bawah umur yang harus bekerja keras mencari sesuap nasi. Melalui lembaha bernama Gol Amigo, Diego memberi bantuan uang dan teknis bagi mereka anak-anak di sekitar tempat kelahirannya, untuk menikmati beragam fasilitas pendidikan, baik formal maupun sepakbola.
Tidak hanya dari gajinya sendiri, Diego juga menggelar acara pengumpulan dana dengan menjual beberapa hal yang berhubungan dengannya seperti penjualan replika diri, poster, merchandise sampai foto seni Diego. Hasilnya, setiap tahun Gol Amigo mampu menggelontorkan dana minimal 5 juta euro atau lebih dari Rp 82,5 miliar. “Saya tahu itu jelas kurang, karena memang tidak seimbang dengan populasi anak jalanan di sana. Tapi setidaknya inilah langkah awal agar anak-anak itu tak berkeliaran di jalanan,” tegas Diego, yang sangat bahagia dan bersemangat jika anak-anak itu bisa tersenyum padanya dengan ikhlas. (persda network/bud)

Arti 28: Tanggal Lahir dan Kesempurnaan
DATANG ke Juventus, Diego langsung memilih nomor kostum 28, bukan 10 seperti yang ia pakai di Werder Bremen. Alasan utama jelas ia tak akan mudah mendongkel si pemilik nomor 10 lama di Stadion Olimpico Turin. Si empunya nomor sekarang, Alessandro Del Piero adalah maskot tim, yang berpredikat tak ubahnya seorang dewa bagi para Juventini.
Karena itulah ia memilih kombinasi angka 2 dan 8 yang dianggapnya masih berdekatan dengan simbolisasi angka 10. Baginya angka 28 punya banyak makna dan arti. Pertama, 28 menjadi representasi tanggal dirinya bisa hadir di dunia ini pertama kali pada bulan Februari 1985. Saat itulah yang terlahir ke muka bumi.
Urutan berikutnya, angka 28 tetap berdekatan dengan angka 10, karena jika dijumlahkan kedua angka itu menghasilkan simbol kesempurnaan. Ia memang memandang semua hal yang berbau 10 sebagai arti kesempurnaan sesungguhnya. “Angka 10 adalah kebulatan tekad meraih kesempurnaan, dan itu pula yang selalu saya tanamkan setiap kali merumput. Betapapun besar dan kuat lawan, jika kami bertekad bulat, mereka pasti lintang pukang,” tegas Diego.
Tidak berhenti disitu, harian Tuttosport juga menyebut angka 28 selalu berkaitan dengan angka keberuntungan dan simbolisasi yang berhubungan dengan dunia ilmu pengetahuan. “Yang jelas, saya ingin memberi gelar di tahun pertama bersama Juventus, tentu itu bisa menjadi simbol kesempurnaan dalam karirku,” cetusnya. (persda network/bud)

Nyaris Ingin Bela Italia
ADA satu hal yang mungkin tak banyak diketahui banyak orang namun sangat penting bagi Diego kala memutuskan untuk menerima pinangan Juventus. Semua itu tak lain karena dirinya punya pasport Italia. Meski tak disebutkan darimana ia memeroleh simbol yang bisa membuat sang pemilik menjadi warga negara tempat keluarnya pasport, Diego jelas paham betul kalau dirinya juga punya kaitan erat dengan ranah Italia.
Sayang, sekali lagi tak ada cerita lebih lanjut yang mengungkapkan ada hubungan darah apa antara Diego dan Italia. Yang jelas, punya pasport Italia membuat dirinya nyaris ingin membela timnas senior Italia. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun lalu, usai dirinya ikut dalam timnas U-23 tahun. “Saat itu ada tawaran karena saya bisa memeroleh pasport, sayang saya tak ingin mengkhianati negara asal, jadi saya putuskan untuk tetap membela Brasil, Italia hanya sebagai cerita lama saya,” ucap Diego.
Meski nantinya ia akan berjumpa dengan Amauri di tim Juventus, pemuda yang punya kekuatan pada kedua kakinya ini, tak akan terkena rayuan Amauri yang belum-belum sudah menyesalkan dirinya tak memilih Italia. “Kemarin saya sudah berbicara dengan Amauri saat peluncuran kostum baru Juventus. Saya tidak tertarik sama sekali, hanya memang dulu sempat terlintas, itu saja, tak ada kohesi lain,” cetusnya.
Selain masalah pasport dan keinginan untuk membela timnas Azurri yang pernah ada, Diego juga sudah berjanji untuk mendalami lebih jauh bahasa Italia. Beruntung ia sudah kenal Amauri dan Sissoko, sehingga tak canggung lagi untuk meminta tolong rekan-rekan barunya itu. “Saya harus menguasai banyak istilah Italia dalam tiga bulan awal, paling tidak ini bisa memberi komunikasi yang baik di lapangan, sehingga kami bisa langsung nyetel satu sama lain, apalagi kalau Felipe (Melo-red) benar-benar bergabung,” tukas Diego. (persda network/bud)

Belajar pada Del Piero
BERTEMU dan bermain bersama dengan maestro sepakbola dunia adalah barang langka sepanjang karir Diego. Tak heran saat benar-benar bergabung dengan I Bianconeri, ia pun tahu apa yang harus dilakukannya pertama kali. “Saya harus banyak menyerap pelajaran dari Alex (Del Piero-red), dia adalah panutan kami semua, jadi saya tak akan malu untuk meminta pelajaran beberapa teknik khusus, terutama pengambilan tendangan bebas,” ucap Diego.
Baginya, Alex Del Piero adalah sosok yang harus ‘dicuri’ ilmu dan teknik bermain bola. Gocekan, teknik menendang sampai umpan presisi menjadi incaran Diego. Ia pun tak malu menyebut kalau di tahun pertamanya ini, Del Piero adalah guru. Ia pun sudah mencanangkan tidak hanya belajar tentang dunia sepakbola, tapi juga di luar itu.
Gaya hidup adalah sisi paling diincar Diego. Ia sudah berkomitmen untuk punya keseimbangan antara di dalam dan luar lapangan. Caranya, tentu dengan teknik komunikasi yang bagus dengan semua orang. Meski masih belum terlalu banyak menguasai bahasa Italia, ia sangat paham kalau komunikasi menggunakan bahasa ibu adalah prioritas utama. Selain itu, gaya hidup Del Piero di luar sana jelas mencerminkan sosok yang menjadi suri tauladan.
Tak ada gosip, juga tak pernah terlintas skandal panas adalah ciir khas Del Piero. Tentu kondisi ini bukan semata hadir dengan sendirinya tapi perlu kerja keras yang terus menerus. “Karena itulah saya akan belajar menjadi pesepakbola yang seimbang di dalam dan luar lapangan, hidup tanpa gosip yang memusingkan tentu lebih baik daripada selalu dikejar-kejar wartawan,” kata Diego, yang sudah berjanji sedikit demi sedikit akan meninggalkan dunia malam. (persda network/bud)


1 Comment so far
Leave a comment

100 %JUVE..

Comment by Menot




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: