useful


Deretan Mobil Keren di GAIKINDO Indonesia International Auto Show 2015 (9)
DERETAN pose mobil-mobil Mercedes Benz di GIIAS 2015

DERETAN pose mobil-mobil Mercedes Benz di GIIAS 2015

IMG_9241 IMG_9242 IMG_9243 IMG_9244 IMG_9245 IMG_9246 IMG_9247 IMG_9248 IMG_9249 IMG_9250 IMG_9251



Deretan Mobil Keren di GAIKINDO Indonesia International Auto Show 2015 (5)
VARIAN lain lagi dari booth BMW Indonesia.

VARIAN lain lagi dari booth BMW Indonesia.

IMG_9202 IMG_9203 IMG_9204 IMG_9205 IMG_9206 IMG_9207 IMG_9208 IMG_9209 IMG_9210 IMG_9211



Deretan Mobil Keren di GAIKINDO Indonesia International Auto Show 2015 (3)
VARIAN terbaru dari keluarga besar BMW Indonesia.

VARIAN terbaru dari keluarga besar BMW Indonesia.

IMG_9186 IMG_9187 IMG_9188 IMG_9189 IMG_9190 IMG_9191 IMG_9192 IMG_9193 IMG_9194



Ujung Tombak Siaga 24/7
October 31, 2014, 10:59 am
Filed under: Uncategorized

MALAM masih terasa larut. Hitam pekat menyelimuti langit sebuah desa yang masuk di area administrasi kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Saat sinar bulan tak menyapa bumi, Yuyun (25) harus berjalan, bahkan setengah berlari. Ia bukan sedang berolahraga, karena jelas waktunya tak pas.
Nafasnya tersengal-sengal, dengan rambut panjang yang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri, karena pola kunciran di bagian belakang. Berkostum ala kadarnya, hanya berdaster, ia mengayuh kakinya sekuat tenaga. Ia tak ingin kehilangan waktu sedetik-pun.
Sekali lagi, ia bukan sedang memeras keringat agar tubuhnya tetap sehat, atau mengejar maling. Tapi memang, jantungnya sangat ‘deg-degan’. Sampai di sebuah rumah, ia pun berteriak sembari menggedor-gedor pintu si empunya rumah.
“Bu, tolong Bu. Si Yani sakit demam, panasnya tinggi banget. Saya sudah bingung, karena dia juga sudah tak bergerak lagi,” teriak Yuyun. Tak lama, hanya berselang sepuluh detik, si pemilik rumah keluar. Hebatnya, dia sudah keluar dengan piranti lengkap, mulai dari stetoskop, alat pengukur suhu tubuh sampai tas berisi peralatan dan obat-obatan.
Tak perlu lama, sampailah mereka di rumah. Tanpa berkomentar, Juheni, nama orang yang dimintai tolong, yang juga seorang bidan, langsung bekerja sesuai prosedur standar operasional. Setelah semua diperiksa, ia memastikan si anak bernama Yani tersebut tidak apa-apa. Untuk sementara tidak ada hal negatif, namun tetap disarankan langsung ke puskesmas atau rumah sakit ketika fajar benar-benar menyingsing.
Bagi Juheni, tak sekali dua kali dia mendapati masyarakat di desanya seperti itu. Tak hanya soal sakit anak, tapi jika ada orang dewasa yang terkilir alias keseleo, atau ada anak kecil yang sakit di area kelamin, ia selalu menjadi rujukan pertama. Tugas utama bidan, yang memerika anak balita dan ibu hamil-pun, kini tak lagi dibatasi. Ia seperti halnya dokter umum, padahal kapasitas pendidikan formalnya hanya akademi kebidanan.
“Tapi itulah resiko, karena yang mereka tahu saya ahli dalam bidang kesehatan. Jadi, semua penyakit mulai dari flu sampai alergi, justru pergi ke saya terlebih dulu. Setelah itu, jika saya berkata silakan lanjutkan ke dokter, baru mereka mau,” ungkap bidan yang sudah bertugas di desa tersebut sejak akhir ‘80-an tersebut.
Tak hanya itu saja, seiring dengan bergulirnya waktu, teknologi komunikasi juga sangat membantunya. Kini, ia menggunakan semua jalur agar bisa dengan cepat merespon keperluan warga, terutama bagi mereka yang membutuhkan bantuan pemeriksaan kesehatan.
Telepon seluler alias telepon genggam kini menjadi barang yang wajib dimilikinya. Ia tak lagi menunggu di rumahnya, yang juga tempat kliniknya berada. Kadang, ia juga dijemput keluarga pasien yang sakit dengan sepeda motor. Bahkan saking pedulinya, ia selalu membawa alat komunikasi setiap kali bepergian. Kadangkala, ia harus men-direct alias memberi instruksi apa yang harus dikerjakan jika ada orang yang sangat butuh pertolongan, melalui ponsel. Meski harus selalu waspada setiap hari selama 24 jam, Juheni mengaku senang dan bangga bisa menjadi bagian dari fungsinya di masyarakat, apalagi dirinya seorang bidan.
Kisah tersebut menjadi sebuah gambaran, yang mungkin saja ada di daerah lain. Sebuah kenyataan yang memang harus dilakoni bidan-bidan, terutama bagi mereka yang bertugas di kawasan terpencil. Mereka tak lagi dianggap sebagai bidan semata, melainkan sudah seperti ‘ahli di semua bidang kesehatan dan penyakit’. Fungsi yang sebenarnya juga harus disadari pemerintah, kalau bidan juga bisa menjadi ujung tombak bagi penyampaian program pemerintah. Kedekatan dengan warga menjadi satu benefit yang tak mudah dibentuk aparat pemerintah lainnya. Bayangkan saja, seorang pegawai dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) misalnya, yang hendak mengkampanyekan penggunaan alat kontrasepsi, dan tiba-tiba datang ke kampung dengan aneka ceramah atau poster. Sudah pasti sistem komunikasi seperti tak akan efektif. Tetap saja, bidan menjadi pintu gerbang yang sangat cocok. Dia bisa langsung berkomunikasi dengan warga, baik secara langsung maupun tak langsung.
Hebatnya sistem komunikasi yang dibandung bidan-bidan sekarang juga tergolong modern dan lebih cepat untuk bereaksi. Sebut saja, sudah saatnya bidan menggunakan teknologi seperti penggunaan sarana media sosial. Cara ini tergolong aneh, tapi tidak jika pemerintah mau membantu dengan menyediakan akses internet.
Beberapa waktu lalu, kita bisa melihat sendiri kalau di sebuah kawasan di Sleman, DIY, ada desa yang mampu mengaplikasikan banyak ragam item kegiatan sosialisasi dengan menggunakan media sosial, terutama Facebook. Nantinya, jika memang sudah akses internet, tentu saja bidan-bidan di desa akan dengan sangat mudah memantau dan berkomunikasi dengan warganya.
Di sisi lain, kerja sama antara bidan desa dengan dokter yang biasanya berada di level Puskesmas juga menjadi sangat penting. Ragam program yang saling melengkapi juga bisa dilakukan. Apalagi banyak masalah utama yang masih melanda masyarakat yang tinggal di daerah dengan status terpencil atau jauh dari akses pusat kesehatan.
Di area pemenuhan kebutuhan gizi misalnya, sangat baik jika bidan desa dan atau dokter puskesmas memberikan contoh konkret. Bisa saja, mereka, tentu dibantu dengan pemerintah, berusaha untuk membangun sebuah perkebunan yang terintegrasi dengan area peternakan rakyat. Di sana, aplikasi teknologi berbasis ramah lingkungan bisa dikembangkan.
Contoh nyata misalnya, pemanfaatan limbah peternakan yang dijadikan sebagai pupuk yang digunakan sebagai penyubur kebun atau pertanian sayuran. Hal ini terbilang sederhana, tapi tak mudah untuk melakukannya. Butuh konsistensi tingkat tinggi agar semuanya bisa berjalan dengan baik.
Di level sanitasi dan penyediaan air bersih juga bisa dilakukan dengan motor dari tenaga kesehatan yang ada, terutama bidan dan dokter. Seperti yang ada di daerah Setonggeng, Karimun, Kepulauan Riau. Dokter dan bidan di sana, bekerja keras untuk memberikan kesadaran pada masyarakat agar air bersih dan sistem sanitasi terjaga baik. Mereka misalnya, mencari sumber mata air yang berada di tengah perkampungan. Terasa sulit, karena memang karakter air di sana berwarna merah. Setelah ketemu, lalu dibuat tempat khusus agar tak menjadi bahan rebutan, yang bisa saja semua orang masuk ke penampungan tersebut untuk mencuci atau mandi.
Meski awalnya berat, kini usaha keras mereka berhasil. Pulau yang tadinya sebagian besar masyarakatnya harus merasakan mandi dengan air berwarna merah dan keruh, kini sudah berada di level kesehatan yang lebih baik. Mereka sudah memiliki sumber penampungan air bersih, meski saluran dari rumah ke rumah belum tersambung sepenuhnya. Namun setidaknya peran bidan dan dokter yang ada di sana lebih dari sekadar memeriksa dan memberi obat orang sakit.



Saat Tak Lagi Harus ke Kebun
October 30, 2014, 6:52 pm
Filed under: Uncategorized

sumber : www.kaskus.co.idLANGKAH untuk melakukan perubahan harus dilalui dengan jalan terjal. Tak mudah, meski tujuannya sangat baik : demi kemaslahatan seluruh masyarakat. Aneka adangan menjadi hal lumrah. Itulah yang menjadi pilihan bagi Juweni, Cahayani, Nur Khasanah, Saraswati, juga Triana Wulandari.
Nama-nama itu bisa dibilang sosok pengubah yang membuat area sekitar mereka menjadi lebih baik lagi, terutama dari sisi sanitasi lingkungan. Bagaimana tidak, sebelum mereka datang dan memulai kampanye kesehatan lingkungan, apa yang mereka lihat di depan mata adalah ‘seonggok’ daerah yang tinggal menunggu waktu untuk menjadi sarang penyakit.
Yup, deretan nama tersebut adalah barisan bidan desa yang rela bergerak aktif, menembus batas kewajibannya sebagai pelayan kesehatan bagi ibu dan anak. Apa yang mereka kerjakan menjadi bagian dari kreasi hebat, ketika menghadapi sebuah kondisi tak ideal di tengah pekerjaan wajib.
Juweni misalnya, seorang bidan yang bekerja di sebuah desa di pelosok pegunungan di perbatasan Kabupaten Pekalongan dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Saat kali pertama datang pada awal tahun 2005-an, ia dihadapkan pada kenyataan pahit : masyarakat yang nyaris tak peduli pada kesehatan lingkungan di sekitar mereka. Kehidupan tradisional masih ‘dipelihata’, meski di luar sana ragam corak modern sudah menjadi ciri khas.
Bayangkan saja, ‘boro-boro’ memeriksakan kondisi kesehatan diri sendiri, warga justru mengundang penyakit makin dekat ke lingkungan rumah mereka. Contoh nyata, nyaris tak ada fasilitas untuk buang air besar. Mereka masih mengandalkan ‘kearifan alam’ yang memberikan ruang begitu besar untuk sarana buang hajat. Ya, kebun atau pekarangan belakang rumah menjadi tempat bagi mereka untuk buang air besar!
Tak hanya Juweni, pengalaman serupa juga dialami Cahayani, seorang bidan yang bertugas di Pulau Lasondre, Nias Selatan. Kali pertama menjejakkan khaki, ia langsung disuguhi pemandangan tak sedap, terutama di beberapa titik yang ada di area pinggir pantai. Kebun masih menjadi sarana yang mungkin saja dianggap nyaman oleh beberapa warga untuk buang air besar.
Nur Khasanah, Saraswati dan Triana juga mengalami kondisi serupa saat masuk ke wilayah yang pertama kali mereka datangi sebagai area tugas dengan status bidan desa. Mereka menyadari kondisi sanitasi menjadi satu masalah besar, selain kekurangan gizi bagi balita dan tak ada ruang pemeriksaan bagi ibu hamil.
“Kalo ingin memilih, setiap orang pasti ingin bertugas di daerah perkotaan. Tapi kalau semua berpikir ke arah itu, siapa yang akan memerhatikan daerah tertinggal yang sepi dan susah aksesnya. Apalagi di wilayah kerja saya, sanitasi menjadi masalah dan kebiasaan yang tak boleh disepelekan,” itu kata Maria Marta Sori, yang bertugas di Desa Liwo, Mananga, Flores Timur.
Seperti menjadi kesepakatan, deretan bidan-bidan desa nan energik tersebut mengumpulkan segenap konsentrasi, berpikir keras dan mulai merencanakan sebuah langkah besar. Bukan tugas mudah tentunya, karena yang mereka hadapi adalah kebiasaan dan tradisi yang mengakar. “Mereka berpikir, selama ini ‘fine-fine’ saja dengan apa yang mereka lakukan. Buktinya, mereka masih bisa sehat sejak kecil. Sebuah alasan yang memang ada faktanya, tapi saya pikir tak sesederhana itu,” kata Cahayani.
Akhirnya, seperti apa yang dilakukan Juweni, ia melakukan pendekatan dengan memberi contoh terlebih dulu. Caranya pun terbilang unik, kalau boleh dibilang berani. Setelah melakukan survei di beberapa titik di area desa tempatnya bertugas, ia memilih satu area. Uniknya, ia menentukan lokasi itu, yang berdekatan dengan sebuah kebun yang biasa digunakan pemiliknya untuk membuah hajat besar.
Berbekal empat penduduk desa yang diminta membantu, ia mulai mengeduk tempat pembuangan kotoran besar, yang disebut ‘jumbleng’ atau jamban. Cukup dalam, sekitar lima meter, lalu ditutup dengan susunan beton. Tak jauh dari jamban tersebut, ia membangun kakus sederhana, dengan bahan dari bambu. Tak lupa, ia membuat saluran pembuangan, plus kakus bermodel jongkok. Ia melengkapi dengan meminta aliran air bersih melalui selang untuk penyedia pembersih setelah buah hajat besar, atau kecil sekalipun.
Hari berikutnya, Juweni langsung memberi contoh dengan menggunakan fasilitas kakus sederhana yang dibuatnya. Awalnya tak ada reaksi, karena memang belum tersebar. Namun di hari ketiga, sudah mulai ada yang menanyakan apa yang sedang dilakukan bu bidan tersebut.
“Nah, begitu ada yang tanya, saya tak ingin kehilangan momen tersebut. Saya langsung bawa saja ke lokasi, dan menjelaskan apa yang sebenarnya saya lakukan, dan itu bisa dilakukan warga sekitar. Beruntung, yang nanya akhirnya bisa saya bujuk untuk meniru model kakus yang saya buat di rumahnya,” ungkap Juweni.
Tak membuang peluang, dalam sehari ‘piranti percobaan’ tersebut jadi. Dan mulailah kabar tersebut menyebar ke semua warga kalau ada produk baru yang membuat semuanya menjadi serba simpel, tanpa harus berlari ke arah kebun terlebih dulu. Pelan namun pasti, semua rumah warga kini sudah memiliki fasilitas jamban yang lebih memadai.
Meski terlihat lancar, namun kerikil-kerikil tajam tetap kadangkala menghampiri perjuangan Juweni. Kerap ia mendapat teror dan isu yang tak masuk akal, karena dianggap mengubah tradisi yang sudah puluhan tahun menjadi ‘ciri khas’ desa tersebut. “Saya harus sabar, dan karena sudah menjadi tekad, saya bisa melaluinya. Tentu saja saya tak melupakan tugas utama, yakni menjaga kesehatan ibu dan anak dengan ragam saluran,” ujarnya.
Justru kala berinteraksi dengan ibu-ibu, ia menemukan cara baru untuk mempercepat proses perbaikan sistem guna menjadikan sanitasi di lingkungan mereka menjadi lebih baik. Di sela-selapemeriksaan, ia selalu menyelipkan pesan agar suami-suami mereka mau membangun jamban dan kakus. Meski terdengar aneh, namun lama-kelamaan ada juga yang berhasil merayu pasangan mereka. Hal itu pula yang membuat dirinya makin bersemangat untuk menggunakan jalan lain agar sistem sanitasi bisa berjalan lebih baik lagi.
Tak berbeda jauh, Maria dan Cahayani juga menggunakan pendekatan emosional sebagai sesama wanita yang mengnginkan kondisi sehat di level sanitasi. Satu contoh yang disebutkan Maria adalah terkait kesehatan kelamin. Ia pun menggunakan semacam ancaman, terutama kondisi kotor bisa menyebabkan kanker serviks.
Cara itu terbukti ampuh, karena mereka bisa langsung memberi pengaruh besar. Rasa takut membuat kalangan ibu-ibu meminta suami-suami mereka agar membuatkan jamban dan kakus yang memadai. Setelah itu, barulah ia berani melangkah untuk merealisasikan ajak untuk memperhatikan sisi sanitas lainnya.
Beberapa hal lain yang dilakukan Cahayani terkait pemeliharaan sanitasi adalah mengajak masyarakat untuk selalu memperhatikan kesehatan badan, terutama yang melalui mulut. Alhasil, ia mengajak warga untuk selalu berusaha cuci tangan menggunakan sabun plus air bersih yang mengalir.
Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu ia pun sudah berusaha untuk memberikan informasi tentang pengelolaan air minum dan makan rumah tangga untuk memperbaiki dan menjaga kualitas air dari sumber air yang akan digunakan untuk air minum, serta untuk menerapkan prinsip higiene sanitasi pangan dalam proses pengelolaan makanan di rumah warga.
Tak hanya Cahayani, para bidan tersebut juga memberikan kreasi tersendiri untuk memastikan adanya proses serta prilaku pengamanan dan penanganan sampah rumah tangga. Hal sederhana adalah membuat tempat sampah di sekitar rumah dan beberapa titik di jalan desa. Ke depannya, kata Triana, ia ingin melakukan terobosan dengan pengolahan berbasis mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulang. “Tugas saya memang bidan, tapi setidaknya kalau memang ada kesempatan untuk memberikan jalan menambah penerimaan ekonomi warga, tak ada masalah-kan,” tukasnya.



Mereka Meninggalkan Ego Demi Masyarakat yang Sehat
October 30, 2014, 5:57 pm
Filed under: Uncategorized

PERIKSAPETANG itu, sekitar dua bulan lalu, suasana riang gembira sedang bergelayut di wajah seluruh warga Desa Lasonde, Kecamatan Pulau Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan. Meski berada di pinggiran batas negeri ini, mereka juga tak lupa untuk membuat ‘keramaian’ sebagai rasa syukur terhadap perjuangan para pahlawan kala membuat Indonesia menjadi negara merdeka. Yup, aneka perayaan Agustus-an menjadi ‘santapan ringan’ yang memberi gambaran suasana kekeluargaan.
Lalu awal bulan lalu, kondisi tak jauh berbeda terjadi lagi. Kali ini, masyarakat tidak sedang merayakan sebuah hari besar, melainkan sekadar berkumpul, bercengkerama dan berbagi cerita. Namun dengan nafas yang sama, yakni kekeluargaan. Nun jauh di sana, di sisi Timur Nusantara, tepatnya di Desa Jambu, Kecamatan Pajo, Dompu, Nusa Tenggara Barat, keceriaan yang sama juga sangat terasa. Kehangatan mereka, para keluarga dan ‘tali-temali’ tetangga, menjadi simpul sebuah ciri kawasan dengan masyarakat yang punya level kesehatan yang layak.
Hebat memang, karena keceriaan mereka hampir dirasakan secara bersama. Di tengah hiruk pikuk tindakan kekanak-kanakan wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, atau berita mengenai Menteri Susi Pudjiastuti, saat ini, mereka seolah tak memikirkan itu. Bagi masyarakat itu, suasana hati yang nyaman menjadi pilihan utama, di saat mereka harus bekerja keras membanting tulang hanya untuk mendapatkan rejeki yang digunakan untuk ‘memetik’ sesuap nasi.
Suasana santai di Lasondre dan Jambu, dua wilayah yang dianggap terbelakang, bukan tanpa sebab. Boleh saja wilayah mereka berada di titik yang mungkin saja tak ada dalam peta besar, namun soal lingkungan dan kesehatan, mereka menjadi jagonya. Tak mudah juga untuk mendapatkan kondisi seperti sekarang. Butuh pengorbanan panjang untuk memberi kesadaran pada masyarakat, juga diperlukan kerja keras bagi orang yang sangat mengerti arti kesehatan secara kompleks.
Tak hanya di dua wilayah itu saja, area lain juga bisa menjadi gambaran tersendiri, seperti apa yang terjadi diDesa Liwo, Mananga, Flores Timur. Semua memiliki satu ciri, yakni suasana kebahagiaan dengan situasi level kesehatan yang baik, bahkan terus membaik. Sekali lagi, tak mudah untuk membentuk apa yang terjadi sekarang. Butuh kerja keras, disiplin tinggi, kreatif untuk ‘menaklukkan’ situasi masyarakat plus membentuk kesadaran seperti yang terjadi sekarang. Butuh juga keberanian untuk mendobrak sesuatu yang mungkin saja di luar jangkauan si pelaku.
Tapi, semua itu terjadi berkat intensitas, dan semangat mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang lebih besar, yakni kesehatan lingkungan dan masyarakat. Hebatnya, apa yang membentuk kondisi di tiga desa percontohan tersebut, ternyata sederet anak muda, yang rela menyingkirkan sisi ‘kemeriahan hidup’. Artinya, ego itu sudah mereka buang ketika memutuskan untuk mengabdikan diri pada apa yang menjadi kewajiban mereka, yakni di sektor kesehatan.
Nama seperti Cahayani Bawaulu, Ayu Pusparini dan Maria Marta Sori, mungkin sangat asing di telinga bangsa ini. Tak terlintas juga di kepala setiap orang di negara ini, terutama yang ada di Jakarta, bagaimana ketiganya harus berjibaku menghadapi semua tantangan. Profesi mereka, sebagai bidan desa, juga bukan sumber berita yang bisa dijual kalangan media layaknya arena selebritas papan atas Indonesia yang juga mengumbar gaya hidup tak sehat, tak mendidik bahkan kadang tak jelas.
Tiga nama pendekar wanita tersebut, mungkin bisa menjadi wakil dari para bidan di desa-desa terpencil atau wilayah pulau-pulau terpencil, yang tentu saja tidak semua dokter-dokter lulusan universitas mau untuk mengabdikan diri di sana.
Kembali ke suasana di Lasondre, Jambu dan Liwo. Apa yang didapat dan dirasakan warga ketiga desa tersebut tentu saja bukan langsung datang begitu saja alias tak terbentuk semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras, determinasi tinggi dan komitmen luar biasa untuk membentuk seperti yang terjadi sekarang. Dan ketiga contoh bidan desa tadi, bisa menjadi ksatria hebat bagi kalangan ibu hamil, ibu yang melahirkan, anak balita sampai lingkungan rumah yang selalu sehat.
Faktor terakhir, yakni lingkungan rumah yang sehat, dengan kata lain sistem sanitasi yang baik, telah membentuk kehidupan yang lebih sehat. Tiga bidan tadi menjadi poin terbesar di balik alasan tadi. Mereka memang bukan seratus persen orang yang mengubah wajah lingkungan Lasondre, Jambu ataupun Liwo, melainkan semua orang setuju, Cahayani, Ayu dan Maria, adalah sebagian besar dari faktor pembentuk lingkungan sehat yang mereka rasakan sekarang.
Kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat memang ditunjukkan tiga bidan desa tersebut, yang rela bertugas di area terpencil dan akses yang terbilang susah. Di Lasondre misalnya, Cahayani harus berjibaku dengan ombak besar jika ingin pergi ke pusat pemerintahan, dengan lama perjalanan minimal satu jam. Begitu juga dengan Ayu, yang tak memiliki akses transportasi 24 jam ke area sumber kesehatan. Maria?, lebih ironis lagi karena ia harus bekerja sendiri untuk menyediakan semuanya, meski itu terjadi di awal-awal saat berjuang menyadarkan masyarakat.
Hebatnya, tiga bidan tersebut ternyata tak hanya mengerjakan sesuatu yang hanya sesuai dengan ‘job description’ mereka. Jika menilik kebiasaan bidan, mereka seharusnya hanya berurusan dengan imunisasi, pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan pengobatan ringan jika ada warga yang sakit. Bahkan, jika ditarik lebih kecil lagi, para bidan tersebut sebenarnya hanya berurusan dengan ibu dan anak.
Namun, semua itu ternyata tak dilakukan tiga bidan yang menjadi contoh tadi. Selain tugas pokoknya, mereka juga berjibaku untuk terjun menyadarkan masyarakat desa tentang beragam hal. Mereka harus bekerja keras memberi pengertian terkait rumah yang sehat, sanitasi yang sesuai standar, lingkungan pembentuk suasana yang sehat, serta mengurus tetek bengek administrasi lainnya. Walhasil, mereka seperti ‘organ’ yang sanggup melakukan layanan one stop service. Sampai-sampai, mereka juga ikut terlibat aktif dalam menata lingkungan, seperti kerja bhakti dan sejenisnya.
“Bahkan tak jarang, saya pun ikut membersihkan langsung rumah warga. Kadangkala, warga juga berharap saya bisa mendesain rumah yang sehat, di mana tempat mandi, di mana tempat memasak sampai urusan meletakkan kotak obat yang memang di beberapa rumah ada,” ucap Cahayani.
Sekali lagi, semua itu tak datang dengan begitu saja. Bagi Cahayani, yang mendapatkan pendidikan formal di Akademi Kebidanan Ika Bina Labuhan Batu, Sumatera Utara, awal datang ke Lasondre membuatnya nyaris tak betah. Namun, karena memang itu menjadi pilihannya untuk mengabdikan diri pada masyarakat, semua dijalaninya dengan kemantapan hati. Semua yang ada sekarang adalah buah dari perjuangan sejak tahun 2011, sebuah langkah yang penuh kenangan pahit dan manis, dan membuatnya sempat lupa untuk berpacaran layaknya anak remaja lainnya!
“Dua malam pertama saya menangis, karena kondisinya memang sulit. Saya kurang diterima oleh warga, juga kepala suku, apalagi saya perempuan muda yang dianggap tak bisa berbuat apa-apa. Hal itu membuat mental saya hampir ambruk. Namun, semua itu dikuatkan dengan semangat, bukan untuk saya, tapi demi kepentingan mereka juga,” tutur Cahayani.
Ia bercerita, kegamangan dan ketidakpercayaan warga desa sangat beralasan. Karena, di tempat mereka ternyata sudah 12 tahun tak pernah ada lagi petugas kesehatan dari pemerintah yang menetap di sana secara permanen. Sudah ada beberapa yang mencoba bertahan, tapi paling lama hanya tiga hari berada di Lasondre.
Maklum, awal bekerja, di Lasondre tak ada infrastruktur yang memadai untuk upaya atau tindakan kesehatan. Sebut saja misalnya gedung atau rumah khusus untuk tenaga kesehatan yang tinggal di sana. Cahayani mengungkapkan, saat kali pertama datang pada 2011, dia tak menemukan gedung pemerintah yang berkategori layak pakai untuk digunakan untuk operasional sehari-hari. Ia hanya menemukan satu gedung yang tak sesuai dengan standar kelayakah rumah. “Hanya tinggal dinding saja yang belum runtuh. Selebihnya, seperti lantai dan atap, sudah pecah serta tak berbentuk. Saya berinisiatif untuk membenahi sendiri,” terangnya.
Proses perbaikan juga tak berjalan mulus, karena ia harus menyisihkan gajinya yang tak seberapa untuk membeli material dan menggaji tukang. Kini, saat semuanya sudah lebih baik, rumah yang menjadi tempat kerja Cahayani, menjadi satu lokasi favorit untuk sekadar berkumpul antarwarga. Belum selesai, karena dari dulu sampai sekarang, ia harus menerima beban biaya transportasi sendiri, tanpa bantuan dari pemerintah. Mungkin karena kesibukannya itu pula, sampai-sampai ia tak bisa menerima ‘pinangan’ beberapa pria yang telah mendekatinya. “Lucu memang, tapi sepertinya tak ada kesempatan untuk berpacaran atau menjalin cinta. Di alam pikiranku, saya harus memastikan terlebih dulu kalau warga dan lingkungannya selalu sehat,” ucapnya, sembari tersenyum getir, mungkin karena seringkali melihat teman-teman lainnya yang hidup di kota, sudah berpacaran dan bersenang-senang.
Kini, kondisi rumah yang juga tempatnya berjaga, memang sudah lebih baik. Setidaknya, menurut Cahayani, kini sudah ada meja dan lemari baru hasil sumbangan dari pemerintah, yang mungkin saja sudah mendapatkan laporan terkait kerja keras bidan muda ini.
Kini, setelah semuanya berjalan, kegiatan rutin yang dilakukannya adalah Posyandu dan imunisasi. “Dulu, sama sekali tak ada yang datang untuk melakukan imunisasi. Butuh waktu setahun untuk memberi pengertian warga. Hasilnya, sekarang mereka malah kadang menagih kapan waktu imunisasi,” sergahnya.
Saking giatnya bekerja, Cahayani mengaku hampir meninggal dunia. Ceritanya, ia jatuh sakit dan di desa tersebut tak ada yang berani untuk mengantarkan ke rumah sakit karena terhalang kondisi alam. Saking parahnya, ia merasa sudah meninggal dunia. Bahkan, warga desa sudah bertangisan kala melihat kondisi fisiknya yang terus melemah. Tapi keajaiban datang, dan akhirnya bisa melewati saat-saat kritis tersebut.
Apa yang dialami Cahayani tak berbeda jauh dengan kisah Ayu Pusparini. Godaan kota Denpasar yang menawarkan pekerjaan dengan gaji besar, plus kesempatan untuk menjadi remaja yang normal, rela ditinggalkannya. Ia justru memilih meneruskan sekolah ke jurusan kebidanan, dan tak tinggal di ibukota provinsi Bali tersebut. Hal yang mungkin dianggap aneh, karena jika bertahan di kota pariwisata itu, tentu saja penghasilan lebih besar.
Nyatanya, panggilan jiwa untuk berguna bagi masyarakat di desanya lebih besar. Walhasil, Jambu menjadi wilayah yang menjadikannya sebagai bidan desa. “Namun sepertinya panggilan jiwa untuk ke Dompu lebih kuat. Saya lalu berpikir untuk menanggalkan kesenangan di Bali. Kalau menuruti pikiran mudaku, jelas ini salah. Tapi, rasa pengabdian mengalahkan segalanya,” tutur Ayu.
Ia sadar, apa yang didapat sekarang menjadi buah manis atas beberapa pengorbanan hidupnya. Satu contoh adalah saat ia harus meninggalkan Denpasar, Bali hanya untuk mengabdikan diri menjadi seorang bidan desa, di Desa Jambu, Kecamatan Pajo, Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Meski berada di desa sendiri, bukan berarti langkah Ayu menjadi lebih mudah. Ia harus berjibaku dengan kondisi masyarakat, lingkungan dan tradisi, yang tak menguntungkan. Namun dengan modal kesadaran, juga determinasi untuk menyehatkan lingkungan desanya sendiri, semua beban menjadi ‘hiburan’.
Ayu mengaku harus memberi contoh bagaimana cara hidup sehat, yang secara teknis sebenarnya bukan tugas utamanya sebagai bidan. Berbekal ketelatenan, akhirnya ia bisa memberikan banyak solusi untuk menciptakan lingkungan dan masyarakat yang sehat.
“Bukan tugas mudah memang, tapi saya menikmatinya. Sekarang, hasil jerih payah saya sudah mulai terlihat, setidaknya lingkungan yang lebih nyaman menjadi harapan agar generasi masa depan dari desa ini benar-benar berkualitas,” katanya.
Harapan yang sangat besar, juga realita yang kini sudah dirasakan Cahayani, menjadi bukti kalau para srikandi berprofesi bidan desa tersebut sangat berperan. Bukan tidak mungkin, apa yang mereka kerjakan akan menciptakan putra-putri terbaik dari tempat mereka bekerja, yang suatu saat berstatus pemimpin di negeri ini.



Balotelli berasal dari Altobelli
June 29, 2012, 1:37 am
Filed under: Uncategorized

ADA-ada saja yang dilakukan media Italia terkait penampilan luar biasa Mario Balotelli saat menjadi pioner bagi Italia untuk menundukkan Jerman, 2-1, di babak semi final Euro 2012, dinihari tadi.
Calciomercato.it dan Sky.it, secara khusus mengulas tentang beberapa legenda Italia yang berhasil menghancurkan mimpi Jerman dalam sebuah turnamen besar setingkat Piala Eropa dan Piala Dunia.
Hasilnya, ditemukan hal unik, yakni nama Alessandro Altobelli. Legenda Inter Milan ini tidak main-main, karena ikut serta menghancurkan Jerman di final Piala Dunia 1982, di Spanyol, dengan skor 3-1.
Utak punya utik, ternyata huruf penyusun Altobelli, jika dirancang ulang, akan membentuk nama Balotelli. “Tentu ini sebuah kebetulan saja, tapi bagaimanapun saya seperti mendapatkan takdir itu. Unsur-unsur di huruf pembentuk Altobelli, ternyata memang bisa dibuat untuk mendapatkan nama Balotelli. Sangat susah mencari padanan seperti itu di dunia, dengan lawan yang sama. Tentu saja ini seperti takdir yang memertemukanku dengan Balotelli,” kata Alessandro Altobelli.
Apa yang terucap dari mulut Altobelli memang benar. Unsur pembentuk namanya, A-L-T-O-B- L-L-I, jika disusun ulang memang membentuk nama B-A-L-O-T-E-L-L-I.
Mungkin terasa ganjil karena ada unsur klenik, tapi itulah yang diprediksi membuat Balotelli mampu mencetak gol ke-3 dan 4, sepanjang ia membela timnas Italia.
Tanah Polandia juga memberinya banyak keuntungan. Gol perdananya bagi pasukan Biru juga terjadi di Polandia, tepatnya di Stadion Miejski, Wroclaw, saat ia menuai satu gol dalam kemenangan 2-0 atas tuan rumah. Gol ke-2 juga lahir di Polandia, tepatnya di Poznan, pada 18 Juni lalu ke gawang Irlandia.
Artinya, empat gol yang sudah dikoleksi, semuanya tercipta di Polandia.  nurfahmi budi